Empat Hal Utama Jadi Fokus Perhatian di Tiga Kecamatan


UTUSAN RAKYAT, Sungai Raya – Bupati Bengkayang, Bapak Suryadman Gidot, M.Pd memaparkan empat hal utama yang menjadi fokus perhatian dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) di Kecamatan Sungai Raya, Capkala dan Sungai Raya Kepulauan. Keempat hal tersebut, yakni masih kurangnya akses terhadap infrastruktur dasar, lemahnya pengembangan sektor ekonomi berdasarkan potensi ekonomi kewilayahan, kurangnya penataan wilayah serta pelestarian lingkungan, rendahnya kualitas SDM dan tingginya persentase kemiskinan.

Berdasarkan data yang tersedia ditahun 2017, 5 desa di Kecamatan Sungai Raya, 4 diantaranya berstatus tertinggal dan 1 masuk kategori maju. Sedangkan di Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, 4 berstatus tertinggal dan 1 berkembang. Sementara untuk Kecamatan Capkala, dari 6 Desa, 4 masuk kategori sangat tertinggal, 2 desa tertinggal.

“Dari data ini, Saya mengapresiasikan bagi desa-desa yang telah mampu keluar dari zona tertinggal menjadi berkembang dan maju,” ungkap Bupati saat membuka kegiatan Musrenbag Tingkat Kecamatan, Rabu (27/2/2019) di Aula Kantor Camat Sungai Raya. Prestasi ini harusnya diikugi oleh desa lain untuk mencapai kemajuan dan kemandirian berdasarkan potensi yang dimiliki.

Lebih lanjut, Bupati menjelaskan, secara kewilayahan, kecamatan yang ada di Kabupaten Bengkayang memiliki potensi yang sangat tinggi dan bervariatif diberbagai sektor. Jika melihat tren PDRB Bengkayang yang selalu mengalami kenaikan tiap tahunnya, sebagian besar didominasi sektor pertanian, perkebunan dan perkebunan. Namun pertumbuhan tersebut belum diikuti oleh pertumbuhan yang signifikan disektor sekunder yang lebih mengarah pada pemanfaatan dan pengolahan dari suatu komoditas sehingga jadi produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Sedangkan untuk faktor penataan wilayah dan pelestarian fungsi lingkungan, indikator yang digunakan berkaitan dengan kondisi pemukiman kumuh dibeberapa wilayah kecamatan yang masih perlu dibenahi. Sementara, terkaii dengan kemiskinan, dari data yang ada, untuk kecamatan Sungai Raya masih terdapat 1.266 Rumah Tangga (RT) dengan kondisi kesejahteraan terendah di Indonesia. Sedangkan untuk Kecamatan Capkala 983 RT dan 1.525 RT di Sungai Raya Kepulauan.

Berdasarkan pemaparan diatas, Bupati menyebutkan Pemkab Bengkayang telah melakukan berbagai upaya meski dengan keterbatasan dana yang dimiliki. Seperti penguatan data dan perencanaan sebagai salah satu upaya mempersiapkan instrumen dasar yang dijadikan persyaratan pengajuan usulan kegiatan kepada pemerintah provinsi dan pusat.

“Salah satu hasilnya, tahun 2019 ini melalui Dana Alokasi Khusus (DAK), akan ada pembangunan Puskesmas Rawat Inap di Sungai Raya dan Sungai Raya Kepulauan,” sebut Bupati.

Upaya selanjutnya, menangkap peluang pembangunan yang menjadi prioritas pemerintah pusat dan provinsi melalui komunikasi dan koordinasi yang intens. Salah satu yang diperjuangkan sejak beberapa tahun lalu adalah pengusulan penanganan kawasan kumuh diwilayah pesisir.

Pemerintah juga terus berupaya menguatkan peran-peran kelembagaan ekonomi kemasyarakatan seperti Koperasi, UMKM serta BUMDes agar terus berperan aktif dalam mengelola potensi-potensi yang ada.

Berkaitan dengan rendahnya kualitas SDM dan tingginya persentase kemiskinan, pemerintah telah berupaya dengan melakukan pemerataan dibidang pendidikan maupun memberikan Beasiswa Utusan Daerah bagi pelajar.

