Desa Wisata|| Berpotensi Menarik Wisatawan Asing


FOTO : bisniswisata.co

FOTO : bisniswisata.co

UTUSAN RAKYAT – Keindahan alam serta kekayaan suku, budaya yang dimiliki bangsa ini merupakan potensi yang menjanjikan untuk menarik kunjungan wisatawan bila dikembangkan dengan maksimal. Ribuan pulau dengan kondisi geografi yang beragam menjadi pembeda Indonesia dengan negara lain. Sayangnya, minimnya infrastruktur penunjang yang dapat memberikan kenyamanan bagi para wisatawan saat berkunjung, masih sulit ditemui. Dan inilah yang menjadi permasalahan dasar mengapa pariwisata di Indonesia berjalan begitu lambat dibanding negara-negara lain, sebut saja Malaysia.

Menurut Nila Tanzil, seorang Konsultan Travel sekaligus Pendiri Taman Bacaan Pelangi, Indonesia memiliki banyak Desa Wisata yang dapat menarik wisatawan asing namun belum mendapatkan pengelolaan yang maksimal. Disamping Infrastruktur, Ia menyebutkan hal lain yang tak kalah penting perlu diperhatikan Pemerintah ialah pemberian pelatihan kepada masyarakat desa setempat tentang pelayanan, keramahan kepada wisatawan, serta menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pelatihan soal kebersihan juga perlu menjadi perhatian, baik untuk toilet, tempat penginapan, makanan, serta resto.

“Jika tidak dibenahi, banyak turis asing yang kemungkinan enggan untuk datang lagi di kemudian hari,” tegasnya.

Salah satu contoh, Desa Wisata yang terbilang berhasil mendatangkan puluhan ribu wisatawan baik lokal maupun mancanegara ialah Desa Wisata Kembang Arum, Yogyakarta. Desa yang terbentang diarea seluas 22 Hektar yang terdiri dari tanah warga, tanah kas desa dan tanah milik sanggar Pratista ini dapat dimanfaatkan dengan baik guna menunjang pariwisata.

Inisiator Desa Wisata Kembang Arum adalah Hery Kustriyatmo dan didukung oleh Sanggar Melukis Pratista. Desa wisata ini diresmikan tanggal 27 Juli 2006, berawal dari mendirikan sanggar lukis di Kembang Arum kemudian berkembang menjadi desa wisata pendidikan, wisata pertanian, perkebunan, wisata air, perikanan, pemukiman, seni budaya, kuliner, dan outbound. Yang tidak kalah menariknya adalah wisata perfilman. Sudah banyak film/feature yang dibuat di Desa Wisata Kembang Arum ini seperti Si Bolang, Wisata Kuliner, Jelang Siang. Sekitar 27 film yang sudah dibuat dan ditayangkan oleh RCTI, TPI, Indosiar, TVRI Jogja, dll.

Untuk menjadikan Kembang Arum ini menjadi desa wisata, tak mudah juga usaha yang ditempuh oleh Pak Hery sebagai inisiator. Tantangan awalnya adalah Pak Hery dan beberapa penggagas lainnya harus melakukan pendekatan secara pelan-pelan kepada kelompok-kelompok masyarakat Desa Kembang Arum. Kelompok-kelompok ini antara lain kumpulan bapak-bapak, ibu-ibu PKK, pemuda dan karangtaruna, maupun sesepuh-sesepuh desa. Masyarakat awalnya memang cukup menyambut hangat ide dari Pak Hery dkk. Tetapi belum seratus persen masyarakat setuju. Butuh waktu yang tidak sedikit untuk membuat seluruh penduduk menyetujui perubahan di desa mereka. Lambat laun hingga saat ini seluruh masyarakat desa sudah menerima konsep desa wisata untuk desa mereka.

Kendala kedua adalah masalah biaya atau dana. Dana awal pembangunan desa ini berasal dari kas Sanggar Pratista yang juga dikelola oleh Pak Hery. Sedangkan anggaran dari warga sendiri tidak tersedia. Jadi dana yang diandalkan adalah dari sanggar. Dana yang ada tidak cukup untuk membuat pembangunan yang serentak. Sehingga pembangunan dilakukan sedikit demi sedikit tetapi untunglah bias dilaksanakan berkesinambungan.

