Belajar Menulis


BELAJAR DARI TULISAN MILIK MUHLIS SUHAERI (muhlissuhaeri.blogspot.com)

Muhlis Suhaeri a Journalist

JUDUL ; PELAJARAN MAHAL SEKARUNG SAWIT

Belajar Menjabarkan Dengan Rumus 5 W + 1 H
(What, Who, Where, When, Why and How).

1. Paragraf 1 (Permasalahan: WHAT)

Tiga warga Sanggau ditahan dan diperkarakan karena mengambil sawit seharga Rp 60 ribu. PTPN XIII bersikukuh hanya memberikan pelajaran.

a. Who : Tiga Warga Sanggau
b. What : Ditahan dan Diperkarakan
c. Why : Karena Mengambil Sawit Seharga Rp.60 ribu. PTPN Bersikukuh Hanya Memberikan Pelajaran

2. Paragraf 2 (Latar Belakang Masalah: WHY)

PT Perkebunan Nusantara (Persero) XIII memperkarakan pencuri brondolan sawit di Blok 107 Kebun Inti PTPN XIII Parindu, Sanggau, Kalimantan Barat. Tiga warga tertangkap tangan membawa 60 kilogram brondolan sawit. Harga sekilogram brondolan sawit Rp 1.000 hingga Rp 1.500.

a. What : PTPN XIII Memperkarakan Pencuri Brondolan Sawit
b. Where : di Blok 107 Kebun Inti PTPN XIII Parindu, Sanggau, Kalimantan Barat.
c. Why : Tiga Warga Tertangkap Tangan Membawa 60 Kg Brondolan Sawit. Harga Sekilogram Brondolan Sawit Rp.1000 hingga Rp.1.500.

3. Paragraf 3 (Siapa Yang Terlibat Masalah: WHO)

Tiga warga yang ditangkap adalah Yulita Linda (27), Agung (27), dan Norweti (30). Linda dan Agung merupakan suami-istri. Mereka ditahan di Mapolsek Tayan Hulu, Sosok, Sanggau, 14 hingga 17 Mei 2010.

a. Who : Tiga Warga yang Ditangkap Adalah : Yulida Linda (27), Agung (27) dan Norweti (30). Linda dan Agung Merupakan Suami Istri.
b. What : Mereka Ditahan.
c. Where : Di Mapolsek Tayan Hulu, Sosok, Sanggau
d. When : 14 hingga 17 Mei 2010.

4. Paragraf 4 (Penjabaran Unsur “HOW”)

Kejadian berawal pada 14 Mei. Ketika itu Linda berembuk dengan suaminya untuk membayar uang SPP anak mereka. Sudah setahun ini anak mereka menunggak uang SPP. Mereka juga harus membayar uang seragam sekolah Rp 480 ribu.

a. When : Kejadian Berawal Pada 14 Mei.
b. Who : Linda
c. How : Ketika Itu Linda Berembuk Dengan Suaminya Untuk Membayar Uang SPP Anak Mereka. Sudah Setahun Ini Anak Mereka Menunggak Uang SPP. Mereka Juga Harus Membayar Uang Seragam Sekolah Rp.480 ribu.

5. Paragraf 5 (Penjabaran Unsur “HOW”)

Saat itu datang Norweti. Ia mengajak Linda mencari buah sawit di kebun milik PTPN XIII. Agung melarang istrinya ikut. “Perbuatan itu bisa dianggap mencuri,” kata Agung. Agung berangkat ke kebun miliknya sambil memberikan uang Rp 15 ribu untuk biaya mencicil uang SPP anak mereka.

a. Who : Norweti, Linda dan Agung
b. What : Mencari Buah Sawit
c. Where : di Kebun Milik PTPN XIII
d. How : Agung Melarang Istrinya Ikut.

6. Paragraf 6 (Penjabaran Unsur “HOW”)

Linda dan Norweti berangkat menuju kebun milik PTPN XIII. Selama dua jam, dari pukul 14.00 hingga 16.00, keduanya mengumpulkan sekitar 60 kilogram sawit. “Kami mengambil buah yang jatuh dari pohon dan tak diangkut. Kami kumpulkan dan masukkan karung,” kata Linda.

a. Who : Linda dan Norweti
b. Where : Kebun Milik PTPN XIII
c. When : Selama dua Jam, dari Pukul 14.00 hingga 16.00
d. What : Keduanya Mengumpulkan 60 Kg Sawit.
e. How : “Kami Mengambil Buah Yang Jatuh Dari Pohon dan Tak Diangkut. Kami Kumpulkan dan Masukkan Karung,” kata Linda.

