Hanya Bisa Ditempuh Melalui Udara dan Jalan Kaki


Oleh : KRISANTUS VAN SEBOL

Bengkayang (Kalbar Times) – Desa Sungkung I, II dan III merupakan salah tiga desa paling utara di Kabupaten Bengkayang dan berada dekat dengan perbatasan RI-Malaysia. Berada dibawah kaki Gunung Sunjang, Desa ini hanya bisa ditempuh melalui pesawat Cessna yang hanya mampu mengangkut 12 orang, serta berjalan kaki. Tak berlebihan, karena memang selama ini yang tersirat dalam pikiranku, Sungkung merupakan salah satu daerah yang masih tradisional. Jauh dari segala jenis kemajuan. Anggapan tersebut semakin menguat ketika kami, Saya dan Egarius, legislator Bengkayang memulai perjalanan menuju Sungkung III pada hari Rabu, (15/8) yang lalu.

“Kita berangkat pakai ojek jak bang Kris. Nda bisa pakai pesawat karna kata pilot, ada sedikit masalah dengan pesawatnya,” demikian isi pesan singkat yang dikirim, Egarius kepadaku sehari sebelum keberangkatan. Pesawat yang dimaksud Egarius itu merupakan sebuah pesawat NTM Cessna 206 PK-YMF milik misionaris.

“Jadi lewat mana kita bang, nda lewat Entikong kah?,” isi balasan pesan yang kukirim. Pertanyaan itu terlontar karena pengetahuan yang diperoleh sebelumnya dari cerita kebanyakan, untuk mencapai Desa Sungkung melalui jalur darat dapat melewati Siding (Bengkayang), Air Besar (Landak) dan Entikong (Sanggau Kapuas).

“Kita sewa ojek lewat Suti Semarang. Kalau kita berangkat jam 07.00 WIB, mungkin malam sudah sampai,” balasnya lagi. Egarius juga menyampaikan jika dirinya sudah membayar 2 orang tukang ojek dari Desa Bentiang (Landak) guna menempuh perjalanan Bengkayang-Engkadik 2 (Kec. Air Besar). Sebenarnya biaya akan lebih murah apabila menggunakan pesawat dari Serukam, karena biaya yang dikeluarkan hanya sebesar Rp.325 ribu/orang dengan waktu tempuh yang singkat. Sementara ojek sepeda motor, biaya lebih tinggi, yakni sebesar Rp.400 ribu/orang. Namun akan lebih murah apabila menempuh perjalanan darat melalui Entikong yang berkisar Rp. 125 ribu/orang dengan rincian Rp.75 ribu ongkos Bus Bengkayang-Entikong dan Rp.50 ribu Entikong-Suruh Tembawang menggunakan motor air.

Keesokan harinya, Rabu (15/8), ternyata waktu keberangkatan yang sudah disepakati melorot 3 jam lebih. Kami baru benar-benar berangkat ketika jam di handphone telah menunjukkan pukul 10.30 WIB. Tak lama setelah tukang ojek, Yanto dan Barana selesai melakukan service ringan terhadap sepeda motor merk Jupiter Z mereka. Kami tak memiliki gambaran terhadap kondisi jalan yang akan ditempuh karena memang belum pernah dilalui. Oleh karena itu, kami percayakan saja hal itu kepada dua orang pengojek yang berasal dari Dusun Bentiang, Kecamatan Air Besar, Landak.

Jalan berbatu dan berdebu menyambut perjalanan kami. Akibatnya, tak lama kemudian rambut menjadi kering, goncangan karna kondisi jalan yang rusak membuat tas perlengkapan kami bawa mulai terasa berat. Bahkan, akibat kondisi jalan yang rusak sedemikian rusaknya membuat tukang ojek yang membawa Saya, Barana naas. Terjadi tabrakan dengan Boni, seorang pengendara sepeda motor dari Mareseng (Suti Semarang) pada sebuah tikungan yang mana ruas jalannya cukup sempit. Ia pun tak dapat melanjutkan perjalanan karena benturan yang terjadi membuat sekujur tubuhnya kesakitan, terutama akibat benturan dibagian dada dan pelipis mata.

Perjalanan kami lanjutkan kembali setelah seorang warga Mareseng menawarkan jasa Taupik, kepada Saya. Negoisasi biaya terjadi dan Taupik pun setuju, akhirnya kami kembali melanjutkan perjalan. Bermodal sepeda motor buntut, baik Taupik maupun Yanto dengan tangkas menyusuri jalan yang hancur lebur.

Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, pada pukul 16.40 WIB kami sampai di Tengon (Landak). Sesuai kesepakatan, Taupik hanya sanggup membawa Saya hingga di Dusun itu. Namun pada saat bersamaan, kami mendapat tawaran dari warga Dusun Upas, Janmanik untuk melanjutkan ojek karena kebetulan Janmanik juga hendak pulang ke Upas. Mendapat tawaran tersebut, Egarius meminta agar Janmanik maupun Yanto bersedia membawa kami hingga ke Dusun Engkadik II, keduanya setuju.

Pengalaman keduanya sebagai tukang ojek ternyata membuat perjalanan kami menuju Dusun Engkadik II tak berlangsung lama, meski kondisi kerusakan jalan lebih parah dibanding ruas jalan antara Suti Semarang – Bentiang – Tengon. Pukul 17.30 WIB akhirnya kami tiba.

1 Comment

  1. Halo salam kenal sdr Krisantus. Saya tertarik dengan beberapa artikel mengenai Desa Sungkung,karena saya pernah tinggal di Desa ini cukup lama pada tahun 1967.

    Saya tidak asing dengan nama-nama tempat yang tersebut dalam artikel itu,dan suasana keterpencilan desa ini. Saya berfikir selama 45 tahun saya tinggalkan , mestinya desa ini sudah semakin maju,karena gencarnya pembangunan desa. Mudah-mudahanlah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s