“Secara keseluruhan ada 1.008 orang yang sudah dikirim Pemda untuk menuntut ilmu di Perguruan Tinggi,” jelasnya.

Sumber : Humas Setdakab Bengkayang

Harga Jengkol Tembus Rp.80 Ribu Per Kilogram


UTUSAN RAKYAT, Karawang – Harga panganan yang satu ini mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Jika sebelumnya hanya Rp.20 per Kg, saat ini telah mencapai angka Rp.80 ribu. Bukan disebabkan melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar, tetapi ketersediaan barang yang langka.

Dikutip dari media merdeka.com, saat ini harga jengkol di pasar tradisional di Karawang, Jawa Barat terus meroket. Seperti di pasar tradisional Cikampek misalnya, harga jengkol kini menembus Rp 80.000 per kilogram (kg).

Salah satu pedagang sayuran, Nenti mengatakan kenaikan mulai dirasakan pada pertengahan bulan Juni lalu yang naik dua kali lipat, yaitu di kisaran Rp 50 ribu dari harga normal sebesar Rp 20 ribu per kilogramnya.

“Sekarang sudah Rp 80 ribu per kilo. Harga normalnya hanya Rp 20 ribu. Memang sangat mahal karena barangnya susah didapat. semakin langka,” kata Nenti salah satu pedagang di Pasar Cikampek, Minggu (15/7).

Menurutnya, meroketnya harga jengkol membuat penjualan berkurang setiap harinya. Biasanya dia dan pedagang lainnya bisa menjual puluhan kilogram. Namun saat ini perhari hanya menjual lima kilogram saja itupun sulit karena dianggap terlalu mahal dan tidak masuk akal ketika ditawarkan pada pembeli.

“Peminatnya banyak. Sekarang tidak ada yang berani beli karena mahal. Orang-orang kebanyakan cuma beli satu ons. Padahal Kalau pas murah selalu laris,” ujar Nenti.

Sejumlah pedagang mengaku, meroketnya harga jengkol terjadi karena pasokan jengkol dari tingkat petani sulit didapat. Seiring belum tibanya musim panen ditambah kemarau yang terjadi saat ini.

“Ya kalau di pasar biasa seperti ini, kalau barang lagi sulit pasti harga mahal. Sekarang dari petaninya juga susah belum musim,” tutur Neti.

Dikatakan Neti dan pedagang lain di pasar tradisional Cikampek, mahalnya harga jengkol bukan kali ini saja mengingat beberapa waktu lalu hal serupa pernah terjadi. Bahkan harga jengkol bisa mengalahkan harga daging sapi.

“Kalau dulu jarang orang yang suka jengkol. Tapi sekarang siapapun senang makan jengkol. Kalau dulu mungkin gengsi ya, tahunya jengkol itu enak,” tandasnya.

Sumber : merdeka.com

​Langkah Persuasif Gubernur Cornelis Menertibkan Tambang Emas liar di Kecamatan Mandor 



UTUSAN RAKYAT, Mandor – Gubernur Kalbar Cornelis secara tegas meminta para penambang emas tanpa ijin (PETI) di Kecamatan Mandor untuk menghentikan aktivitasnya. Tidak segan-segan orang nomor satu di Kalbar itu turun langsung ke lokasi dibantu aparat keamanan TNI Polri serta Pemkab Landak, menemui ratusan penambang dilokasi, Minggu (3/11). Gubernur Cornelis juga membawa serta inspektur Tambang dan Kabid Minerba Provinsi Kalbar kelokasi untuk membantu dirinya memberikan penjelasan teknis kepada masyarakat yang rata-rata menggunakan peralatan tambang tradisional. 

Cornelis kemudian mengumpulkan para penambang untuk diberi penjelasan. Masyarakat penambang pun berkumpul disebuah pondok untuk mendengarkan penjelasan sang Gubernur. “Hari itu saya sudah datang dan melarang, biarpun tanah siapa tidak boleh ditambang tanpa ijin Pertambangan untuk itu saya mohon agar masyarakat semua tidak melakukan aktivitas penambangan lagi disini, silakan bawa pulang peralatannya.” tegas Mantan Bupati Landak itu. Sejurus kemudian masyarakat mengumpulkan peralatan mulai dri mesin penyedot air jenis Robin, dan peralatan tambang tradisional untuk dibawa pulang. 


