Kamus Bahasa Bakatik Lumar, Perkaya Khasanah Budaya


Oleh : Krisantus Van Sebol

Bengkayang, BERKAT.

Cover : Kamus Bahasa Dayak Bakatik Lumar - INDONESIA

Cover : Kamus Bahasa Dayak Bakatik Lumar – INDONESIA

Sederhana, namun mengandung banyak makna. Itulah yang menjadi penilaian singkat setelah melihat sekilas sebuah buku kecil yang bertuliskan “Kamus Bahasa. Dayak Bakatik Lumar – Indonesia,” yang ditulis oleh Bruder Hilarinus Tampajara. Salah satu makna yang bisa diambil dari penulisan Kamus Bahasa Daerah salah satu sub-suku Dayak di Bengkayang yang memiliki 96 halaman ini adalah bertambahnya khasanah budaya bagi sub-suku Dayak Bakatik itu sendiri, bagi daerah termasuk secara umum bagi Indonesia. Terbitnya buku kamus ini juga setidaknya mampu mengajak masyarakat luas untuk mengakui pengakuan dari Dayak Bakatik itu sendiri.

Terkait penulisan buku kamus ini, baru-baru ini penulis, Hilarinus Tampajara telah mengungkap beberapa hal yang telah melatarbelakanginya hingga tertarik memperkaya literature Dayak Bakatik yang notabenenya sebagai salah satu subsuku terbesar yang mendiami kabupaten Bengkayang. Sementara, Ia sendiri melihat apabila bahasa Bakatik sangat potensial untuk dikembangkan sebagai media komunikasi dan pengembangan bahasa di Kabupaten Bengkayang.

“Bahasa sangat mempengaruhi dan menentukan maju atau mundurnya peradaban suatu bangsa. Kalau bahasa hilang atau jarang digunakan maka etnis itu akan kehilangan identitasnya,” ujarnya.

“Selain itu karena secara otoritas keilmuan saya berani bertanggungjawab atas karya kamus Bakatik Lumar, karena ini bahasa daerah/bahasa ibu,” tegas pria yang juga seorang Bruder ini.

Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan Institute Dayakologi tentang Etnolinguistic, sedikitnya ada 12 bahasa didalam Etnis Dayak Bakatik. Namun pada akhirnya, Ia memilih untuk menulis kosakata dari sub-suku Dayak Bakatik Lumar dengan alasan menulis dayak bakatik secara keseluruhan tidaklah mudah, karena pada saat penelitian kesulitan yang dialami adalah ditemukan banyak sekali bahasa yang memiliki intonasi dan kosakata yang pengucapan serta arti nya yang berbeda. Ia pun mengakui jika sebenarnya dalam bahasa Dayak Bakatik terkesan miskin kosakata karena banyak bahasa yang digunakan tempo dahulu hilang seiring perkembangan zaman dan masuknya bahasa-bahasa lain.
Secara singkat, Hilarinus Tampajara menjelaskan bahwa dalam penulisan Kamus, Ia menggunakan literatur dari laporan penelitian bahasa Dayak Kanayan yang ditulis oleh Tim Peneliti Bahasa dan Sastra Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1980/1981 yang mengulas mengenai morfologi dan sintaksis, Hasil Penelitian dari Institute Dayakologi dan berbagai sumber. Sedangkan secara moral, keterlibatan beberapa rekan media dan rekan kerja termasuk yang telah mendukung penulisan Kamus Bahasa Bakatik ini, terutama melalui kritik dan saran.

Setelah proses penyusunan selesai, tahap selanjutnya adalah percetakan. Dikatakannya, proses tersebut tidak lepas dari adanya keterlibatan rekan-rekan semasa kuliah yang dengan rela hati bersedia membiayai percetakan dan penerbitan. Sedangkan dari Pemda sendiri mereka tampaknya kurang berminat untuk mendukung hal ini, begitu juga dari DAD Kabupaten Bengkayang, karena mereka di DAD mengatakan sudah ada tim penulisnya. Namun baginya, hal itu bukanlah masalah, yang penting saat ini Kamus tersebut sudah masuk dalam katalog Perpustakaan Nasional yang artinya karya ini telah menjadi salah satu dari jutaan karya Ilmiah yang dimiliki negeri ini dan kepemilikan otoritas atas kamus ada pada dirinya. Setelah diterbitkan, pada cetakan pertama sebanyak 700 buah buku, kini kamus tersebut siap disebarkan bagi seluruh masyarakat di Kalbar dan terlebih Indonesia. Seperti diakuinya, selain disebarkan di Bengkayang, buku kamus ini juga telah Ia sebarkan ke Pontianak dan beberapa daerah di Kalbar serta Jakarta. Meski sebelumnya banyak masukan dari para aktivis kebudayaan yang meminta untuk melakukan launching, namun Ia enggan melakukannya karena proses itu tentu membutuhkan biaya yang cukup besar terutama untuk mengundang ahli dan narasumber, kecuali ada sponsor yang mau membiayai.

“Penulisan kamus ini memang bukan untuk komersial tetapi demi untuk memulai sesuatu agar teman-teman Dayak Bakatik bangkit dan memulai juga menulis mengenai budaya dan nilai-nilai kearifan lokal yang hidup di masyarakat,” ungkap Pembina Asrama Bonaventura, Sepakat II Pontianak ini.

Kedepan, setelah Kamus yang sederhana ini, Ia berharap agar akan muncul lagi kaum muda Dayak Bakatik maupun Dayak lainnya untuk terbiasa menulis kekayaan budaya yang dimiliki sehingga tidak hilang ditelan zaman. Begitu juga terhadap Pemerintah Daerah, kedepan diharapkan lebih proaktif untuk menggali nilai-nilai budaya yang ada di Kabupaten Bengkayang.

“Semoga kamus ini dapat menjadi landasan bagi penulis atau peneliti lainnya dalam menggali budaya bakatik dapat menjadi dasar dari penulisan-penulisan lainnya mengenai Bakatik. karena dalam kamus ini juga ada beberapa istilah budaya dan kearifan Dayak Bakatik,” tandasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s