Hanya Bisa Ditempuh Melalui Udara dan Jalan Kaki


Oleh : KRISANTUS VAN SEBOL

Bengkayang (Kalbar Times) – Desa Sungkung I, II dan III merupakan salah tiga desa paling utara di Kabupaten Bengkayang dan berada dekat dengan perbatasan RI-Malaysia. Berada dibawah kaki Gunung Sunjang, Desa ini hanya bisa ditempuh melalui pesawat Cessna yang hanya mampu mengangkut 12 orang, serta berjalan kaki. Tak berlebihan, karena memang selama ini yang tersirat dalam pikiranku, Sungkung merupakan salah satu daerah yang masih tradisional. Jauh dari segala jenis kemajuan. Anggapan tersebut semakin menguat ketika kami, Saya dan Egarius, legislator Bengkayang memulai perjalanan menuju Sungkung III pada hari Rabu, (15/8) yang lalu. Continue reading

Egarius Minta Warga Sungkung Utamakan Pendidikan


Oleh : KRISANTUS VAN SEBOL

Sungkung

Upacara HUT RI Ke-67 di Desa Sungkung III

Bengkayang (Kalbar Times) –
Terletak dibawah kaki Gunung Sunjang dan hanya bisa dijangkau melalui transportasi udara serta berjalan kaki dari Siding (Bengkayang), Engkadik (Landak) dan Suruh Tembawang (Sanggau Kapuas) Desa Sungkung I, II dan III, Kecamatan Siding, Bengkayang cukup membuat proses pembangunan didaerah tersebut berjalan lambat. Akses mencapai Namun demikian, satu-satunya anggota DPRD Bengkayang dari Desa Sungkung III, Egarius meminta bahkan menekankan kepada masyarakat setempat agar tidak berpangku tangan atau menanti pihak lain dalam memajukan Sungkung. Salah satu terobosan penting yang mesti dilakukan masyarakat menurut Egarius adalah dengan mengedepankan pendidikan. Continue reading

Sibakng Bengkayang Masuk Rekor MURI


Oleh : KRISANTUS

Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot menerima Piagam Pemecahan Rekor MURI Beduk Terpanjang pada 31 Desember 2010

Kekayaan seni dan budaya kabupaten Bengkayang, khususnya Sibakng (Beduk) yang berasal dari Masyarakat Dayak Bidayuh kembali mengharumkan nama Bengkayang ditingkat Nasional. Bagaimana tidak, setelah Rumah Adat, Baluk menempatkan diri di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), tahun 2010 ini, tepatnya pada malam pergantian tahun (31/12/10), kekayaan seni dan budaya Dayak Bidayuh ini kembali menempatkan diri sebagai pemecah rekor beduk terpanjang se-Indonesia. Adapun panjang beduk tersebut yakni 20.50 Meter dan berdiameter 1.6 Meter.

Menurut Kepala Seksi Kesenian Tradisional dan Modern Dinas Budparpora Bengkayang, Ricky H. Silalahi menyebutkan, pemecahan rekor itu sendiri setelah pihaknya, mendapat penghargaan dari pihak MURI yang diwakilkan kepada Desi Dwi Anestia Putri. Penghargaan itu sendiri langsung diserahkan kepada Continue reading

Bupati Bengkayang Akui Banyak Warganya Belajar di Malaysia


Oleh : KRISANTUS & Y. CAHYONO.

Butuh Pengorbanan Untuk Mencintai Indonesia

Meski anggaran pendidikan dalam APBN telah ditetapkan sebesar 20 persen, namun hal itu belum memberi pengaruh signifikan bagi dunia pendidikan didaerah perbatasan seperti di Bengkayang. Faktanya, tak sedikit generasi muda di Bumi Sebalo yang menimba ilmu di Negeri Jiran, Malaysia.

