Bengkayang Dapat Bantuan Stimulan Dari Kemenpera


ilustrasi

ilustrasi


Suara Borneo Merdeka — Tahun 2015 mendatang, Kabupaten Bengkayang akan mendapatkan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dari Kementerian PU dan Perumahan Rakyat yang dialokasikan kepada 450 unit rumah milik Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). (Baca Juga : Penerima BSPS Desa Suka Bangun, Sungai Betung)

“Bantuan Kementerian tersebut digulirkan di Kecamatan Continue reading

Hanya Bisa Ditempuh Melalui Udara dan Jalan Kaki


Oleh : KRISANTUS VAN SEBOL

Bengkayang (Kalbar Times) – Desa Sungkung I, II dan III merupakan salah tiga desa paling utara di Kabupaten Bengkayang dan berada dekat dengan perbatasan RI-Malaysia. Berada dibawah kaki Gunung Sunjang, Desa ini hanya bisa ditempuh melalui pesawat Cessna yang hanya mampu mengangkut 12 orang, serta berjalan kaki. Tak berlebihan, karena memang selama ini yang tersirat dalam pikiranku, Sungkung merupakan salah satu daerah yang masih tradisional. Jauh dari segala jenis kemajuan. Anggapan tersebut semakin menguat ketika kami, Saya dan Egarius, legislator Bengkayang memulai perjalanan menuju Sungkung III pada hari Rabu, (15/8) yang lalu. Continue reading

Egarius Minta Warga Sungkung Utamakan Pendidikan


Oleh : KRISANTUS VAN SEBOL

Sungkung

Upacara HUT RI Ke-67 di Desa Sungkung III

Bengkayang (Kalbar Times) –
Terletak dibawah kaki Gunung Sunjang dan hanya bisa dijangkau melalui transportasi udara serta berjalan kaki dari Siding (Bengkayang), Engkadik (Landak) dan Suruh Tembawang (Sanggau Kapuas) Desa Sungkung I, II dan III, Kecamatan Siding, Bengkayang cukup membuat proses pembangunan didaerah tersebut berjalan lambat. Akses mencapai Namun demikian, satu-satunya anggota DPRD Bengkayang dari Desa Sungkung III, Egarius meminta bahkan menekankan kepada masyarakat setempat agar tidak berpangku tangan atau menanti pihak lain dalam memajukan Sungkung. Salah satu terobosan penting yang mesti dilakukan masyarakat menurut Egarius adalah dengan mengedepankan pendidikan. Continue reading

Masyarakat Desa Kalon Minta Pembangunan Jalan


Oleh : KRISANTUS VAN SEBOL

SELUAS, KALBAR TIMES –

Perbatasan RI-Malaysia

Kades Kalon, Bius (kiri) dan Sekdes, Ramli (kanan)

Berada jauh dari kota Kecamatan, masyarakat Desa Kalon, Kecamatan Seluas meminta agar Pemda Bengkayang dapat memperhatikan daerah mereka, tidak hanya pada masalah kesehatan, tetapi juga terkait masalah pembangunan jalan dari Desa menuju kota Kecamatan. Demikian dikatakan Kepala Desa Kalon, Bius., baru-baru ini. Adapun jalan yang dilalui selama ini merupakan jalan kebun milik perusahaan sawit yang beroperasi didaerah ini, akan tetapi kondisinya tidak layak. Continue reading

Empat Tahun Berdiri, Polindes Desa Kalon Tak Berpenghuni


Oleh : KRISANTUS VAN SEBOL

BENGKAYANG, KALBAR TIMES

“Jika ada ibu hamil yang hendak melahirkan, biasanya mereka memanggil bidan kampung untuk menolong proses kelahiran,” ungkap Kades Kalon, Bius, didampingi Sekdes, Ramli, Minggu (22/7) di Dusun Senanga. Kedua perangkat desa tersebut mengeluhkan rendahnya perhatian pemerintah terhadap masalah kesehatan di desa mereka.

Keluhan itu merupakan sesuatu yang wajar, mengingat kondisi geografis desa mereka yang tidak memungkinkan untuk mengakses fasilitas kesehatan dikota Kecamatan maupun RSUD Bengkayang ini disebabkan jarak antara Desa dengan Kota Kecamatan cukup jauh, yakni sepanjang 21 Km dengan kondisi infrastruktur jalan yang rusak parah. Continue reading

Pemda Bengkayang Diminta Cari Solusi Terkait Pemasaran Bidai


Oleh : KRISANTUS

Kerajinan Tikar Bidai menjadi salah satu komoditi industri yang dapat diandalkan daerah ini bila dikelola dengan baik, namun setakat ini pemberdayaan terhadap kerajinan ini masih minim. Hal ini diungkapkan salah seorang pengrajin Bidai asal Seluas, Attah Lazarus yang meminta agar Pemda Bengkayang dapat mencari solusi dalam memberdayakan para pengrajin Bidai terutama terkait sulitnya memasarkan bidai di Indonesia (Bengkayang).

Rotan merupakan bahan baku utama Tikar Bidai disamping Tali Tuhup

Menurut Lazarus, kesulitan tersebut disebabkan beberapa hal, diantaranya minat beli masyarakat yang rendah serta harga yang cenderung rendah sehingga keuntungan yang diperolehpun tidak mampu menutup biaya produksi yang dikeluarkan. Selama ini, hampir setiap bidai yang dibuat pengrajin di Seluas dan Jagoi Babang selalu dipasarkan di Serikin Malaysia sebagai akibat mudahnya pemasaran serta harga yang lumayan tinggi. Lazarus mengatakan untuk ukuran 4×6 feet harganya RM.55, ukuran 5×7=RM.80, ukuran 6×9=RM.120-125, ukuran 7×8=RM.120-125 dan untuk ukuran 7×10 feet harganya RM.160.

