Cerita Indomie……!!


Catatan : KRISANTUS VAN SEBOL

[SEBOL] – Biasa kulihat di Tivi, dimana diujung seseorang yang bercerita mengenai pengalamannya dengan produk Indofood itu mengatakan sekaligus mengingatkan, “Ini Ceritaku, Ceritamu…???”. Dah… Kalau dah ingat indomie., pasti ingat jaman kuliah. Makanan yang satu ini selalu jadi andalan, bahkan sampe sekarang makanan itu masih saja menjadi favorit para Mahasiswa.

Cerita Indomie

Terimakasih Saudara Mie

Satu cerita mengenai indomie yang tak bisa kulupa atau setidaknya masih kuingat sampai sekarang adalah ketika sedang kere-kerenya (memang selalu kere…), kejadiannya di Rusunawa, tempat si Yopi Cahyono yang sekarang dah ada embel-embel dibelakangnya S.Hut. Waktu itu… Aku, Yopi dan Parjo, kami bertiga semuanya lagi tak punya uang. Mau pinjam dengan teman-teman, 11-12, sama saja, mereka juga lagi nda punya uang dan kalau adapun cukup untuk amunisi mereka saja.

Perut dah keroncongan… terus bernyanyi. Tidur-tiduran tak mampu menghilangkan rasa lapar. Teman-teman juga lagi nda ada yang datang, yah… berharap setidaknya mereka bawa sebatang rokok. Stik pun jadilah, tapi tak pula nongol-nongol. Mungkin mereka juga lagi mengalami nasib yang sama.

Dalam situasi itu, Diam-diam, si Yopi tu ternyata masih ada sisa uang, Rp.1000,-. Hohoho…… sepertinya nilai Rp.1000 itu sangat berharga. Memang benar, yang punya uang minta si Parjo (Subarjo, S.Sos) belikan mie dengan uang itu tadi. Tapi yang disuruh kayaknya gengsi atau gimana gitu… mungkin malu. Pasalnya disuruh beli Mie Kapuas (harganya Rp.500,-) dan sisanya diminta belikan Rokok Surya (Gudang Garam) 1 batang biar bisa stik bertiga setelah makan. Aku juga menghindar…!!

“Pi.. Kao jak yang beli, nanti aku yang masaknya,” kataku. Tawaranku berhasil. Yang punya uang bergegas keluar, cari mie yang dimaksud di salah satu warung di Sepakat 2. Dan tak lama, datang si Yopi dengan Mie dan rokoknya. Sesuai perjanjian, yang dapat bagian masak segera memasak air panas.

“Tambah lagi airnya, biar kuahnya agak banyak soalnya kita betiga,” kata si Yopi. Dasar gentong, pikirku (padahal seharusnya memang begitu).

Mie masak….!! Way… nasinya sisa dikit. Sial… nasib kere. Segalanya kere, sampe nasipun kere. Biar gitu, nasi tetap dibagi rata. Geli rasanya hati bercampur sedih… nasib-nasib. Dah siap mao makan nich… eeee….. si Yopi ngupas bawang putih, dipotongnya bawang tu jadi beberapa bagian lalu dijadikannya sayur untuk mendamping Mie Kapuas dipiringnya. Cuap…cuap,…cuap… habis juga tu nasi.

Mie… membuat perutku kenyang…..!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s