Tujuh Tahun Berjalan, baru Bahas MoU


Oleh : JAMLI

Harian Kalbar Times

PT. Bengkayang Subur

DPRD Bengkayang dan PT. Bengkayang Subur bahas MoU

[BENGKAYANG] – Setelah tujuh tahun berjalan sejak memperoleh izin lokasi pada tahun 2004, pihak perusahaan perkebunan kelapa sawit PT.Bengkayang Subur belum pernah membahas MoU dengan masyarakat terkait penanaman sawit di wilayah dua Kecamatan ini. Kecamatan Ledo yakni   Desa Rodaya, Desa Dayung, Desa Lomba Karya, sementara wilayah Desa Kamuh masuk pada konsesi Kecamatan Tujuh Belas. Pembahasan MoU tersebut baru dibahas Rabu (5/10). Dengan menghadirkan ratusan kepala Keluarga dari Desa Rodaya Dusun Baya. Pertemuan tersebut juga dihadiri pihak Muspika kecamatan, pihak desa, koramil, dinas terkait, serta Anggota DPRD Kabupaten Bengkayang.

Perwakilan perusahaan PT.Bengkayng Subur  Emir, bagian Legal yang berkantor di Kota Pontianak mengakui keberadaan perusahaan saat ini telah beroperasi tanpa membuat kesepakatan (MoU) dengan masyarakat setempat. “Kami juga bingung. Dan ini adalah kesalahan pimpinan terdahulu,” jelas Emir dihadapan ratusan masyarakat saat berlangsugnya pertemuan.

Menurutnya, Perusahaan sudah sesuai dengan izin yang diperoleh  pada tahun 2004, luas lahan yang berhak untuk digarap seluas 19.000 hektar meliputi dua kecamatan dengan jumlah desa lima desa, yani Desa Rodaya, Lasa Bela, Dayung, Lomba Karya, dan Desa Kamuh. Kemudian berdasarkan izin lokasi 2010, pihak perusahaan hanya memperoleh sekitar 9.270 hektar. “Sesuai dengan luas itu, kami akan mengikuti aturan untuk menyediakan lokasi 20% untuk masyarakat dari luas lahan,” jela Emir menambahkan.

Pihak perusahaan menginformasikan, hingga saat ini areal yang baru terbuka 270 hektar dan posisinya masih stagnan. Kemudian dalam perjalanannya, perushaan baru melakukan pembebasan 70 hektar, jadi jumlah yang baru dibuka sekitar 340 hektar, itu khusus untuk Rodaya. Kemudian untuk Desa Dayung, pihak perusahaan sudah menjalankan sesuai undang undang, sebab beberapa waktu lalu sudah melakukan sosialisasi dan sebagian besar menyetujui. “Menyinggung Draf MoU, kami saat ini memiliki semacam drafnya, dan nanti penandatanganan per desa, cuma polanya yang harus diseragmkan,” jelas Emir lagi.

Mariadi, anggota DPRD Kabupaten Bengkayang, juga mempertanyakan kejelasan MoU yang baru dibahas. Namun Mariadi mengatakan, untuk mencari penyelesaian tidak perlu menyalahkan antara satu pihak dengan pihak yang lain.

“Mari kita lihat prosedur perkebunan itu seperti apa, jangan sampai PT.Bengkayang Subur bikin Bengkayang Subur tapi Rodaya gersang,” kata Mariadi.

Ketua DPC PAN ini menilai, masyarakat hanya menginginkan kejelasan pola kerja sama dengan pihak Perusahaan. Senada dikatakan Alexander, Anggota DPRD Bengkayang yang juga ikut hadir menjelaskan, seyogyanya MoU itu ada sebelum ada kegiatan perkebunan dilakukan. Setelah ada izin lokasi, mulailah perusahaan mengurus Amdal. dan saat inilah MoU nya harus ada. Setelah MoU ada, baru perusahaan mendapatkan SIUP. Dengan dasar SIUP perusahaan mengurus izin, dan seterusnya.

