Pelecehan Adat, Kepolisian Bengkayang Didenda Rp. 77 Juta


Oleh : KRISANTUS VAN SEBOL

Bengkayang (Kalbar Times) – Akibat telah melakukan pelecehan dan perusakan adat masyarakat diwilayah Desa Kinande yang termasuk dalam wilayah adat Binua Kananyatn, Kepolisian Resor Bengkayang Sektor Samalantan harus membayar adat sebesar Rp.17.264.900 dan harus dibayar 2 kali., serta denda adat sebesar Rp.77.777.777. Demikian informasi yang disampaikan Ketua I DAD Kecamatan Lembah Bawang, Kristianus kepada wartawan, Rabu (28/11) di Bengkayang.

“Adapun tindakan adat yang telah dilanggar oleh aparat kepolisian tersebut adalah basara ka tumpo batangan atau pelecehan terhadap adat,” jelas Kristianus.

Ia mengatakan nilai tersebut diperoleh setelah hari ini (Rabu, kemarin) dilakukan prosesi adat yang dipimpin langsung oleh Ketua DAD Kecamatan Lembah Bawang, A. Akun, berserta perangkatnya, Kristianus (Ketua I), Philipus (Ketua II), Akiong (Sekretaris) di desa Kinande. Saat proses adat berlangsung, hadir pula Kapolres Bengkayang, Kapolsek Samalantan, Camat Lembah Bawang, Kabag Tapem.

“Disamping harus membayar denda adat, pada prosesi itu juga telah dibuat kesepakatan,” tambahnya.

Adapun kesepakatan yang dimaksud, yakni :Pertama, mobil yang dirampas aparat kepolisian harus dikembalikan ditempat semula. Kedua, aparat kepolisian yang ada diareal perkebunan harus ditarik keluar. Ketiga, tuntutan masyarakat terhadap realisasi kebun plasma harus diselesaikan minggu ini, jika tidak maka PT. Darmex Agro akan ditutup oleh masyarakat Kinande.

Mengomentari prosesi adat yang telah dilaksanakan tersebut, Bupati LIRA Kabupaten Bengkayang, J.B Marbun meminta agar upaya penegakan hukum adat harus dapat ditegakkan tanpa memandang siapapun pihak yang melakukan pelanggaran, termasuk aparat kepolisian sendiri.

“Apa yang terjadi di Kinande kedepan mestinya menjadi contoh bagi komunitas adat ditempat lain. Kita harapkan juga tidak ada lagi pelecehan maupun pelanggaran adat lainnya,” tegasnya.

Mengenai kejadian di Desa Kinande ini, Kepala Desa Semunying Jaya, Kecamatan Jagoi Babang, Momonus mengaku sangat mengapresiasikan serta mendukung dengan apa yang telah dilakukan oleh masyarakat Kinande. Dukungan tersebut tak terlepas dari kesamaan nasib yang dialami masing-masing warga desa, dimana investasi yang ada ternyata bukannya memberi keuntungan bagi masyarakat, malah sebaliknya, masyarakat semakin sengsara.

“Sebenarnya kita sangat mendukung masuknya investasi didaerah, hanya saja investasi yang masuk harusnya mampu memberikan kontribusi bagi kedua belah pihak, baik masyarakat maupun unit usaha itu sendiri,” tambah Momonus.

Sejauh ini, perjuangan warga desa Semunying Jaya untuk memperjuangkan hak mereka sudah berjalan pada masa yang cukup lama, yakni sekitar 7 tahun. Namun sayangnya, hingga saat ini belum ada kejelasan dari pihak perusahaan terkait hak-hak yang semestinya diberikan kepada masyarakat (kebun plasma) serta diperhatikannya kelestarian lingkungan (hutan adat).

“Kami juga berharap agar pemerintah, dalam hal ini Pemda Bengkayang agar dapat menjadi mediasi dalam proses penyelesaian masalah antara masyarakat dengan perusahaan,” tandasnya.

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s