Beberapa Sub-Suku Dayak di Kalimantan Barat


INSIDE of LUMAR — Orang Dayak yang ada di Kalimantan Barat terdiri dari berbagai subsuku dan bahasa, bahkan di dalam subsuku ini pun masih terbagi lagi kedalam sub-subsuku. Pengelompokan ini didasarkan pada perbedaan yang ada di masyarakat Dayak baik dari bahasa yang mereka gunakan maupun dari budayanya, hal ini bisa dilihat misalnya antara kampung/wilayah yang satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan dalam hal bahasa yang mereka gunakan dalam pergaulan sehari-hari.
Berdasarkan hasil penelitian etnolinguistik yang dilakukan oleh Institut Dayakologi selama 10 tahun sejak tahun 1997, ditemukan bahwa di Kalimantan Barat ini ada 151 subsuku Dayak kemudian ada 100 sub-subsukunya dan 168 Bahasa Dayak. Penelitian tersebut secara garis besar mengelompokkan subsuku Dayak berdasarkan bahasa yang digunakan kedalam beberapa rumpun bahasa seperti rumpun Bidayuhik, Ibanik, Melayik, dan lainnya.

Berikut subsuku Dayak yang ada di Kalimantan Barat: Continue reading

Sungai Menyuke Meluap


INSIDE of LUMAR — Kecamatan Menyuke merupakan salah satu kecamatan rawan banjir di Kabupaten Landak, terutama pada saat musim penghujan. Sebagian besar melanda daerah-daerah yang berada disisi Sungai Menyuke, seperti di Pasar Darit dan Songga. Kondisi tersebut kembali terjadi pada Sabtu malam, dimana hujan deras yang rutin turun sejak beberapa hari terakhir membuat Sungai yang bermuara di Sungai Landak meluap. Tak jarang, luapan Sungai Menyuke ini membuat arus transportasi terputus.

Berikut beberapa Gambar Luapan Sungai Menyuke Continue reading

Pasar Sanggau Ledo Tergenang


INSIDE of LUMAR — Hujan deras yang melanda wilayah Sanggau Ledo, Jumat (21/11) lalu membuat genangan air menutupi ruas jalan ditengah Pasar Sanggau Ledo, terutama ruas jalan yang terletak diperempatan menuju Seluas, Riam Merasap Segonde dan Pelabuhan. Genangan air diperkirakan mencapai tinggi 10-15 Cm.

Dari pantauan langsung dilapangan, genangan air selain disebabkan oleh tingginya curah hujan yang turun, juga disebabkan oleh tak tersedianya saluran pembuangan air atau drainase disekitar Pasar. Sehingga air hujan yang jatuh tak bisa mengalir ke saluran pembuangan. Padahal jika dilihat, jarak antara perempatan dengan parit terdekat memiliki jarak yang cukup dekat, kurang lebih 50 Meter.

Meski banjir berlangsung tak begitu lama, namun kondisi ini bila dibiarkan terus menerus tentu akan berakibat pada kondisi jalan menjadi cepat terkikis sehingga mempercepat proses kerusakan jalan.

Berikut Gambar yang berhasil diabadikan : Continue reading