Harga Karet Naik, Tapi Hujan


Oleh : KRISANTUS

Musim Kemarau, berat getah (lateks) menyusut, harga cenderung normal. Sementara selama bulan Oktober dan Nopember dimana intensitas hujan tinggi harga karet lumayan mahal. Demikian ungkap petani Karet asal Dusun Sebol, Ermina beberapa waktu lalu dikediamannya.

Ermina mengaku bersyukur karena harga karet naik selama dua bulan terakhir, dari semula Rp.12 ribu-Rp.15ribu per kilogram, beberapa waktu ini harga karet mengalami kenaikan menjadi Rp.16 ribu per Kilogram sampai dengan Rp.21 ribu.

“Sebenarnya senang dengan kenaikan harga karet saat ini, tapi hujan menghalangi kami petani karet untuk mendapatkan lebih banyak sadapan,” terangnya.

Dari hasil karet itu, Ermina mengaku cukup untuk membantu pendapatan suami dan terkadang uang dari hasil penjualan karet digunakan untuk biaya pendidikan anaknya dibangku kuliah. Karet merupakan salah satu komoditi daerah Bengkayang disamping Jagung, Lada, Padi dan tanaman palawija lainya. Ermina mengatakan, karet yang saat ini disadapnya berasal dari perkebunan karet yang disediakan pemerintah pada akhir tahun 1980-an hingga awal tahun 1990-an.

Sejak Pemekaran, Sudah Tujuh Kali Tes CPNS


Oleh : KRISANTUS

Tahun Anggaran 2010 ini, Pemda Bengkayang kembali membuka kesempatan bagi para peminat CPNS untuk menjadi bagian dari abdi pemerintah daerah hasil pemekaran kabupaten Sambas tersebut. Berdasarkan Pengumuman Nomor: 800/763/BKD-C/2010 yang dikeluarkan Pemda Bengkayang, tahun ini akan menerima 107 Formasi Guru, 91 Formasi untuk Tenaga Kesehatan dan 89 untuk tenaga Teknis. Tentunya hal itu menjadi angin segar bagi mereka yang berminat menjadi PNS, apalagi bagi mereka yang telah mengikuti tes lebih dari sekali, pastinya memiliki harapan besar agar dalam penerimaan tahun ini bisa lulus.

“Sejak Kabupaten Bengkayang dimekarkan dari Kabupaten Sambas, 1999 lalu, hingga kini, saya telah mengikuti tes CPNS di Bengkayang sebanyak tujuh kali, tetapi nasib belum berpihak,” ungkap Yuventius Piter Tomo, Kamis (18/11) di Bengkayang. Continue reading