Tak Profesional, Razia PETI Gagal


Oleh : JAMLI

Harian Kalbar Times

Razia PETI

Jajaran Polres Bengkayang adakan razia PETI di Kec. Samalantan

[BENGKAYANG] –

Tak profesional, Operasi Razia gabungan jajaran Polres Bengkayang terhadap aktivitas penambang liar (PETI) pada areal penambang liar di dusun Sungai Limau dan Kincir, desa Samalantan, Kecamatan Samalantan, oleh tim gabungan dari jajaran Polres Bengkayang, yang melibatkan satuan Brimob Singkawang, dan Sat Pol-PP Bengkayang, diduga bocor sebelum rajia dilaksanakan. Karena dalam operasi tersebut tidak satupun penambang liar yang tertangkap.

Razia dilakukan mengingat di daerah Dusun Sungai Limau dan Kincir marak terjadi penambang liar yang melakukan aktivitas tanpa izin hingga pada tingkat yang meresahkan, hal ini diperkuat dengan laporan dari berbagai pihak yang merasa dirugikan karena kegiatan ileggal sehingga merusak lingkungan. Operasi yang dilakukan jajaran Kepolisian Polres Bengkayang, dipimpin langsung oleh Continue reading

Sekolah Satu Atap Desa Lomba Karya Kekurangan Guru


Oleh : JAMLI

Harian Kalbar Times

Kades Lomba Karya

Ahyar Waliyan, Kades Lomba Karya, Kec. Ledo, Bengkayang

[LEDO] – Masalah klasik bidang pendidikan di Kabupaten Bengkayang kembali terungkap. Kali ini masalah kekurangan tenaga pendidik ditemukan di SD-SMP Satu Atap Desa Lomba Karya, Kecamatan Ledo. Dimana untuk tingkat SMP tenaga pendidik yang tersedia hanya 3 orang tenaga guru, itupun berasal dari guru SD tersebut. Akibatnya proses belajar mengajar siswa menjadi kurang maksimal.

Kepala Desa Lomba Karya, Ahyar Walian menuturkan bahwa SMP Satu atap yang berada di dusun Bentarat, Desa Lomba Karya tersebut menjadi pertanyaan masyarakat sekitar. yang ada dibeberapa dusun dan desa sekitarnya, seperti warga dusun Mensari, Tuhu, Pelomba dan Pagoh, serta wilayah Desa Sidai mencakup Dusun Tabalian dan Jugan. Masyarakat disini berharap. Anak-anaknya setelah tamat Sekolah dasar (SD) nantinya tidak perlu lagi melanjutkan pendidikannya ke luar daerah yang jauh dari pengawasan orang tua Continue reading

Pasca Kebakaran, Tanah Hilang


Oleh : JAMLI

Harian Kalbar Times

Kebakaran Bengkayang

Hj. Azizah : Korban Kebakaran Pasar Bengkayang

[BENGKAYANG] –

Kebakaran yang terjadi di Pasar Tengah dan Pasar Belakan Kota Bengkayang, 14 September 2010 lalu ternyata masih menyisakan kisah tragis bagi pasangan Kakek-Nenek, H.Agus Lazim (72) dan isterinya HJ. Ajizah (68) yang harus kehilangan bangunan maupun tanah sah yang mereka miliki. Dimana dua hari pasca kebakaran harus menerima teguran dari Camat Bengkayang pada saat itu (Aci Sood-–Red) yang meminta agar mengosongkan lokasi tempat berjualannya. Pernyataan Aci bertolak belakang dengan ucapan Lurah Bumi Emas yang merespon agar dibangun kembali ruko yang sudah terbakar.

“Sampai saat ini, hanya pondasi dan tiang ruko saja yang masih berdiri, padahal itu merupakan satu-satunya mata pencaharian kami sekeluarga untuk menyambung hidup,” keluh H.Agus.

Menurutnya, Continue reading