Masyarakat Perbatasan Minta Pemda Cabut Ijin PT. BJI


Oleh : JAMLI

Jagoi Babang – Sejumlah tokoh masyarakat adat Dayak Bidayuh diperbatasan Jagoi Babang (Malindo) Kabupaten Bengkayang, mendesak pemerintah daerah setempat untuk mencabut izin perkebunan kelapa sawit Bukit Jagoi Indah (PT.BJI) karena

selama ini membohongi warga. Selain itu, masyarakat adat juga meminta PT.BJI untuk tidak beraktivitas selama permintaan warga tidak terpenuhi. Jika tuntutan tidak dipenuhi, masyarakat akan memblokir jalan kebun dan menahan alat berat serta akan mengusir paksa perusahaan sawit PT.BJI yang telah menjual tanah koperasi kepada perusahaan baru PT.Ceria Prima.

Penolakan itu didasari karena selama ini anak cabang PT.Duta Palma Grup itu melakukan pelecehan kepada masyarakat adat. Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Adat Dayak Bidayuh -Jagoi, Ahau Kadoh.S.Th, Sabtu (21/9/2013) mengatakan, masyarakat menolak masuknya penjualan asset (Take-Over) kepada investor baru PT.Ceria Prima karena PT.BJI sudah melanggar kesepakatan awal.

“Kita minta pemerintah memfasilitasi dan seharusnya pemda segara pencabutan izin perkebunan PT.BJI karena sejak 1998 tidak beraktivitas,” Kata Ahau.

Penolakan masyarakat terhadap investasi perkebunan kelapa sawit terjadi karena masyarakat tidak ingin terusik oleh hadirnya perusahaan perkebunan skala besar seperti PT.Duta Palma Gru[ yang sudah banyak membohongi masyarakat. Hal ini bukan lagi rahasia jika PT.Ceria Prima anak cabang Duta Palma Grup selama ini tidak membangun kebun plasma. Persoalan dampak sosial hingga konflik yang terjadi di perusahaan itu hingga sekarang tidak terselesaikan.

“Kami minta kembalikan tanah adat, karena awalnya tanah itu adalah milik koperasi masyarakat Jagoi. Sementara ini warga Jagoi sudah hidup mandiri dengan mengusahakan perkebunan secara swadaya, lalu kenapa harus masukan perusahaan nakal seperti PT.Ceria Prima,” Ahau mempertanyakan.

Oleh karena itu, Pemerintah diharapkan lebih peka terhadap kondisi ini sehingga tidak menimbulkan permasalahan dikemudian hari

Bersamaan, Jupri, selaku Veteran perjuangan perbatasan Malindo mengecam perlakuan PT.BJI yang sudah menipu warga. Kata Jupri, masyarakat Jagoi saat ini dihadapkan dengan persoalan baru oleh perusahaan raksasa yang ganas. “Kami akan menghitung nominal kerugian dari setiap pohon yang rusak akibat perluasan kebun PT.Bukit Jagoi Indah sejak 1989-2013 dengan total kerugian yang harus diganti oleh perusahaan PT.BJI sebesar Sepuluh Milyar,” pintanya.

Persoalan itu juga ditanggapi oleh Lembaga Anti Korupsi Perjuang-45, Paulus Jasmani yang meminta kepada pemda untuk segera menanggapi segala masalah yang berhubungan dengan masyarakat adat. “Pemda jangan pura-pura tidak tahu persoalan ini,” kata pensiunan ABRI ini menambahkan. Berbeda dengan Puji Suswanto, Ketua APINDO dan Dewan Pengupahan Kabupaten Bengkayang berharap Investasi wajib saling menguntungkan. Puji menghendaki pembaruan struktur perkebunan kelapa sawit untuk menghilangkan Konflik-konflik dalam perkebunan. “Kita menilai setiap hari warga harus berhadapan dengan konflik di kebun sawit. Petani hanya terus dibohongi oleh perusahaan dan pemerintah dalam menyelesaikan konflik, buktinya omong kosong saja,” Puji mengingatkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s