Dampak Positif Pengembangan Desa Wisata


image

Wisata Alam Bendungan Madi, Kecamatan Lumar

UTUSAN RAKYAT, Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) akan mengoptimalkan pengembangan desa wisata. Menteri Desa PDTT Marwan Jafar menyatakan, setiap desa didorong untuk menggali dan mengembangkan potensi wisatanya masing-masing, seperti keindahan alam yang dimiliki, keragaman budaya serta tatanan kehidupan masyarakatnya. Continue reading

*Desa Wisata || NTT Targetkan 273 Terbentuk Desa Wisata 2018


UTUSAN RAKYAT, Kupang – Gubernur Nusa Tenggara Timur, Frans Lebu Raya menargetkan pada 2018 akan mencapai 273 desa wisata sebagai realisasi komitmen pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat NTT, khususnya yang ada di pedesaan.

“Terkait perkembangan pariwisata di daerah NTT, Gubernur Frans Lebu Raya ketika pada periode kedua (2013-2018) desa wisata di NTT akan ditingkatkan menjadi 273,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parektif) NTT, Marius Ardu Jelamu, di Kupang, Sabtu (2/4/2015). Continue reading

*Desa Wisata || Pemkab dan Pemkot Diminta Pro Aktif


UTUSAN RAKYAT, Kudus – Pemkab dan Pemkot diminta mendukung pengembangan desa wisata di daerah masing-masing. Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jateng Toto Riyanto mengatakan ada 125 desa masuk kategori desa wisata dan 250 desa sebagai rintisan desa wisata.

“Bantuan yang diberikan Pemprov Jateng bersifat stimulan dengan harapan pemda setempat juga ikut mendukung pengembangan desa wisata didaerahnya,” katanya seusai pertemuan Forum Komunikasi Desa Wisata se-Jateng di Puri Colo Kudus, Rabu (18/3/2015). Continue reading

FOTO NYABAKNG NITI PADE BAHU, Dusun SEJARIK BAYA, Desa RODAYA, KECAMATAN LEDO


Bupati Bengkayang bersama Istri berfoto bersama warga Sejarik Baya.

Bupati Bengkayang bersama Istri berfoto bersama warga Sejarik Baya.

Sesajian yang dipersembahkan bagi roh leluhur dengan harapan agar usaha pertanian mendapat berkat dimasa mendatang.

Sesajian yang dipersembahkan bagi roh leluhur dengan harapan agar usaha pertanian mendapat berkat dimasa mendatang.

Desa Wisata Kalbar 1

Sesajian yang dipersembahkan bagi roh leluhur.

Sesajian yang dipersembahkan bagi roh leluhur.

Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot dan Istri berfoto bersama warga Baya.

Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot dan Istri berfoto bersama warga Baya.

Alat kesenian tradisional

Alat kesenian tradisional

Panyugu

Panyugu

*Kunjungan Wisman ke Kalbar Menurun


Penyerahan Cendramata

Penyerahan Cendramata

Sekretaris Daerah Provinsi Kalbar, M. Zeet Hamdy Assovie secara resmi membuka acara Rapat Koordinasi Teknis (RAKORNIS) Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif se-Kalimantan Barat Tahun 2015, Kamis (12/3). Dalam kegiatan yang digelar selama tiga hari hingga Sabtu dan diikuti 100 peserta tersebut, Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot, M.Pd mengatakan Continue reading

Potensi Wisata Bengkayang Perlu Promosi


Oleh : JAMLI

KALBAR TIMES – BENGKAYANG

Promosi potensi pariwisata Kabupaten Bengkayang belum berjalan efektif karena tidak didukung dengan informasi yang benar dan sehat melalui berbagai media informasi seperti pemasangan baliho di obyek wisata atau di batas wilayah.

Ia mengatakan pariwisata daerah ini tidak akan membuahkan hasil yang maksimal tanpa dukungan informasi massal seperti pemasangan baliho yang bisa menjadi petunjuk bagi wisatawan tentang obyek wisata daerah ini Saat berada di wilayah perbatasan kabupaten Bengkayang.

“Wisatawan bisa memperoleh petunjuk tentang obyek wisata melalui Continue reading

BALUK & NYOBENG (the little information)


Oleh : KRISANTUS

Baluk merupakan suatu bangunan yang bentuk, struktur, fungsi, ragam hias dan cara membuatnya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, serta dapat dimanfaatkan sebagai tempat tertentu untuk melaksanakan aktivitas kehidupan.

Baluk : Rumah Adat Dayak Bidayuh, Kecamatan Siding

Baluk merupakan rumah adat suku dayak Bidayuh yang sangat berbeda bentuknya dari rumah adat suku-suku dayak lainnya khususnya yang berada di Kalimantan Barat dan umumya suku-suku dayak yang berada di Pulau Kalimantan.

Rumah Adat Baluk ini terletak di Kecamatan Siding desa Hli Buei dusun Sebujit, jarak dari Ibukota Bengkayang ± 134 KM, dapat ditempuh dengan menggunakan motor air selama ± 2 jam ( 15 PK ). Rumah Adat ini gunakan oleh masyakat Suku Dayak Bidayuh dalam acara ritual tahunan (nibak’ng) yang dilaksanakan setiap tanggal 15 Juni, setelah usai musim menuai padi dan untuk menghadapi musim penggarapan ladang tahun berikutnya.

Miniatur Rumah Baluk, Salah Satu Cinderamata Dari Bengkayang

Berbentuk bundar, berdiameter kurang lebih 10 meter dengan ketinggian kurang lebih 12 meter dan disanggah sekitar 20 tiang kayu dan beberapa kayu penopang lainnya serta sebatang tiang digunakan sebagai tangga yang menyerupai titian. Ketinggian ini menggambarkan kedudukan atau tempat Kamang Triyuh yang harus dihormati.

Baluk oleh Suku Dayak Bidayuh digunakan sebagai tempat penyimpanan tengkorak yang dikeramatkan dibumbung rumah adat dan melaksanakan ritual Ni’bakng/Nyobeng. Biasanya ritual tersebut dilaksanakan pada tanggal 15-17 Juni.

Nyobeng adalah kegiatan Ritual Suku Dayak Bidayuh di daerah Sebujit desa Hlibeui Kecamatan Siding telah dilakukan secara turun temurun merupakan upacara adat Hliniau yaitu upacara adat permohonan berkat, sejahtera, kedamaian, ketentraman dan lain-lain namun upacara adat budaya ini hanya diperuntukan bagi kaum pria sedangkan bagi kaum wanita adat budaya tersebut dinamakan Nambok. Kedua jenis adat budaya ini merupakan upacara adat baluk dan adat padi.

Kekayaan Khasanah Budaya Suku Dayak di Kalimantan

Dalam melakukan permohonan ini diikuti pula dengan acara memandikan tengkorak yang merupakan barang pusaka peninggalan dari nenek moyang yang harus mereka jaga dan hormati, selain itu secara psikhis tujuan dari memandikan tengkorak tersebut agar masyarakat mendapatkan berkat dan kekuatan karena tengkorak yang dimandikan merupakan hasil mengayau (pemotongan kepala disaat melakukan peperangan) yang terjadi pada zaman nenek moyang, tengkorak tersebut merupakan tengkorak musuh yang berstatus sebagai pimpinan atau panglima perang pada masa itu.

Kegiatan ini merupakan gambaran jiwa dimiliki Suku Dayak Bidayuh untuk menghormati atau menghargai titipan leluhur walaupun tengkorak tersebut merupakan tengkorak musuh hasil mengayau (perang mencari kepala manusia) pada zaman dahulu.