Kendala yang lain juga ada seperti pengaruh dari pihak luar seperti contohnya orang-orang yang ingin membeli tanah di desa ini untuk dijadikan hunian pribadi dirasa sedikit mengganggu perkembangan desa ini. Di bidang sosial, perkembangan desa wisata ini dipengaruhi oleh peran dari pemuda. Pemuda desa ini mengalami penurunan kemampuan dalam bercocok tanam dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Mereka pun kadang lebih fokus ke hal yang berbau modern dan mulai meninggalkan hal yang tradisional. Untuk menanggulangi hal ini, dibuatlah sarana untuk tetap menjaga minat warga akan potensi desa merekadan menjaga nilai-nilai tradisional seperti pembangunan lapangan bulutangkis, pembelian alat-alat sepak takraw, dsb.

FOTO : desawisatabejiharjo.wordpress.com

FOTO : desawisatabejiharjo.wordpress.com

Pengelolaan desa ini dilakukan oleh Pak Hery dibantu lima orang tim kreatif yang terdiri dari Pak Marsaid, Pak Ngatiman, Pak Muji, Pak Yuli dan Bu Jarwati. Tim ini menangani acara-acara yang diinginkan oleh tamu. Tamu yang ingin beriwisata di desa ini awalnya akan melakukan survey lalu reservasi ke kantor yang ada di Sanggar Pratista. Dengan reservasi, pengelola Kembang Arum bisa menyiapkan segala hal yang dibutuhkan oleh tamu secara maksimal dan hampir semua keinginan tamu diakomodasi oleh pengelola. Kemudian Pak Hery akan menyampaikan ini kepada tim kreatif yang sudah terbentuk. Tim kreatif akan membuat anggaran untuk akomodasi dan lain-lainnya untuk disampaikan kepada ketua RT dan ibu-ibu PKK. Ketua RT membagi tugas warga untuk menjadi pemandu di acara outbound dan sebagai guide wisata sedangkan ibu-ibu PKK menyediakan masakan untuk wisata kulinernya. Sistem pembagian keuntungan antara Sanggar Pratista dengan warga sudah dimusyawarahkan di awal pendirian desa wisata. Jika ada tamu yang datang, uang yang didapat dari tamu tersebut akan digunakan untuk mengisi kas wisata yaitu sebesar 5000 rupiah per tamu. Kas lain yang juga diisi adalah kas kumpulan bapak-bapak, kas PKK serta infaq masjid. Warga yang terlibat membantu kegiatan outbound juga akan mendapat fee sesuai dengan jam kerjanya.

Kegiatan-kegiatan dalam desa wisata ini banyak melibatkan peran masyarakat Kembang Arum sendiri. Misalnya seperti pijat massal, warga menjadi pemijat dan akan diberi tip dan fee. Wisata kulinernya yang khas melibatkan ibu-ibu PKK, wisata seni dan budayanya melibatkan bapak-bapak dan pemuda menjadi pemandu outbound. Orang yang umurnya sudah sangat tua pun tidak ketinggalan, mereka juga mempunyai kontribusi dalam wisata budi pekerti. Contohnya nenek-nenek mengunyah sirih atau menumbuk padi akan menggugah keingintahuan anak-anak yang datang berkunjung ke desa ini. Sistem pemasaran desa wisata ini masih dikelola oleh Sanggar Pratista. Awalnya adalah dengan sistem gethok tular yaitu informasi dari mulut ke mulut. Dengan memanfaatkan koneksi sanggar yang mengajar di 79 sekolah ini, Pratista melakukan sosialisasi kepada murid dan orang tua murid. Hal ini lalu berkembang sehingga muncul makelar wisata yang menghubungkan antara wisatawan dengan pengelola Kembang Arum. Untuk mendukung ini, Pratista juga mencetak brosur kemudian disebarkan pada para tamu atau koneksi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s