Menanggapi itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Bengkayang, M. Syarief Rahman mengatakan sejauh ini Pemda Bengkayang menempatkan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Bengkayang sebagai wadah untuk menampung kerajinan tersebut kemudian dipasarkan. Hanya saja, diakuinya tikar bidai yang ditampung jarang sekali terjual akibat harga yang menurut anggapan masyarakat cukup tinggi. Sementara, para pengrajin biasanya mematok harga sesuai dengan nilai yang diperoleh ketika dipasarkan ke Serikin, Malaysia. Selain ditampung melalui Dekranasda, hasil kerajinan Bidai juga dipromosikan oleh Pemerintah melalui berbagai event, seperti pameran.

Bupati Bengkayang Akui Banyak Warganya Belajar di Malaysia


Oleh : KRISANTUS & Y. CAHYONO.

Butuh Pengorbanan Untuk Mencintai Indonesia

Meski anggaran pendidikan dalam APBN telah ditetapkan sebesar 20 persen, namun hal itu belum memberi pengaruh signifikan bagi dunia pendidikan didaerah perbatasan seperti di Bengkayang. Faktanya, tak sedikit generasi muda di Bumi Sebalo yang menimba ilmu di Negeri Jiran, Malaysia.

Hal ini diakui Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot dalam ramah tamah dengan Anggota Komisi X DPR-RI, Kamis (2/12) di Hotel Lala Golden, Bengkayang. Komisi X DPR-RI merupakan komisi yang membidangi pendidikan, pemuda, olahraga, pariwisata, kesenian dan kebudayaan.

Minimnya sarana dan prasarana pendukung dalam pengembangan dunia pendidikan didaerah ini menjadi salah satu pokok permasalahan yang menyebabkan pilihan warga Bengkayang untuk mengenyam pendidikan di Kuching, Malaysia yang dianggap jauh lebih menunjang.

Cinta Indonesia atau Malaysia

Dihadapan Anggota DPR-RI, Gidot mengatakan sampai saat ini sekolah-sekolah yang ada di Bengkayang masih banyak yang belum ditunjang dengan ruang kelas yang memadai, perpustakaan, perumahan guru, laboratorium dan beberapa hal tekhnis lainnya. Sementara untuk mengatasi hal tersebut daerah belum ditunjang dengan anggaran yang mencukupi. Dana Alokasi Khusus (DAK) pendidikan misalnya, Gidot menyebutkan DAK yang diterima daerah ini dari pemerintah pusat masih jauh dari harapan.

“Seharusnya kita malu dengan mereka (Malaysia), sebagai beranda terdepan di Indonesia dalam hal pendidikan kita kalah jauh dengan Malaysia,” ungkap Gidot.

Padahal, menurutnya, bila dunia pendidikan di Bengkayang menjadi perhatian khusus pemerintah pusat, Ia berkeyakinan lima tahun mendatang keadaan akan menjadi terbalik, dimana akan banyak warga negeri jiran yang menuntut ilmu di daerah ini. Berkaitan dengan kedatangan anggota DPR-RI itu pula, Gidot berharap agar para wakil rakyat tersebut dapat membawa aspirasi yang disampaikan guna diperjuangkan hingga terealisasi. Apalagi hal ini merupakan upaya pembangunan daerah perbatasan.

Terkait apa yang disampaikan Bupati Bengkayang tersebut, Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Bengkayang, Paulus Anwardi mengakui bila pembangunan dunia pendidikan didaerah ini masih banyak kekurangan, sehingga kekurangan ini pulalah yang menjadi salah satu faktor utama ketertinggalan Bengkayang dengan daerah lain yang ada di Kalbar.

Dapat dibayangkan, Paulus Anwardi menyebutkan, hingga saat ini di Kecamatan Siding masih belum memiliki Sekolah Menengah Atas (SMA) ataupun Taman Kanak-kanak (TK), sedangkan di Kecamatan Jagoi, masih belum memiliki TK. Setakat ini yang sudah dimiliki lengkap kedua Kecamatan yang berbatasan langsung dengan Malaysia itu, yakni SD dan SMP.

Sementara itu, terkait keinginan Pemda Bengkayang agar memiliki SMK Terpadu bagi daerah perbatasan, Ketua Rombongan Komisi X DPR-RI, H. Zulfadhli, meminta agar Bupati Bengkayang dapat memberikan bahan kepada Komisi X DPR RI sebagai bahan laporan ke pusat untuk merealsiasikan SMK unggulan di Bumi Sebalo. Karena ada dana hibah dari luar negeri untuk pendidikan. Sedangkan pembangunan GOR, akan disampaikan kepada Menpora .

“Yang terpenting, berikan info yang secukupnya dan bahan yang lengkap karena ini sudah tepat waktunya, apalagi anggaran sudah ditetapkan tinggal menunggu rapat DIPA lagi,” jelasnya.

Menurutnya, bila aspirasi daerah disampaikan dengan disertai data dan informasi yang lengkap maka akan mempermudah pihaknya di DPR memperjuangkan aspirasi tersebut.

“APBN 2011 sudah ditetapkan sekarang tinggal membahas DIPA pada awal tahun depan. Sekarang kami sedang berjuang untuk masukan dari daerah-daerah. Supaya pendidikan di daerah perbatasan maju, sesuai dengan program pemerintah ialah untuk meningkatkan pendidikan di daerah perbatasan, pulau-pulau kecil dan pulau terluar di Indonesia,” tandas mantan Ketua DPRD Kalbar 2004-2009 itu.