Larangan penambangan juga terkait kerusakan lingkungan, bahaya mercuri yang tidak terkontrol, karena kata Cornelis selama ini pemerintah dianggap tidak tegas dalam menindak pelaku penambangan emas tanpa ijin. Gubernur Cornelis yang juga Presiden Majelis Adat Dayak Nasional itu menjelaskan kalau memang pemerintah mau refresif bisa saja, namun dengan imbauan begini masyarakat mengikuti, ya tidak perlu (refresif), “Nanti kalau tersangkut perkara hukum karena PETI kemudian ditahan kan Bupati dan Gubernurnya yang dimintai tolong untuk penangguhan penahan.” ujar Cornelis. 

Sehingga dirinya meminta masyarakat menghargai. Apalagi selama ini sudah banyak korban yang meninggal seperti di Goaboma Bengkayang, disitu pemerintah dan aparat keamanan dianggap tidak tegas dan disalahkan. Nah, sekarang pemerintah tegas namun dengan pendekatan persuasif. 


Cornelis pun meminta masyarakat untuk membubarkan diri dengan tertib dan membawa serta peralatan tambang mereka karena lokasi tersebut ditimbun menggunakan alat berat eksavator, supaya tidak ada lagi aktivitas. Satu persatu masyarakat pamit tertib dan menyalami Sang pemimpin mereka. 

Perwakilan masyarakat penambang yang tidak mau disebutkan namanya mengaku salah dan meminta maaf kepada Gubernur Kalbar, karena tidak mengindahkan imbauan Gubernur beberapa waktu lalu. Dirinya mewakili masyarakat penambang kecamatan Mandor berterima kasih kepada Gubernur Cornelis yang melakukan penertiban dengan langkah persuasif, sehingga masyarakat dengan kesadarannya membubarkan diri dan tidak melakukan penambangan tanpa ijin lagi.
Sumber dan Penulis : Hendrikus Kornelius alias Hentakun.

FOTO : Menangguk Ikan


image

Menangguk Ikan

BAREMADA – Menangguk ikan di Dusun Baremada, Desa Lamolda, Kecamatan Lumar. Juni 2016. Di Kecamatan Lumar, warga di Desa Lamolda menjadi daerah yang paling banyak kolam ikan air tawar yang dibuat diatas lahan sawah yang tidak digarap maupun lahan yang memiliki debit air cukup banyak. Biasanya setiap 6 bulan hingga 2 tahun kolam itu mereka buka untuk ditangguk oleh warga lain dengan biaya tertentu sehingga mampu memberikan pendapatan tambahan bagi si pemilik.

*BERSATU *BENGKAYANG *MAJU

Stand Kecamatan Teriak, HUT Pemkab ke-17


Bengkayang – Dalam rangka memperingati HUT ke-17 Pemerintah Kabupaten Bengkayang, seluruh instansi/SKPD mengadakan Pameran pembangunan mulai 21-27 April 2016 di area Kantor Bupati. #Camat P. Tulen

image

Stand Kecamatan Teriak

image

Stand Kecamatan Teriak

image

Stand Kecamatan Teriak

image

Stand Kecamatan Teriak

image

Stand Kecamatan Teriak

image

Stand Kecamatan Teriak

image

Stand Kecamatan Teriak

“HUT PEMDA BENGKAYANG Ke-17”

Pahami “Jaminan Fidusia” Agar Kendaraan Kredit Tak Ditarik Semena-mena


UTUSAN RAKYAT, Jakarta – Layanan kredit kendaraan bermotor tampak membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan akan transportasi. Namun, ada beberapa ‘rambu’ yang perlu Anda ketahui sebelum mengambil kredit yang tepat.

Salah satu yang perlu Anda perhatikan adalah jaminan Fidusia. Continue reading