Uang Beban Kerja Terlambat


Meski terlambat, uang Beban Kerja (BK) guru di Kabupaten Bengkayang akhirnya cair juga, Kamis (2/9) kemarin. Uang BK tersebut semestinya diterima setiap satu semester, yakni pada periode Januari-Juni dan dapat dicairkan pada Juli.

“Semua UPT (Unit Pelaksana Tekhnis) Dinas Pendidikan sudah diberitahu bahwa hari ini (kemarin-red) uang BK sudah cair,” terang Kabid Pendidikan Dasar dan TK (Dikdas dan TK) Dinas Pendidikan Bengkayang, Godelivus, Kamis (2/9) diruang kerjanya. Dalam prosesnya, pencairan uang dilakukan dengan menstransfer langsung ke rekening UPT, kecuali UPT Bengkayang dan Samalantan yang diserahkan langsung oleh bagian keuangan Dinas. Perihal cairnya uang BK tersebut dibenarkan salah seorang guru, Petrus Take yang saat itu berada di Dinas Pendidikan. Lebih lanjut, Godelivus menyebutkan, uang BK bagi para guru, sejak tahun 2009 lalu diberikan dua kali setahun, yakni periode Januari-Juni dan Juli-Desember. Terkait keterlambatan penyerahan uang BK semester pertama yang baru dibagikan pada September ini, Godelivus mengatakan hal itu terjadi tidak terlepas dari permasalahan administrasi. Artinya, laporan yang semestinya diserahkan kepada Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Daerah tak dapat dipenuhi. Continue reading

Advertisements

Yulius David, Bupati LIRA Bengkayang 2010-2014


Akibat ulah yang dilakukan, DPW LSM Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) akhirnya mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Pemecatan terhadap Bupati LIRA yang lama, yakni F. Sarkawi. Oleh kepengurusan, nama yang disebutkan dianggap telah menyalahi aturan yang terjadi dalam organisasi LIRA. Sebagai akibatnya, maka DPW LIRA Propinsi Kalbar mencabut SK No.003/DPW/DPD 017/LIRA/A-2/XII-2010 dan memecat F. Sarkawi sebagai Bupati LIRA. Sebagai gantinya, sesuai dengan SK No. 01/DPW-LIRA/VIII-2101 tertanggal 21 Juli 2010, diangkatlah Yulius David, S.Sos sebagai Bupati LIRA periode 2010-2014.

Dalam penjelasannya, Yulius David menyebutkan, pada periode sebelumnya, yakni 2004-2010 Bupati LIRA dijabat oleh F. Sarkawi. Sarkawi terpilih kembali sebagai Bupati LIRA periode 2010-2014, Januari lalu. Namun karena dianggap telah melakukan tindakan yang menyalahi aturan organisasi, maka pimpinan DPW mengambil sikap tegas dengan pemecatan. Selain itu, pada saat pemilihan untuk periode yang kedua dianggap tidak memenuhi quorum.

“Hal ini demi terciptanya sistem organisasi yang bersih, harmonis dan bermanfaat baik bagi anggota organisasi maupun masyarakat luas,” terang Yulius perihal masalah internal yang terjadi.

Dengan pengangkatan dirinya sebagai Bupati LIRA, mantan Sekda LIRA 2004-2010 itu mengatakan pada tahap awal kepengurusan dirinya mempunyai sedikitnya lima tugas pokok yang harus diselesaikan, yakni menyusun struktur organisasi LIRA Kabupaten, menyediakan kantor LIRA, menyediakan badan hukum LIRA, membuka akses LIRA dan Perempuan LIRA ke instansi pemerintah serta menyiapkan pelantikan pengurus LIRA dan perempuan LIRA disetiap kecamatan.

“Bersama pengurus, saya berharap kedepan LIRA akan menjadi lebih baik dan konsisten memperjuangkan kepentingan public,” tegas Yulius.

LIRA merupakan lembaga yang bergerak dibidang pengembangan SDM, penyedia informasi dan penelitian, pusat pengembangan usaha UMKM, koperasi, advokasi serta pusat jaring kerja kerakyatan. Sistem organisasi LIRA menganut sistem pemerintahan RI, yakni Presiden LIRA (pimpinan pusat), Gubernur (Propinsi), Bupati (Kabupaten), Camat (Kecamatan).