Hal ini diakui Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot dalam ramah tamah dengan Anggota Komisi X DPR-RI, Kamis (2/12) di Hotel Lala Golden, Bengkayang. Komisi X DPR-RI merupakan komisi yang membidangi pendidikan, pemuda, olahraga, pariwisata, kesenian dan kebudayaan.

Minimnya sarana dan prasarana pendukung dalam pengembangan dunia pendidikan didaerah ini menjadi salah satu pokok permasalahan yang menyebabkan pilihan warga Bengkayang untuk mengenyam pendidikan di Kuching, Malaysia yang dianggap jauh lebih menunjang.

Cinta Indonesia atau Malaysia

Dihadapan Anggota DPR-RI, Gidot mengatakan sampai saat ini sekolah-sekolah yang ada di Bengkayang masih banyak yang belum ditunjang dengan ruang kelas yang memadai, perpustakaan, perumahan guru, laboratorium dan beberapa hal tekhnis lainnya. Sementara untuk mengatasi hal tersebut daerah belum ditunjang dengan anggaran yang mencukupi. Dana Alokasi Khusus (DAK) pendidikan misalnya, Gidot menyebutkan DAK yang diterima daerah ini dari pemerintah pusat masih jauh dari harapan.

“Seharusnya kita malu dengan mereka (Malaysia), sebagai beranda terdepan di Indonesia dalam hal pendidikan kita kalah jauh dengan Malaysia,” ungkap Gidot.

Padahal, menurutnya, bila dunia pendidikan di Bengkayang menjadi perhatian khusus pemerintah pusat, Ia berkeyakinan lima tahun mendatang keadaan akan menjadi terbalik, dimana akan banyak warga negeri jiran yang menuntut ilmu di daerah ini. Berkaitan dengan kedatangan anggota DPR-RI itu pula, Gidot berharap agar para wakil rakyat tersebut dapat membawa aspirasi yang disampaikan guna diperjuangkan hingga terealisasi. Apalagi hal ini merupakan upaya pembangunan daerah perbatasan.

Terkait apa yang disampaikan Bupati Bengkayang tersebut, Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Bengkayang, Paulus Anwardi mengakui bila pembangunan dunia pendidikan didaerah ini masih banyak kekurangan, sehingga kekurangan ini pulalah yang menjadi salah satu faktor utama ketertinggalan Bengkayang dengan daerah lain yang ada di Kalbar.

Dapat dibayangkan, Paulus Anwardi menyebutkan, hingga saat ini di Kecamatan Siding masih belum memiliki Sekolah Menengah Atas (SMA) ataupun Taman Kanak-kanak (TK), sedangkan di Kecamatan Jagoi, masih belum memiliki TK. Setakat ini yang sudah dimiliki lengkap kedua Kecamatan yang berbatasan langsung dengan Malaysia itu, yakni SD dan SMP.

Sementara itu, terkait keinginan Pemda Bengkayang agar memiliki SMK Terpadu bagi daerah perbatasan, Ketua Rombongan Komisi X DPR-RI, H. Zulfadhli, meminta agar Bupati Bengkayang dapat memberikan bahan kepada Komisi X DPR RI sebagai bahan laporan ke pusat untuk merealsiasikan SMK unggulan di Bumi Sebalo. Karena ada dana hibah dari luar negeri untuk pendidikan. Sedangkan pembangunan GOR, akan disampaikan kepada Menpora .

“Yang terpenting, berikan info yang secukupnya dan bahan yang lengkap karena ini sudah tepat waktunya, apalagi anggaran sudah ditetapkan tinggal menunggu rapat DIPA lagi,” jelasnya.

Menurutnya, bila aspirasi daerah disampaikan dengan disertai data dan informasi yang lengkap maka akan mempermudah pihaknya di DPR memperjuangkan aspirasi tersebut.

