Menambah Uang Jajan, Okta Menganyam Tikar Bidai


Oleh : KRISANTUS VAN SEBOL

[BENGKAYANG]- Usianya baru menginjak 14 tahun, namun untuk biaya sekolah Oktavianus sudah tidak lagi membebankannya kepada orang tua. Dengan keahlian yang dimilikinya menganyam Bidai, dia mampu menghasilkan uang.

Oktavianus merupakan anak ke-3 dari 6 bersaudara dari pasangan Umar dan Apap. Saat ini Ia masih mengenyam pendidikan dibangku SMP dan duduk dikelas VIII, SMPN 1 Seluas. Meski disibukkan dengan pekerjaan sampingannya menganyam tikar Bidai, prestasi yang diraih Oktavianus tidak kalah dengan siswa lainnya. Buktinya Ia mampu mendapatkan beasiswa dari sekolah atas prestasinya.

Keahlian Okta menganyam tikar bidai sudah dimilikinya sejak masih duduk dibangku SD. Ia biasa memulai pekerjaan tersebut siang hari ketika pulang sekolah. Dalam satu minggu tikar bidai yang berhasil dikerjakannya sekitar 3 tikar bidai ukuran 7×10 Feet. Ini berarti dalam satu minggu, Okta bisa mengumpulkan uang sebesar Rp.300 ribu dari pemodal yang memperkerjakan mereka karena untuk 1 tikar upah kerja bagi mereka adalah sebesar Rp.100 ribu. Meski demikian, Okta mengaku untuk menyelesaikan 1 tikar bukanlah perkara yang mudah karena tikar bidai dibuat dengan motif tertentu sesuai pesanan. Berkerja pada Triono, ternyata Okta tidak sendirian. Ia bersama beberapa rekannya seperti Koyon, Elvi, Muklasin, Martolius juga bekerja sambil sekolah.

Dari penuturannya, Okta mengaku bila keahliannya menganyam bukan dikarenakan adanya pendidikan atau pelatihan khusus. Kepandaiannya merupakan sebuah bakat yang berawal dari melihat dan belajar membuat tikar itu sendiri. Selain bekerja kepada Triono, Okta terkadang menganyam bidai untuk Eka, Muliati dan beberapa lainnya lagi.

Ketika ditanya apakah pekerjaan sampingannya tersebut mengganggu aktivitasnya dibangku sekolah, Okta mengatakan bahwa hal itu tidak berpengaruh banyak karena pekerjaan itu dilakoninya sepulang sekolah. Agar urusan sekolah dan pekerjaan tidak terganggu, Ia biasanya mengerjakan tugas sekolah pada malam ataupun subuh sebelum berangkat ke sekolah.

Meskipun dengan bekerja Ia dapat menghasilkan duit untuk dirinya sendiri, Okta tetap menganggap bahwa pendidikan lebih penting karena tidak selamanya Ia ingin menjadi seorang penganyam. Terungkap sebuah harapan yang diharapkannya kedepan adalah baik dirinya maupun para pemodal Bidai di Seluas tidak lagi mengalami kesulitan memasarkan Bidai. Tentunya kerajinan tersebut dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat di Seluas dan sekitar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s