Oknum PNS dan Mahasiswa Terjerat Kasus Narkoba


Polres Bengkayang melalui Kapolsek Kota berhasil menangkap basah dua orang Oknum PNS dilingkungan Pemda Bengkayang, yakni YS dan RN (keduanya perempuan) serta Seorang Mahasiswa, HK (pria) yang hendak mengkonsumsi obat-obatan terlarang jenis sabu.Ketiganya tertangkap rumah kost YS yang terletak dijalan Tiga Desa, Bengkayang pada pukul 22.00, Minggu Malam (8/8) oleh enam orang anggota Polsek dan dua orang Anggota Polres. Dari penyergapan tersebut, selain mengamankan ketiga oknum tersebut, pihak Kepolisian juga mengamankan sedikitnya tiga barang bukti.

“Satu paket Narkotika Golongan I Jenis Sabu, dua buah korek gas dan Bong atau alat isap yang terbuat dari botol larutan penyegar (Lasegar),” sebut Kapolres Bengkayang, AKBP Mosyan Nimitch melalui Kapolsek Bengkayang, IPTU M. Kuswicaksono di Mapolsek Bengkayang, Kamis (12/8).

Terkait penangkapan tersebut, hingga saat ini ketiga orang tersebut masih diamankan di sel tahanan Mapolsek untuk dimintai keterangan guna memperoleh informasi lainnya lebih lanjut dalam pengembangan kasus. Sementara, mengenai status ketiganya, Kuswicaksono menyebutkan baru satu orang, yakni YS yang telah ditetapkan sebagai tersangka atas kepemilikan Sabu.

BB Sabu

Lebih lanjut, dalam keterangan yang disampaikannya, Kuswicaksono masih enggan menyebutkan darimana asal barang (Sabu) yang dimiliki tersangka, hal ini menurutnya demi kepentingan penyidikan. Namun pada kesempatan itu pula, Ia menuturkan asal barang tersebut kemungkinan berasal dari Singkawang ataupun Bengkayang sendiri.

“Masih rahasia, nanti setelah perkembangan lebih lanjut, pasti akan kita beritahu darimana asal barang tersebut,” tegasnya.

Disebutkannya, penangkapan terhadap ketiga orang itu merupakan kejadian pertama pada tahun 2010 ini dalam kasus Psikotropika di wilayah hukum Polsek Bengkayang. Atas kejadian ini pula, ketiganya dijerat sesuai dengan UU Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dengan hukuman minimal lima tahun penjara.

Satu Ditahan, Dua Dilepas

Masih ingat penangkapan dua orang oknum PNS dan seorang Mahasiswa terkait kasus Narkoba pada pada pukul 22.00, Minggu Malam (8/8) oleh enam orang anggota Polsek dan dua orang Anggota Polres dirumah kost YS yang terletak dijalan Tiga Desa, Bengkayang? Kini, dari ketiga oknum tersebut, satu orang, yakni YS masih ditahan di Sel Mapolres Bengkayang, sementara dua orang lainnya, yakni YN dan HK sudah dilepas.

“YS masih ditahan sementara YN dan HK sudah dilepas, namun kedua orang yang dilepas tersebut harus wajib lapor, seminggu 2 kali,” kata Kapolsek Bengkayang, IPTU M.Kuswicaksono, Rabu (1/9) diruang kerjanya.

Berdasarkan keterangan Kuswicaksono, penahan terhadap YS terkait kepemilikannya atas Obat-obatan Psikotropika MDMA Golongan I jenis Sabu. Selain itu dimaksud untuk membantu proses penyidikan selanjutnya. Sedangkan dua orang lainnya, YN dan HK dilepas karena tidak dapat dijerat dengan pasal tertentu.

Lebih lanjut, Kuswicaksono menyebutkan berkas perkara masih dalam proses penyidikan. Berkas tersebut baru akan dilimpahkan ke pihak Kejaksaan apabila persyaratan yang diperlukan sudah lengkap. Mengenai saksi, selain kedua oknum tersebut, Kuswicaksono mengatakan pemilik kost juga akan dijadikan saksi dalam kasus tersebut. Terkait asal barang bukti, Kapolsek tidak bersedia membeberkan darimana asalnya.

“Kapan waktu penyelesaian kasus ini belum dapat dipastikan,” tandasnya.

