*Tindakan Asusila
Pihak Keluarga Minta Guru Cabul Dihukum Berat


Oleh : MASRAN

METRO INDONESIA – SUNGAI BETUNG

Pihak keluarga HS, korban tindakan asusila yang dilakukan oleh oknum guru SDN 04 Keranji, Desa Karya Bhakti, Kecamatan Sungai Betung, Kabupaten Bengkayang, meminta agar AS (pelaku) dapat dihukum seberat-beratnya sesuai dengan hukum yang berlaku. Petrus selaku ayah korban merasa sangat terpukul atas tindakan biadab yang dilakukan AS karena telah menghancurkan masa depan HS.

Berdasarkan hasil visum yang dilakukan di RSUD Bengkayang, Kamis (22/9) yang disampaikan Senin (25/9) kepada pihak keluarga dinyatakan bahwa telah terjadi luka disekitar kemaluan HS. Untuk sementara, kasus ini telah ditangani oleh Polsek Sungai Betung. Dari keterangan Kapolres Bengkayang melalui Kanit Reskrim Polsek Sungai Betung, B.J Panjaitan, Kamis (29/9) menyatakan bahwa AS telah ditetapkan sebagai tersangka. Namun karena adanya keberatan dari pihak keluarga terhadap penetapannya sebagai tersangka dengan melampirkan surat keterangan pernah mengalami sakit jiwa, maka kita memberikan kesempatan kepada pihak keluarga untuk melakukan pengobatan dirumah sakit jiwa. Masa yang diberikan untuk melakukan pemeriksaan di RSJ selama 10 hari sejak penangkapan (Minggu, 25/9). Panjaitan juga menerangkan atas tindakan tersebut, tersangka dijerat dengan UU 23 Tahun 2003 Tentang Perlindungan Anak dengan masa hukuman minimal 7 tahun penjara.

Seperti diketahui, tindakan asusila yang dilakukan AS pada Sabtu (18/9) terkuak setelah Imawati (bibi korban) mendengarkan laporan dari anaknya Poja (6) kelas I SD yang melihat HS dibawa AS kedalam toilet pada waktu yang cukup lama. Pada hari Selasa (21/9) Imawati menceritakan kepada Sumiati Sidi (29) ibu korban yang kemudian disampaikan kepada Petrus. Tidak terima, sore harinya Petrus kemudian melaporkan hal tersebut ke pihak Kepolisian Sektor (Polsek) Sungai Betung. Namun setelah datang ke Polsek, pihak kepolisian menyarankan agar pihak keluarga terlebih diselesaikan secara kekeluargaan dengan memanggil para perangkat desa. Guna memperkuat laporan, Petrus kemudian menanyakan kebenaran itu kepada teman-teman sekelas HS. Dimana beberapa murid yang ikut mengintip kejadian pada hari Sabtu (17/9) mengaku bahwa benar HS telah dibawa AS kedalam toilet.

Sesuai apa yang disarankan oleh pihak Kepolisian, Petrus kemudian meminta kepada pengurus desa untuk memfasilitasi penyelesaian masalah tersebut pada hari Rabu (21/9). Tetapi, setelah diundang hadir, HS tidak menghadiri undangan pengurus desa. Baru pada sore harinya datang anak AS langsung kerumah Petrus untuk meminta agar penyelesaian urusan tersebut dilakukan dikediaman AS. Petrus menolak.

Pada hari Kamis (22/9), anak AS kembali mendatangi kediaman Petrus guna meminta agar permasalahan tersebut jangan sampai dibawa keranah hukum positif, artinya jangan sampai dilaporkan ke pihak kepolisian. Namun, lagi-lagi Petrus menolak tawaran itu.

Selaku orang tua, tentunya Petrus tidak terima dengan kejadian yang menimpa anaknya. Oleh karena itu, pada Kamis siang, Ia kembali melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Sungai Betung agar ditindaklanjuti. Setelah membuat laporan polisi, Petrus bersama anggota keluarganya yang lain kemudian mendatangi RSUD Bengkayang untuk melakukan visum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s