Tunggakan Listrik Rumah Dinas Capai Angka Rp.500 Juta


Oleh : KRISANTUS/YOPI C.

[BENGKAYANG]

Pemadaman listrik yang kerap terjadi di Bengkayang terkadang mengundang sumpah serapah sebagian besar pelanggannya, terutama karena pemadaman tersebut sering dilakukan tanpa penentuan jadwal yang tetap oleh pihak PLN. Sebuah alasan yang masuk akal. Namun apa jadinya bila pemadaman tersebut dilakukan karena alasan lain yang mungkin secara tekhnis mengganggu aliran listrik ke pelanggan? Ataupun permasalahan lain, dimana antara hak dan kewajiban pelanggan tidak seimbang?

Berbicara mengenai kewajiban yang diemban oleh PLN, hal utama yang mesti dilakukan adalah memberikan pelayanan semaksimal mungkin kepada para pelanggannya atas kebutuhan listrik dan itu merupakan hak yang mesti didapat pelanggan. Sementara berbicara hak, sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PLN tentunya memiliki hak untuk mendapatkan biaya dari pelayanan tersebut dari para pelanggan sebagai akibat dari cost yang telah dikeluarkan.

Disini, salah satu permasalahan klasik yang selalu dihadapi PLN sehingga pelayanan yang diberikan dirasa kurang maksimal adalah sikap masa bodoh yang diambil sebagian pelanggan dengan mengabaikan kewajiban mereka, membayar iuran setiap bulan.

Berdasarkan data yang dipaparkan Kasi Datun Kejaksaan Negeri Bengkayang, B. Situmorang, rata-rata tunggakan dilakukan oleh pelanggan yang menempati rumah dinas yang ada di Kabupaten Bengkayang.

“Tunggakan tersebut mencapai angka Rp.500 juta,” sebutnya.

Padahal untuk mengatasi hal itu, pihak Kejari telah mengambil upaya dengan menyurati para pelanggan PLN sekaligus turut memberikan amaran kepada pelanggan terkait pemutusan jaringan lisrik ketika mereka tidak melaksanakan kewajiban membayar rekening listrik selama 3 bulan keatas.

Sebelumnya, Manajer PLN Ranting Bengkayang, Adi Kurniawan ketika pertemuan dengan para wartawan di Singkawang beberapa waktu lalu berasumsi bisa jadi, PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) merupakan satu-satunya badan usaha yang setiap tahunnya dalam rencana kerja mereka menargetkan rugi sekecil-kecilnya. Bahkan impas saja antara biaya produksi dengan pemasukan yang diterima hal tersebut merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa.

Darimana bisa untung, biaya produksi PLN lebih besar dibanding penerimaan yang diperoleh dari pembayaran rekening,” terangnya. Permasalahan itu bertambah parah ketika para pelanggan Listrik menunggak pembayaran. Ia menyebutkan seperti yang terjadi di wilayah operasional Bengkayang, dimana pada tahun 2010 lalu, dalam laporan akhir yang dibuat, setiap bulannya pelanggan listrik hingga ratusan juta rupiah. Bahkan akibat hal itu, Adi mengatakan, Ranting Bengkayang merupakan yang terparah diwilayah Singkawang, Bengkayang dan Sambas.

Dilain pihak, Adi juga mengungkapkan rasa ketidaknyamanan dirinya terhadap para pelanggan akibat kerapnya pemadaman yang dilakukan tanpa pengaturan jadwal yang tetap. Menurutnya, pemadaman tersebut biasanya terpaksa dilakukan apabila terjadi gangguan pada sistem, baik yang disebabkan karena kerusakan mesin ataupun gangguan dari alam. Namun yang menjadi penyebab utama dari pemadaman itu tidak lain karena daya yang dimiliki PLN Bengkayang tidak mencukupi.

“Akibat kurangnya daya yang dimiliki, tegangan listrik kerap drop,” terang Adi.

Guna mengatasi permasalahan itu, Adi berharap agar daya listrik di Bengkayang dapat pasokan lagi dari Singkawang. Disamping itu, PLN Bengkayang juga telah menyurati Bupati mengenai daya listrik yang ada saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s