Keberadaan Warnet di Bengkayang Tak Terdata


Sejak akhir Oktober 2008 lalu keberadaan Warung Internet (Warnet) di Bengkayang menunjukkan perkembangan yang signifikan, terutama dilihat dari segi jumlah pemilik. Berdasarkan pantauan langsung selama ini (Oktober 2008-sekarang), di Kota Bengkayang sudah berdiri lebih dari 15 Warnet. Warnet pertama adalah Warnet Oscar yang terletak di jalan Jeranding AR. Keberadaan Warnet tersebut diakui sangat berperan membantu masyarakat dalam memperoleh informasi lebih cepat. Bahkan, kini warnet tidak hanya menjadi konsumsi orang dewasa tetapi juga anak-anak. Itu merupakan sebagian kecil dari dampak positif dari adanya Warnet.

Masyarakat tentunya menyambut positif keberadaan Warnet itu. Namun disebalik itu, pada saat dikonfirmasi, Plt. Kepala Dinas Perhubungan, Telekomunikasi dan Informasi Bengkayang,menyebutkan belum ada satupun Warnet di Bengkayang yang terdaftar di Dishub.

“Sampai saat ini, belum ada satupun Warnet yang masuk data Dinas Perhubungan,” terang Jakeran.

Lebih tegas, Jakeran mengatakan Warnet di Bengkayang masih ilegal karena tidak memiliki badan hukum. Oleh karena itu, dalam beberapa waktu ini pihaknya akan melakukan kajian dan membuat terobosan sehingga kedepannya warnet di Bengkayang dapat terdata dan mampu memberikan konstribusi bagi daerah. Terkait hal itu juga, dirinya mengatakan perlunya sebuah Perda terhadap keberadaan Warnet.

Gunawan : “PNS Kantor Camat Siding Bermental Kerupuk”


Salah satu akses transportasi darat menuju Kecamatan Siding

Kecamatan Siding merupakan salah satu dari 17 Kecamatan yang ada di Bengkayang. Berdiri dari hasil pemekaran kecamatan Jagoi Babang pada tahun 2006 lalu. Kecamatan yang terkenal dengan budaya Nyobeng ini juga merupakan kecamatan yang berbatasan langsung Negara tetangga Malaysia, selain Jagoi Babang. Sebagai garda terdepan bangsa ini, tidak salah bila pembangunan didaerah ini membutuhkan campur tangan pemerintah yang cukup besar.

Perlu diketahui, hingga kini Siding belum memiliki akses jalan Darat yang memadai, penerangan listrik belum dirasakan sebagian besar masyarakat, apalagi akses informasi. Pembangunan itu tak semesti dilihat dari segi fisik semata, namun tak kalah pentingnya juga adalah pembangunan terhadap mentalitas para abdi Negara maupun masyarakat setempat.

Terkait pembinaan mental pegawai, saking gusarnya, Anggota Komisi B DPRD Bengkayang, asal kecamatan Siding, yakni Gregorius Gunawan, meminta agar Pemda Bengkayang melalui instansi terkait perlu meningkatkan kualitas pegawai yang dimiliki, khususnya para abdi Negara yang ditugaskan di Kantor Camat Siding serta Kecamatan Siding umumnya.

Gunawan mengaku gusar karena dari laporan masyarakat selama ini pegawai dikantor Camat Siding sangat jarang sekali “Menjenguk” kantor tempat mereka bertugas. Dari laporan tersebut pula, Gunawan menyebutkan dalam jangka waktu sebulan masyarakat sangat kesulitan menemui pegawai Kantor Camat bila hendak berurusan terkait administrasi yang menyangkut kepentingan masyarakat setempat.

Selain dari laporan masyarakat Siding, Gunawan mengakui baru-baru ini dirinya pernah mendatangi langsung kantor Camat Siding, tentunya pada hari kerja. Namun apa yang ditemui?

“Tak ada seorangpun pegawai Kantor Camat yang berada ditempat,” terangnya dengan nada tinggi saat ditemui, Selasa (31/8) di Bengkayang.

Gunawan yang merupakan putra daerah setempat, mengaku miris melihat kondisi itu. Dari kediamannya menuju Kantor Camat Siding tidak mencapai 1 Km. Kondisi ini menurutnya telah berlangsung lama, semakin parah yakni sejak pergantian Camat awal tahun 2010 lalu dari Agustinus BDN ke Tulen. Selama dijabat oleh Tulen, kantor tersebut kantor camat seolah-olah menjadi tempat tinggal para dedemit atau istilah lainnya Hantu.