7. Paragraf 7 (Penjabaran Unsur “HOW”)

Buah sawit itu sudah busuk. Buah yang sudah jatuh diperkirakan tidak dipakai PTPN XIII lagi. “Saya yakin ini tidak dibawa dan tidak dibutuhkan perusahaan,” kata Norweti. (Menerangkan kondisi Buah).

a. What : Buah Sawit Itu Sudah Busuk
b. How : Buah Sawit Yang Sudah Jatuh Diperkirakan Tidak Dipakai PTPN XIII lagi. “Saya Yakin Ini Tidak Dibawa dan Tidak Dibutuhkan Perusahaan,” Kata Norweti.

8. Paragraf 8 (Penjabaran Unsur “HOW”)

Karena tak sanggup membawa sendiri, Linda memberi tahu Agung melalui SMS. Dia meminta suaminya datang untuk membawa dua karung berisi sawit. “Saya baru saja operasi sesar. Jadi, tak sanggup bawa karung itu,” kata Linda. (Menerangkan Upaya Mengeluarkan Brondolan Sawit).

a. Why : Karena Tak Sanggup Membawa Sendiri, Linda Memberi tahu Agung. Dia meminta suaminya datang untuk membawa dua karung berisi sawit. “Saya baru saja operasi sesar. Jadi, tak sanggup bawa karung itu,” kata Linda.

9. Paragraf 9 (Penjabaran Unsur “HOW”)

Agung datang mengendarai sepeda motor dan mengangkut dua karung sawit tersebut di bagian depan motor. Di perjalanan, ia bertemu Razak, satpam PTPN XIII, Segianto, polisi Tayan Hulu, dan Asman, anggota TNI. Ketiga orang itu baru saja menonton pertandingan sepak bola di Sanjan Emberas.

a. Who : Agung, Razak (Satpam) dan Segianto (Anggota Polsek Tayan Hulu) dan Asman (Anggota TNI).
b. How : Agung Datang Mengendarai Sepeda Motor dan Mengangkut Dua Karung Sawit Tersebut di Bagian Depan dan bertemu dengan Razak, Segianto dan Asman.

10. Paragraf 10 (Penjabaran Unsur “HOW”)

Razak curiga melihat karung di sepeda motor Agung. Ia minta Agung ke kantor satpam PTPN XIII. Setelah diperiksa dan kedapatan membawa sawit, Agung dibawa ke Polsek Tayan Hulu.
Dari pemeriksaan, Agung mengakui membawa dua karung berisi buah sawit tersebut. Polisi mengenakan Pasal 363 dan 362 KUHP, pencurian yang dilakukan secara bersama. Ancaman hukumannya selama-lamanya 7 tahun penjara.

11. Paragraf 11 (Penjabaran Unsur “HOW”)

Agung menyatakan hanya membawa sawit itu. Kemudian polisi memanggil Linda dan Norweti. Polisi menahan Agung. Linda dan Norweti diperbolehkan pulang. Keduanya diminta membuat surat pernyataan tak melakukan perbuatan itu lagi. Namun, karena khawatir dengan kondisi suaminya, Linda minta ditahan juga.

12. Paragraf 12 (Penjabaran Unsur “HOW”)

Linda meminta Norweti membawakan pakaian dan kedua anaknya. Sebab, dia tak membawa pakaian, dan anaknya tak ada yang menjaga. “Anak di rumah tak ada yang mengasuh. Jadi, dibawa ke kantor polisi juga,” kata Linda.

13. Paragraf 13
Polisi menahan Agung di sel tahanan. Linda dan dua anaknya di ruangan Polsek Tayan Hulu. Di kantor polisi, mereka tidur beralas tikar. Hari pertama, kondisi kedua anak itu baik saja. Hari kedua, anak-anak mulai rewel dan menangis. Hari ketiga, dua anak itu mulai sakit. Akhirnya, polisi memberikan penangguhan penahanan.

14. Paragraf 14

Mereka dibebaskan dengan syarat wajib lapor setiap Senin. Pihak PTPN XIII bersikukuh melanjutkan kasus ini ke pengadilan. Berkas sudah dikirim ke kejaksaan.

15. Paragraf 15

Anggota DPD Kalimantan Barat, Erma Ranik, mengatakan seharusnya kasus ini dihentikan. Sebab, dampak dari kasus tersebut tidak hanya terhadap orangtua, tetapi juga terhadap anak-anaknya. “Anak akan mengalami trauma. Banyak efek timbul dengan kasus tersebut. Terutama pada psikologi anak.”
Erma meminta kasus ini dihentikan dan selesai secara kekeluargaan. Erma secara resmi akan mengirim surat kepada Kementerian BUMN agar Direksi PTPN XIII diganti. “Sebab, mereka telah melakukan tindakan sewenang-wenang,” katanya. Erma bersama anggota DPD lainnya berjanji mengawal kasus ini.

16. Paragraf 16
Hairiah, anggota DPD dari Kalimantan Barat, menyatakan penyesalan atas sikap Direksi PTPN XIII. Menurut dia, apa yang dilakukan warga merupakan bentuk dari tidak terpenuhinya kebutuhan mendasar warga. “Seharunya PTPN mengembangkan CSR bagi warga yang berada di sekitarnya,” kata Hairiah. Corporate Social Responsibility merupakan bentuk dari tanggung jawab sosial perusahaan terhadap warga di sekitarnya.

