Selamat Jalan (Bapak) Max Yusuf Alkadrie


Sepenggal kenangan dari kerabat yang pernah mengenal Almarhum.

MUHLIS SUHAERI

Selamat Jalan Bang Max Yusuf Alkadrie

Hari ini, ada banyak cerita duka. Ada salah satu pendiri AJI, Ging Ginanjar meninggal. Kabar terbaru, rekan, sahabat, abang: Max Yusuf Alkarie, meninggal dunia di Rumah Sakit Otak Nasional, Jakarta, pukul 11.25 WIB.

Saya biasa memanggilnya, Bang Max. Ia selalu menyebut saya, Adinde. Ia lahir 11 Januari 1949.

Bang Max dekat dengan banyak anak muda. Ia selalu mendukung kegiatan anak muda. Siapa pun itu. Tanpa memandang status sosial, etnis dan agama, anak muda itu.

Ia tipikal orang yang terbuka pada keberagaman.

Saya mengenal Bang Max, saat pindah ke Pontianak, 2005. Sebelumnya, saya tinggal, kuliah dan bekerja di Jakarta. Dia kebetulan satu organsasi dengan mertua saya, Basrin Nur Bustan di GMNI. Mertua saya, hingga akhir hayatnya, anggota PNI, dan selalu berapi-api saat bicara mengenai Sukarno. Marhaenis tulen.

Pertemuan dengan Bang Max, saat ia datang ke tempat kerja saya di sebuah media lokal di Pontianak, pada sebuah malam. Pembicaraan yang awalnya biasa, menjadi semakin seru dan akrab, saat dia bertanya tentang pandangan saya tentang beragam hal. Mulai dari profesi, media atau situasi terkini di Kalbar. Apalagi saat ia tahu, saya menantu Pak Basrin, seniornya di GMNI.

Dari Bang Max, saya jadi lebih banyak tahu, siapa itu Sultan Hamid II (1913-1978). Ia Sekretaris Pribadi Sultan Hamid II. Bang Max selalu bercerita tentang Sultan Hamid II, dan perannya dalam sejarah Kalbar dan Indonesia. Cara dia bercerita selalu bersemangat. Padahal, dalam keseharian, ia selalu kalem dan santun, saat berbicara.

Ia juga mengirim buku tentang Sultan Hamid II. Ada 4 judul buku tentang Sultan Hamid II, dikirim ke rumah.

Melalui Yayasan Sultan Hamid II yang didirikannya, dia terus berupaya, agar sejarah ‘yang telah dibelokkan’ mengenai peran Sultan Hamid II, mulai terbuka. Seperti ditulis dalam sejarah, Sultan Hamid II, diangkat sebagai Menteri Negara Zonder Porto Folio. Ia diberi tugas merancang lambang negara, dasarnya, Kepres RIS/2/1949.

Namun, Sultan Hamid II dipenjara selama 10 tahun, karena dianggap mendukung pemberontakan APRA II, Raymond Westerling, Januari 1959. Pengadilan itu tidak pernah bisa membuktikan, keterlibatan Sultan Hamid II dalam peristiwa APRA.

Tapi, sejarah terlanjur lancung. Nama Sultan Hamid II, terlanjur gelap dalam sejarah bangsa. Dan, Bang Max melalui yayasannya, sedikit demi sedikit membuka takbir itu. Sisi gelap sejarah mulai terbuka, dengan pembahasan akademik melalui seminar.

Dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk pengakuan Sultan Hamid II, sebagai perancang Lambang Negara Pancasila sudah dikirim ke pemerintah.

“Pemerintah semestinya mengangkat Sultan Hamid II sebagai Pahlawan Nasional. Sama seperti yang sudah dilakukan kepada Wage Rudolf Supratman, sang pencipta Lagu Kebangsaan Indonesia,” kata Bang Max, suatu saat, ketika bertemu dengan saya.

Saya mengamini perkataannya.

Pada 26 Agustus 2016, Mendikbud Muhajir Effendi dengan Surat Keputusan (SK) Nomor 204 Tahun 2016, menyetujui rancangan sketsa asli atau rancangan final, Elang Rajawali Garuda Pancasila, lambang negara yang sudah disposisi Presiden Sukarno, ditetapkan sebagai Cagar Budaya Tingkat Nasional.

Artinya, pengakuan untuk Sultan Hamid II sebagai Pahlawan Nasional, tinggal selangkah lagi. Namun, engkau tidak bisa menyaksikan jalan panjang dan rintisan yang sudah kau mulai tersebut.

Kini, beristirahatlah dengan tenang, Bang. Semoga, apa yang sudah engkau rintis tersebut, menemukan jalan pengakuan…

Cc Max Jusuf Alkadrie, Ratu Rizki Alkadrie, Anshari Dimyati.

2. BAMBANG BIDER

Sungguh terkejut saya membaca status beberapa teman hari ini.

Betapa tidak salah seorang tua dan tokoh kita di Kalbar telah menghadap haribaan Tuhan Yang Maha Esa. Beliau Max Yusuf Alkadrie. Salah seorang pelaku sejarah penting dan teman diskusi yang berpandangan terbuka.

Saya memanggilnya Om Max Jusuf Alkadrie dan almarhum memanggil saya Ananda. Tanggal, 16 Januari 2019 lalu almarhum sendiri masih memberi informasi terkait kondisinya melalui inbox akun FB saya.

Almarhum Om Max Jusuf Alkadrie ketika itu tahun 2004 adalah seorang Demokrat.