“APBN 2011 sudah ditetapkan sekarang tinggal membahas DIPA pada awal tahun depan. Sekarang kami sedang berjuang untuk masukan dari daerah-daerah. Supaya pendidikan di daerah perbatasan maju, sesuai dengan program pemerintah ialah untuk meningkatkan pendidikan di daerah perbatasan, pulau-pulau kecil dan pulau terluar di Indonesia,” tandas mantan Ketua DPRD Kalbar 2004-2009 itu.

BALUK & NYOBENG (the little information)


Oleh : KRISANTUS

Baluk merupakan suatu bangunan yang bentuk, struktur, fungsi, ragam hias dan cara membuatnya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, serta dapat dimanfaatkan sebagai tempat tertentu untuk melaksanakan aktivitas kehidupan.

Baluk : Rumah Adat Dayak Bidayuh, Kecamatan Siding

Baluk merupakan rumah adat suku dayak Bidayuh yang sangat berbeda bentuknya dari rumah adat suku-suku dayak lainnya khususnya yang berada di Kalimantan Barat dan umumya suku-suku dayak yang berada di Pulau Kalimantan.

Rumah Adat Baluk ini terletak di Kecamatan Siding desa Hli Buei dusun Sebujit, jarak dari Ibukota Bengkayang ± 134 KM, dapat ditempuh dengan menggunakan motor air selama ± 2 jam ( 15 PK ). Rumah Adat ini gunakan oleh masyakat Suku Dayak Bidayuh dalam acara ritual tahunan (nibak’ng) yang dilaksanakan setiap tanggal 15 Juni, setelah usai musim menuai padi dan untuk menghadapi musim penggarapan ladang tahun berikutnya.

Miniatur Rumah Baluk, Salah Satu Cinderamata Dari Bengkayang

Berbentuk bundar, berdiameter kurang lebih 10 meter dengan ketinggian kurang lebih 12 meter dan disanggah sekitar 20 tiang kayu dan beberapa kayu penopang lainnya serta sebatang tiang digunakan sebagai tangga yang menyerupai titian. Ketinggian ini menggambarkan kedudukan atau tempat Kamang Triyuh yang harus dihormati.

Baluk oleh Suku Dayak Bidayuh digunakan sebagai tempat penyimpanan tengkorak yang dikeramatkan dibumbung rumah adat dan melaksanakan ritual Ni’bakng/Nyobeng. Biasanya ritual tersebut dilaksanakan pada tanggal 15-17 Juni.

Nyobeng adalah kegiatan Ritual Suku Dayak Bidayuh di daerah Sebujit desa Hlibeui Kecamatan Siding telah dilakukan secara turun temurun merupakan upacara adat Hliniau yaitu upacara adat permohonan berkat, sejahtera, kedamaian, ketentraman dan lain-lain namun upacara adat budaya ini hanya diperuntukan bagi kaum pria sedangkan bagi kaum wanita adat budaya tersebut dinamakan Nambok. Kedua jenis adat budaya ini merupakan upacara adat baluk dan adat padi.

Kekayaan Khasanah Budaya Suku Dayak di Kalimantan

Dalam melakukan permohonan ini diikuti pula dengan acara memandikan tengkorak yang merupakan barang pusaka peninggalan dari nenek moyang yang harus mereka jaga dan hormati, selain itu secara psikhis tujuan dari memandikan tengkorak tersebut agar masyarakat mendapatkan berkat dan kekuatan karena tengkorak yang dimandikan merupakan hasil mengayau (pemotongan kepala disaat melakukan peperangan) yang terjadi pada zaman nenek moyang, tengkorak tersebut merupakan tengkorak musuh yang berstatus sebagai pimpinan atau panglima perang pada masa itu.

Kegiatan ini merupakan gambaran jiwa dimiliki Suku Dayak Bidayuh untuk menghormati atau menghargai titipan leluhur walaupun tengkorak tersebut merupakan tengkorak musuh hasil mengayau (perang mencari kepala manusia) pada zaman dahulu.