17. Paragraf 17

SD Hasugian, Manager Kebun Inti, Kembayan, Sanggau, menyatakan selama ini sudah sering terjadi pencurian buah sawit. “Sudah terlalu banyak yang diselesaikan secara kekeluargaan.”

18. Paragraf 18

Menurut Hasugian, sebagai pegawai BUMN yang diberi mandat pemerintah, dia harus melakukan penanganan. Kalau dia memberikan toleransi terhadap pencurian, orang yang sudah pernah dipenjara atau sedang menjalani proses pemeriksaan, akan protes. “Ini efek domino yang akan terjadi. Orang akan mempertanyakan hal itu.”

19. Paragraf 19

Hasugian memberikan data, pada tahun 2008 ada sekitar 1.000 ton buah tandan segar (BTS) hilang. Jumlah itu nilainya setara dengan Rp 1,2 miliar. Pada 2009 buah sawit yang hilang berkurang menjadi ratusan ton saja. Pada 2010, dari Januari hingga Agustus, ada sekitar 16 kasus pencurian. “Jumlah yang dicuri biasanya lebih besar, karena tidak ketahuan,” katanya.

20. Paragraf 20
Hasugian mengatakan, manajemen PTPN XIII terpaksa menempuh jalur hukum karena ingin memberikan edukasi atau pendidikan kepada warga. Sebab, selama ini yang sudah dilakukan, setiap ada masalah selalu dilakukan penyelesaian secara adat. “Ketika hukum adat sudah dilakukan, dan mereka melakukan lagi, cara hukum positif yang kita lakukan.”

21. Paragraf 21

Selaku badan usaha milik negara (BUMN) yang menangani 4.300 hektare kebun inti dan 5.000 hektare kebun plasma, Hasugian mempunyai kewajiban meningkatkan hasil kebun. Salah satu cara yang dilakukan adalah mengurangi pencurian sawit dan memangkas tengkulak sawit hasil warga.

22. Paragraf 22

Erma Ranik mengatakan, bila PTPN XIII ingin menjadikan hal itu sebagai bentuk pembelajaran, sangat mengkhawatirkan. “Sangat tidak masuk akal, untuk membuat efek jera dengan uang Rp 60 ribu,” katanya.

23. Paragraf 23

Erma akan menyiapkan tujuh pengacara untuk melakukan pembelaan. Salah satu pengacara, Marselina, menyatakan dalam penanganan kasus hukum ada aspek keadilan. Tidak hanya menegakkan hukum. “Biaya yang akan dikeluarkan untuk sidang tidak sebanding dengan harga sawit yang diambil,” katanya.

24. Paragraf 24

P Girsang, General Manager Distrik Kalimantan Barat II, mengaku prihatin atas apa yang terjadi. Menurut dia, PTPN XIII sudah melakukan berbagai pemberdayaan pada masyarakat yang hidup dan tinggal di sekitar kebun. Warga diberi berbagai pekerjaan semisal memberi pupuk dan memelihara tanaman . “Intinya, kalau warga mau bekerja, tidak akan kelaparan,” katanya.

25. Paragraf 25

Repotnya, warga di sekitar kebun PTPN XIII tidak mau bekerja sebagai petani kebun. “Setiap hari kami malah mendatangkan puluhan truk pekerja dari luar daerah. Sebab, warga di sini sudah tak mau bekerja seperti itu lagi,” kata Girsang.

26. Paragraf 26

Pencurian yang terjadi biasanya dilakukan orang yang sudah tidak mempunyai kebun plasma. Dan, brondolan yang jatuh dari pohon merupakan sawit paling bermutu. Sebab, kandungan minyaknya mencapai 40 persen. Buah tandan segar hanya memiliki kandungan minyak 20 persen hingga 22 persen.

27. Paragraf 27

PTPN XIII sudah menggelontorkan dana Corporate Social Responsibility Rp 32 miliar untuk memberdayakan warga. Dana itu diberikan selama tahun 1998 – 2010 untuk semua daerah di Kalimantan.

28. Paragraf 28

Humas PTPN XIII, Subardi, menyatakan kewajiban PTPN XIII sebatas melaporkan kepada yang berwajib, sekecil apa pun permasalahan yang menyangkut kasus hukum. Masalah pencurian brondolan kelapa sawit sudah di ranah hukum. Dia meminta semua menyerahkan penanganan kasus ini kepada aparat hukum. “Mari kita belajar menghargai hak-hak orang lain. Jangan hanya menonjolkan hak sendiri,” kata Subardi. Sebab, hidup memang seperti itu. Katanya. (*)

Dimuat di Voice of Human Right (VHR)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s