Bupati Bengkayang Akui Banyak Warganya Belajar di Malaysia


Oleh : KRISANTUS & Y. CAHYONO.

Butuh Pengorbanan Untuk Mencintai Indonesia

Meski anggaran pendidikan dalam APBN telah ditetapkan sebesar 20 persen, namun hal itu belum memberi pengaruh signifikan bagi dunia pendidikan didaerah perbatasan seperti di Bengkayang. Faktanya, tak sedikit generasi muda di Bumi Sebalo yang menimba ilmu di Negeri Jiran, Malaysia.

Hal ini diakui Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot dalam ramah tamah dengan Anggota Komisi X DPR-RI, Kamis (2/12) di Hotel Lala Golden, Bengkayang. Komisi X DPR-RI merupakan komisi yang membidangi pendidikan, pemuda, olahraga, pariwisata, kesenian dan kebudayaan.

Minimnya sarana dan prasarana pendukung dalam pengembangan dunia pendidikan didaerah ini menjadi salah satu pokok permasalahan yang menyebabkan pilihan warga Bengkayang untuk mengenyam pendidikan di Kuching, Malaysia yang dianggap jauh lebih menunjang.

Cinta Indonesia atau Malaysia

Dihadapan Anggota DPR-RI, Gidot mengatakan sampai saat ini sekolah-sekolah yang ada di Bengkayang masih banyak yang belum ditunjang dengan ruang kelas yang memadai, perpustakaan, perumahan guru, laboratorium dan beberapa hal tekhnis lainnya. Sementara untuk mengatasi hal tersebut daerah belum ditunjang dengan anggaran yang mencukupi. Dana Alokasi Khusus (DAK) pendidikan misalnya, Gidot menyebutkan DAK yang diterima daerah ini dari pemerintah pusat masih jauh dari harapan.

“Seharusnya kita malu dengan mereka (Malaysia), sebagai beranda terdepan di Indonesia dalam hal pendidikan kita kalah jauh dengan Malaysia,” ungkap Gidot.

Padahal, menurutnya, bila dunia pendidikan di Bengkayang menjadi perhatian khusus pemerintah pusat, Ia berkeyakinan lima tahun mendatang keadaan akan menjadi terbalik, dimana akan banyak warga negeri jiran yang menuntut ilmu di daerah ini. Berkaitan dengan kedatangan anggota DPR-RI itu pula, Gidot berharap agar para wakil rakyat tersebut dapat membawa aspirasi yang disampaikan guna diperjuangkan hingga terealisasi. Apalagi hal ini merupakan upaya pembangunan daerah perbatasan.

Terkait apa yang disampaikan Bupati Bengkayang tersebut, Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Bengkayang, Paulus Anwardi mengakui bila pembangunan dunia pendidikan didaerah ini masih banyak kekurangan, sehingga kekurangan ini pulalah yang menjadi salah satu faktor utama ketertinggalan Bengkayang dengan daerah lain yang ada di Kalbar.

Dapat dibayangkan, Paulus Anwardi menyebutkan, hingga saat ini di Kecamatan Siding masih belum memiliki Sekolah Menengah Atas (SMA) ataupun Taman Kanak-kanak (TK), sedangkan di Kecamatan Jagoi, masih belum memiliki TK. Setakat ini yang sudah dimiliki lengkap kedua Kecamatan yang berbatasan langsung dengan Malaysia itu, yakni SD dan SMP.

Sementara itu, terkait keinginan Pemda Bengkayang agar memiliki SMK Terpadu bagi daerah perbatasan, Ketua Rombongan Komisi X DPR-RI, H. Zulfadhli, meminta agar Bupati Bengkayang dapat memberikan bahan kepada Komisi X DPR RI sebagai bahan laporan ke pusat untuk merealsiasikan SMK unggulan di Bumi Sebalo. Karena ada dana hibah dari luar negeri untuk pendidikan. Sedangkan pembangunan GOR, akan disampaikan kepada Menpora .

“Yang terpenting, berikan info yang secukupnya dan bahan yang lengkap karena ini sudah tepat waktunya, apalagi anggaran sudah ditetapkan tinggal menunggu rapat DIPA lagi,” jelasnya.

Menurutnya, bila aspirasi daerah disampaikan dengan disertai data dan informasi yang lengkap maka akan mempermudah pihaknya di DPR memperjuangkan aspirasi tersebut.

“APBN 2011 sudah ditetapkan sekarang tinggal membahas DIPA pada awal tahun depan. Sekarang kami sedang berjuang untuk masukan dari daerah-daerah. Supaya pendidikan di daerah perbatasan maju, sesuai dengan program pemerintah ialah untuk meningkatkan pendidikan di daerah perbatasan, pulau-pulau kecil dan pulau terluar di Indonesia,” tandas mantan Ketua DPRD Kalbar 2004-2009 itu.