Pupuk Urea Langka, Petani Kesulitan


image

Petani di Dusun Sebol sedang memanen padi

Oleh : Krisantus Van Sebol

Bengkayang, BERKAT. Memasuki masa tanam padi, jagung serta tanaman lain saat ini, sebagian petani di Bengkayang, khususnya di Kecamatan Lumar dan Tujuh Belas khawatir tanaman mereka akan gagal. Penyebab utamanya ialah mereka kesulitan mendapatkan pupuk subsidi urea.

“Tak hanya di (distributor) Lumar saja yang langka, di Bengkayang juga pupuk subsidi sulit ditemui,” ujar salah seorang petani asal Dusun Madi, Desa Tiga Berkat, Kecamatan Lumar, Kasyanto, Minggu (24/11).

Akibat kesulitannya mendapatkan pupuk urea, Kasyanto mengaku hingga kini tanaman jagungnya masih belum diberi pupuk sebagai penyubur padahal usia tanam sudah tiga minggu. Kekhawatiran gagal panen pun menghantuinya. Kondisi inilah yang akhirnya membuatnya mengambil inisiatif untuk menggunakan pupuk jenis lain, yakni pupuk NPK.

“Daripada tidak ada pupuk, terpaksalah pakai yang ada,” keluhnya.

Berdasarkan penjelasannya, untuk mendapatkan pupuk urea, Kasyanto telah berupaya mencari pupuk tersebut ditingkat distributor kecamatan hingga pada toko-toko pupuk yang ada di pasar Bengkayang. Tetapi tetap saja tidak Ia temui pupuk urea bersubsidi. Sementara untuk membeli pupuk non subsidi, Ia mengaku sangat berat. Permasalahan ini semakin bertambah berat karena pada saat ini banyak petani yang mulai memasuki masa tanam padi yang mana juga sangat membutuhkan pupuk urea.

“Wajar jika banyak petani merasa khawatir dengan kesulitan memperoleh pupuk pada masa-masa sekarang,” sebut Kasyanto.

Perlu diketahui, untuk pupuk urea non subsidi satu karung 50 Kg harga yang diberikan bagi para petani berada pada kisaran Rp.225 ribu hingga Rp.250 ribu. Berbanding Rp.105 ribu hingga Rp.115 ribu pupuk bersubsidi. Apabila para petani terpaksa harus membeli pupuk urea non subsidi, itu artinya mereka harus mengeluarkan biaya yang cukup tinggi dan ini tentu akan berdampak bagi penghasilan mereka sendiri. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian RI Nomor 69/Permentan/SR.130/11/2012, Adapun Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi berdasarkan jenis pupuk antara lain, pupuk Urea dengan harga Rp. 1.800/kg, pupuk SP-36 Rp.2.000/kg, pupuk ZA Rp. 1.400/kg, pupuk NPK Rp. 2.300/kg dan pupuk organik Rp.500/kg, dengan kemasan Pupuk Urea 50kg, Pupuk SP-36 50kg, Pupuk ZA 50kg, Pupuk NPK 50 kg atau 20kg dan pupuk organik 40kg atau 20kg.

Sementara itu, ketika dikonfirmasi pada hari yang sama, ternyata tidak hanya Kasyanto saja yang merasa khawatir dengan kesulitan mendapatkan pupuk urea. Sukariadi dari Kelompok Tani Sawit Mandiri, Kecamatan Tujuh Belas juga mengaku mengalami hal yang yang sama.

“Kira-kira sudah dua bulan ini pupuk urea (bersubsidi) sulit didapat,” ungkapnya.

Untuk mengatasi kelangkaan pupuk urea, Ia bersama anggota kelompok lainnya hanya bisa berharap dari ketersediaan yang dimiliki pengusaha maupun pengepul usaha pertanian mereka.

“Jika pupuk bersubsidi langka secara otomatis itu akan berdampak pada pendapatan para petani,” sebut Sukariadi.

Terkait keluhan yang telah disampaikan, keduanya berharap agar pemerintah dapat mengatur dengan baik proses penyaluran pupuk kepada para petani agar tepat sasaran. Sementara itu, Kasyanto dengan tegas meminta agar diberikan sanksi tegas bagi para distributor pupuk bersubsidi apabila pupuk yang seharusnya didistribusikan kepada petani namun dialihkan kep ada perusahaan-perusahaan sawit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s