Sejak berdiri, Camat kecamatan Siding pernah dijabat oleh Dodorikus AP (Plt. BKD), Petrus B. Diaz (Plt. Kadis PU), Kasa (Dinas Pertanian), Agustinus BDN (Kabag Umum) dan terakhir Tulen (sebelumnya di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil).
Dengan apa yang terjadi, Gunawan mengatakan hal itu tak perlu ditutup-tutupi sebagai pengetahuan khalayak ramai guna menjadi perhatian serius pihak pemerintah dalam membangun Kecamatan Siding. Terhadap kinerja itupula, sebagai perpanjangan lidah masyarakat, Gunawan mengharapkan adanya pembinaan pegawai, terlebih yang ditugaskan di Kantor Camat Siding.

“PNS Kantor Camat Siding bermental kerupuk, motivasi kerja mereka dalam melayani masyarakat sangat rendah, buktinya masyarakat sangat kesulitan dengan tindakan mereka yang jarang masuk kantor,” tegas legislator PNBK ini.

Mental kerupuk disamakannya dengan mental PNS yang mudah lembek, tidak memiliki kreativitas, bermalas-malasan, motivasi melayani masyarakat sangat rendah, tak memahami kinerja yang dibebankan kepada mereka, mental yang hanya mengharapkan gaji buta tanpa kerja.

“Lebih parah, para staff malah membanggakan pemimpin yang jarang berada ditempat. Mungkin mereka senang agar sama-sama tidak ngantor,” ujarnya.

Lebih lanjut, Gunawan menambahkan, alasan minimnya infrastruktur yang dimiliki wilayah Kecamatan Siding bukan sebuah alasan sehingga para pegawai tidak menjalani tugas mereka. Sebab, satu hal yang perlu diingat adalah, para pegawai tersebut pada saat mendaftarkan diri sebagai PNS telah bersedia menyatakan siap ditempatkan diberbagai daerah di NKRI.

“Jika minimnya infrastruktur menjadi alasan mereka jarang masuk kantor, kenapa mereka menjadi PNS,” singgungnya sembari menyebutkan bahwa akses mencapai kantor camat siding dapat melalui jalur sungai dan darat.

Mengenai pegawai kondisi pegawai yang demikian, legislator yang tergabung dalam Fraksi Bersatu DPRD Bengkayang ini, mengungkapkan setakat ini pihaknya belum mengambil kebijakan agar dilakukan pemanggilan instansi yang membawahinya, namun tanggungjawab diharapkan dapat menjadi perhatian serius instansi. Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Sungkung III (Senoleng), Yosua Pape yang dihubungi via telepon, Selasa (31/8) mengatakan setakat ini urusannya dengan Pemerintahan Kecamatan Siding berjalan lancar meski harus menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mencapai pusat kecamatan.

“Saya tidak menyebutkan mereka tidak pernah masuk. Tetapi menurut saya, ada beberapa faktor yang menyebabkan para pegawai kantor camat dikatakan jarang masuk, pertama adalah keterbatasan infrastruktur dikecamatan ini,” terang Yosua Pape.

Akses jalan merupakan hal yang dimaksud. Diakuinya, dari Desa Sungkung III membutuhkan perjalanan (jalan kaki) selama 1 hari. Akses transportasi juga dapat melalui jalur sungai, namun hal itu jarang dilakukannya, karena motor air tidak mampu mencapai pusat kecamatan, apalagi jika musim panas. Bila tak menemui pegawai di Kantor, biasanya Yosua langsung mendatangi rumah pegawai yang terkait kinerja dirinya sebagai Kepala Desa. Dikatakannya, bila saat ini para pegawai jarang masuk kantor, semua tak terlepas dari minimnya perhatian pemerintah terhadap infrastruktur jalan diwilayah Siding. Selain jalan, tak tersedianya fasilitas penerangan (listrik), kemudian tempat tinggal pegawai menjadi alasan lain bila dikatakan pegawai dikantor tersebut jarang masuk.

“Semestinya hal ini menjadi perhatian pembangunan pihak pemerintah, baik eksekutif maupun legislative Bengkayang,” tandas Yosua.