Bahkan beliau yang mendampingi Pak SBY ketika menerima gelar Dato Widya Negara dari kerabat Istana Kadriyah Pontianak Kalimantan Barat tahun 2004.

Pesan almarhum, jika AHY berkunjung ke Kalbar, almarhum berharap AHY dapat pula mengunjungi Istana Kadriyah.

Hanya doa tulus yang dapat saya dan keluarga panjatkan, kiranya Tuhan memberikan tempat terbaik untuk almarhum.

Selamat jalan Om Max Jusuf Alkadrie..

IRFAN RAMLI

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun,
Satu lagi senior, guru dan sahabat kita berpulang ke Rahmatullah. Selamat Jalan Pak Max Jusuf Alkadrie.

MUHAMMAD MERZA BERLIANDY

innalillahi wa innalillahi rojiun,

Selamat jalan om Max Jusuf Alkadrie, Max Jusuf ( Dewan Pembina DPP PFKPM )

semoga amal ibadah almarhum di terima Allah Swt, dan di tempatkan sebaik baik di sisi Nya,
dan keluarga yg di tinggalkan di beri ketabahan.
amin

Allahummagfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa ‘fu’anhu wakrim nuzulahu wa wasi’ madkholahu wagsilhu bilma’i watsalju wal bardi wa naqqihi minadzunubi walkhotoyaya kama yunaqqi atssaubulabyadhu binaddanasi wa abdilhu daaron khoiron min daarihi, wahlan khoyron min ahliho, wa zaujan khoyron min zaujihi waqihi fitnatalqobri wa ‘adzabi nnar.

SANGGAR KIJANG BERANTAI

Innaillah Wa Innailaihi Raji’un.
Telah berpulang ke rahmatullah Kakek sekaligus Guru/Penasehat kami tercinta atok “Max Yusuf Alkadrie” Max Jusuf —

hari ini, Senin-21 Januari 2019 sekitar jam 11.00wib siang di Jakarta.

Mohon doa, keikhlasan, dan ampunan untuk Atok kamib🙏🏼😢

cc: Yeti Alkadrie

MAROTE ISMAIL

Nama Om Max tidak begitu asing bagiku. Bahkan sebelum bergabung dengan Pontianak Post di awal 2003 dulu. Namun aku baru benar-benar bertemu muka dengan Beliau sekitar pertengahan 2006. Saat itu, sedang berlangsung Musyawarah Wilayah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Hotel Kapuas Palace Pontianak. Aku yang kala itu sedang melakukan kegiatan peliputan, tidak menyadari kehadiran Beliau di arena musyawarah tersebut. Hingga akhirnya salah seorang redakturku yang juga pengurus PPP Kalbar, Oka Holdi Bulhasan, mendatangi seorang lelaki parohbaya berkepala pelontos dan berkaca mata di sekitar lobi hotel. Dia begitu menghormati lelaki berpenampilan sederhana tersebut. Tak hanya menyapanya, dia juga menyalami serta mencium tangan lelaki yang didatanginya itu. Kudekati redakturku tersebut, kemudian bertanya kepadanya dengan nada berbisik.
“Siape Beliau Pakji?” tanyaku.
“Om Max, tak kenalkeh kau?” tanya dia kembali.
“Alamak, tak tau saye, mane saye pernah ketemu dengan Beliau Pakji,” belaku.
Sejurus kemudian, aku pun mendatangi lelaki dimaksud. Kusalami dan kucium tangannya, sebagaimana yang dilakukan redakturku.
“Siape ni Di?” tanya dia kepada redakturku.
“Ote Om, wartawan kite, kebetolan die ni wartawan politik,” jelas dia kepada lelaki tua tersebut. Sementara aku hanya tersenyum sambil sedikit menundukkan kepala kepada lelaki yang kemudian kukenal sebagai Om Max tersebut.
“Minta nomor kau te,” ucap Om Max kepadaku.
“Siap Om,” ujarku sambil menyebutkan nomor narahubungku ketika itu. Dia kemudian melakukan panggilan terputus ke nomorku.
“Itu nomor saye ye, kau simpan,” ucap dia kemudian.
“Siap Om,” kataku lagi.
Selepas pertemuan tersebut, aku menjadi lebih sering berkomunikasi dengan Beliau. Beliau kerap memberikan informasi yang bisa kugarap untuk dijadikan berita. Atau mengkritisi beberapa penulisanku, terutama menyangkut hal-hal mengenai cerita dalam lingkup Kesultanan Kadriah Pontianak. Maklum, Beliau juga merupakan bagian dari Keluarga Besar Kesultanan Pontianak, bergelar Pangeran Jaya. Bahkan, Beliau merupakan sekretaris pribadi Sultan Hamid II.
Satu cita-cita Beliau yang sampai hari ini belum berhasil terwujud. Yakni menjadikan Sultan Hamid II diakui sebagai pahlawan nasional oleh negara. Cita-cita yang dibawa Beliau hingga akhir hayatnya. Hingga Allah SWT memanggilnya siang ini, menghadap-Nya. Lelaki enerjik tersebut pergi memenuhi panggilan-Nya.
Semoga cita-cita itu tak ikut terkubur bersama Beliau. Selamat jalan Om Max Jusuf Alkadrie. Selamat jalan…

Untuk Om Max Jusuf Alkadrie yang wafat di Jakarta siang ini, 21 Januari 2019, Alfatehah…