Kuatir Biaya Berobat Tinggi, Kholiq Bawa Sariyem Pulang


Meski berada dekat dengan pusat pelayanan kesehatan, namun tak mudah bagi Kholiq Muhamad Amin menjangkau menikmatinya. Faktornya, Kholiq tak memiliki dana untuk mengobati kedua anaknya. Namun ternyata Tuhan masih berpihak padanya. Dimana dimasa seperti itu, Kholiq sempat bertemu dengan salah satu anggota DPRD Bengkayang, Herman. Atas anjuran Legislator asal Partai Damai Sejahtera (PDS) itu, Kholiq Muhammad Amin (64) akhirnya memberanikan diri membawa kedua anaknya, Sariyem (16) dan Endang Larasati (8) berobat ke RSUD Bengkayang, Rabu (14/7). Di RSUD, Kholiq diminta bertemu dengan dr. Bolly untuk melakukan pengobatan. Tetapi sesampai di RSUD, Kholiq tak menemui dokter yang dimaksud. Ia pun kemudian membawa kedua anaknya kepada dokter lain yang bertugas. Oleh pihak RSUD, Sariyem diperiksa darahnya dan diberi obat, sedangkan Endang hanya dicek darahnya tanpa diberi obat. Atas pemeriksaan itu, Kholiq harus membayar biaya sebesar Rp.110 ribu. Karena tak memiliki uang sejumlah itu, Kholiq terpaksa berhutang. Pada saat di RSUD, Kholiq ditanya oleh petugas apakah kedua anaknya yang sakit tetap dirawat atau dibawa pulang saja. Khwatir tak mampu membayar biaya pengobatan, Kholiq terpaksa membawa pulang kedua anaknya itu.

“Itupun, biaya berobat kemarin belum saya bayar karena tak punya uang,” ungkap Kholiq yang ditemui dikediamannya, Kamis (15/7) di Dusun Lamat Semalat, Desa Cipta Karya, Sei Betung. Kesehariannya, untuk menopang hidup keluarganya, Kholiq hanya mengharapkan pendapat dari penjualan tempe yang dibuatnya bersama istri dari 5 kg kacang kedelai. Tempe baru bisa dijual dua hari sekali, artinya dalam satu minggu, tempe buatan Kholiq hanya bisa dijual sebanyak tiga kali. Dari 5 Kg kacang kedelai itu, mereka mampu membuat 150 bungkus tempe. Satu bungkus diberi harga Rp.1000. Bila terjual semua, pendapatan berkisar Rp.100 ribu per dua hari setelah dipotong Rp.30 ribu harga 5 Kg kedelai dan biaya produksi lainnya. Kholiq tak memiliki pekerjaan lain lagi selain membuat tempe. Sebab itu, dari hasil penjualan tempe digunakan untuk seluruh keperluan hidup rumah tangganya. Maka tak heran ketika kedua anaknya tersebut jatuh sakit, Kholiq tidak memiliki uang untuk berobat. Kholiq memiliki empat orang anak yang semuanya perempuan. Anak pertamanya sudah menikah.

Mengingat pentingnya kesehatan kedua anaknya itu, pria yang mengaku lahir pada tahun 1946 ini berupaya agar memperoleh pelayanan kesehatan. Diceritakannya, sebelum berobat ke RSUD Bengkayang, Kholiq membawa kedua anaknya itu ke Puskesmas Sungai Betung pada Jumat (9/7) karena mengalami demam panas, usai diperiksa, disebutkan keduanya terkena penyakit Tubercolosis (TBC). Oleh pihak Puskesmas, Kholiq diminta agar membawa kedua anaknya itu ke RSUD Bengkayang.

Karena tak memiliki uang, Kholiq terpaksa menunda membawa anaknya berobat. Khwatir sakit anaknya semakin parah, Kholiq akhirnya mendatangi Staf desa untuk meminta pengantar Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang sejatinya tidak bisa lagi digunakan untuk berobat gratis. Setelah itu, Ia mendatangi Kepala Desa untuk meminta tandatangan dan cap desa. Usai mendapatkan cap dan tandatangan, Kholiq kemudian mendatangi Camat Sungai Betung untuk mengesahkan surat tersebut.

Camat kemudian mengarahkan Kholiq agar kembali ke Puskesmas guna mendapatkan surat rujukan agar bisa berobat ke RSUD. Pihak Puskesmas tidak mengarahkannya ke Dinas Kesehatan, melainkan ke Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Bengkayang untuk meminta bantuan dana. Mendapat surat keterangan yang dibawa Kholiq, pihak Dinsosnakertrans kemudian membuat surat rekomendasi agar dirinya bisa memperoleh bantuan dana guna mengobati anaknya yang ditujukkan ke Dinas Kesehatan. Dari Dinas Kesehatan, Kholiq kemudian diminta mengajukan permohonan bantuan di Bagian Keuangan (Badan Pengelola Keuangan Daerah). Kholiq tak beruntung. Karena ketika dirinya mendatangi Bagian Keuangan, oleh Staf di kantor tersebut langsung menyatakan bahwa dana Rp.140 juta yang dimiliki telah habis.

“Kalau mau tunggu, empat bulan lagi baru dana tersebut ada,” kata Kholiq menirukan ucapan yang diberikan pegawai kantor tersebut.

“Menunggu empat bulan? Apakah anak saya yang sakit saat ini harus menunggu waktu empat bulan lagi baru bisa berobat?” pikir Kholiq. Usai mengurus Surat Permohonan Bantuan itulah, Kholiq menyebutkan dirinya bertemu dengan Herman dan diceritakannya kesulitan yang dialami kepada legislator yang berasal dari Sungai Betung tersebut hingga kedua anaknya bisa berobat meski masih berhutang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s