Pemuda Pontianak Buat Penyaring Limbah Dari Ampas Tebu


UTUSAN RAKYAT, Jakarta – Tebu selain disaring untuk dijadikan gula dan disajikan sebagai minuman dan ternyata memiliki manfaat lain. Dua orang remaja asal Pontianak ini menggunakan ampas tebu untuk membuat alat penyaring merkuri (Hg) dan besi (Fe) yang ada di sungai.

Hansen Hartono dan Shinta Dewi, dua remaja dari SMA Katolik Gembala Baik Pontianak, Kalimantan Barat, mengaku prihatin dengan kondisi sungai yang ada di daerahnya. Sungai Mandor sebagai sumber air bersih bagi masyarakat di kawasan Mandor, Kalimantan Barat, kini tercemar limbah merkuri (Hg) dan besi (Fe) akibat penambangan emas liar.

“Pertama waktu kami study tour di kawasan Makam Juang Mandor, melihat sungainya kok keruh, berwarna cokelat. Padahal sungai itu masih dipakai masyarakat untuk mandi dan cuci baju. Air minum dari PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) yang dialirkan ke warga juga sumbernya dari sungai itu,” tutur Hansen bercerita kepada detikHealth , saat ditemui di Gedung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jl Sudirman, Jakarta Selatan, Jumat (8/5/2015).

Meneliti kandungan merkuri dan besi yang terdapat di sungai Mandor menjadi langkah awal penelitian. Penelitian mereka menemukan bahwa kandungan merkuri dan besi yang terdapat di sungai Mandor sangat tinggi, hampir sembilan kali lipat dari ambang batas aman bagi kesehatan yang diatur oleh Kementerian Kesehatan.

“Dalam Permenkes (No 907 tahun 2002) ambang batas aman merkuri dalam air itu 0,001 ppm (part per million) sementara besi itu 0,3 ppm. Penelitian kami menemukan kalau di sungai Mandor itu sembilan kali lipat, kandungan merkurinya 0,0095 ppm dan besi 2,7 ppm,” urai Hansen lagi.

Ternyata masalah pencemaran lingkungan dari zat logam berat tak hanya terjadi di Indonesia. Berdasarkan studi literatur, Shinta mengatakan negara lain seperti Jepang dan Afrika Selatan juga memiliki masalah yang sama.
Melihat hal itu, mereka pun tergerak untuk mencari solusi. Melalui studi literatur, ditemukan bahwa ampas tebu memiliki pori-pori yang cukup lebar untuk dijadikan sebagai alat penyaring limbah. Dari temuan inilah penelitian mereka dimulai.
Ampas tebu dikarbonasi dengan metode pyrolysis. Proses selanjutnya adalah aktivasi dengan dipanaskan selama 6 jam. Hasilnya, ampas tebu pun berubah menjadi karbon aktif, dan diujicoba untuk menyaring limbah merkuri dan besi di sungai.

Hasilnya cukup signifikan. Ampas tebu berupa karbon aktif memiliki efektifitas yang cukup tinggi, 97 persen untuk merkuri dan 96 persen untuk besi. Ampas tebu tersebut pun didesain sedemikian rupa agar bisa ditempel di kran air PDAM yang mengalir ke rumah-rumah warga.

“Aplikasinya kita ada dua, yang pertama untuk ditempel di kran air di rumah. Satu lagi yang lebih besar bisa untuk di gunakan di PDAM buat penyulingan air bersih,” papar Hansen.

Dengan berbekal alat dan penelitian ini, Hansen dan Shinta merupakan salah satu perwakilan dari Indonesia yang akan berlomba di Intel International Science and Engineering Fair 2015 di Pittsburgh, Amerika Serikat. 12 Orang perwakilan dari Indonesia akan bersaing dengan 1.700 pelajar lainnya dari 17 negara.

Sumber : detik.com

Email KRISANTUS : (1). rajaborneo@gmail.com (2). raja_borneo@yahoo.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s