Atlet FPTI Bengkayang Berasal dari Pelajar


Sejak pertengahan Juni lalu, para atlet Panjat Tebing Bengkayang yang tergabung dalam Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Bengkayang mulai pemusatan latihan guna menghadapi Pekan Olahraga Propinsi (Porprop) 24-31 Juli ini. Latihan itu dipusatkan di Kompleks SMAN 1 Bengkayang, dimana terdapat satu-satunya sarana Wall Climbing (Papan Panjat) yang tersedia. Saat didatangi, terlihat para atlet sedang berlatih. Mereka didampingi seorang Pelatih, Andika Ricardo. Sejak pemusatan latihan digelar, latihan dilakukan setiap hari. Terkadang sore, namun pada masa liburan sekolah latihan diadakan pagi dan sore. Latihan rutin yang diberikan berupa latihan fisik, tekhnik dan mental.

“Semua atlet FPTI Bengkayang yang akan dibawa pada Porprop berasal dari Pelajar SMA,” kata Andika, Rabu (14/7) di Bengkayang. Sebagian besar atlet tersebut direkrut dari SMAN 1 Bengkayang. Pada Porprop ke IX 2006 lalu, FPTI Bengkayang hanya mengirim 10 atlet, sedangkan Porprop tahun ini, FPTI mengirim 13 atlet, yang terdiri dari 9 atlet Putra dan sisanya 4 atlet putri. Dari jumlah tersebut, Andika mengatakan, 10 atlet diantaranya mendapat anggaran latihan dari KONI, sementara 3 atlet sisanya tidak dan mendapat biaya latihan dari Pengkab FPTI.

Kendati demikian, Andika optimis anak didiknya tersebut akan mampu berbuat banyak pada ajang Porprop kali ini. Optimisme itu diungkapkannya karena merujuk prestasi yang diraih beberapa atletnya pada event resmi yang pernah diikuti, salah satunya pada Kejurda. Andika kemudian membeberkan, optimisme itu muncul terhadap potensi yang dimiliki para atlet putri. Dari empat medali (emas) yang ditargetkan, tiga medali tersebut diharapkan mampu diraih atlet putri.

“Peluang itu ada pada kategori (kelas) Boulder Putri, Lead Putri, Speed Putri dan Lead Putra,” terang pria yang juga Alumnus SMAN 1 Bengkayang tahun 2001 itu. Empat kategori ini jelasnya merupakan bagian dari 17 kategori (kelas) yang akan dipertandingkan. Meski optimis, Andika tak menutup mata terhadap kekuatan lawan dari daerah lain. Dikatakannya, dari 13 Kabupaten/Kota yang menurunkan atlet panjat tebingnya pada Porprop kali ini, tantangan paling berat datang dari kubu Kota Pontianak, Ketapang dan Sambas.

“Tanpa meremehkan kekuatan daerah lain, ketiga daerah ini akan menjadi lawan berat kita,” tandas Andika.

Bengkayang Tak Punya Panti Jompo


Hingga tahun 2010 ini, di Bengkayang belum memiliki Panti Jompo. Tempat untuk menampung orang lanjut usia. Padahal seiring berjalannya waktu, hal itu pasti banyak ditemui didaerah yang memiliki jumlah penduduk lebih dari 200 ribu jiwa ini.
“Bengkayang belum punya panti Jompo,” sebut Kasi Rehabilitas Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertran) Bengkayang, Ely, Rabu (7/7) di ruang kerjanya. Meski demikian, dikatakan, setakat ini di Bumi Sebalo telah memiliki 5 Panti Asuhan (PA), khusus untuk merawat anak-anak. Yakni PA Putra Bangsa (Sungai Raya Kepulauan), Tunas Mulya (Sei Betung), Yayasan Peduli Masyarakat Pedalaman (Ledo), Yayasan Peduli Masyarakat Pedesaan (Bengkayang) serta Yayasan Agape (Teriak).

Siman : “Lawan Berat, Kota Pontianak”


Mendekati pelaksanaan Pekan Olahraga Propinsi (Porprop) X pada 24-31 Juli ini, Pengkab Federasi Olahraga Karate Indonesia (FORKI) Bengkayang terus mempersiapkan diri dengan latihan keras guna mencapai target perolehan medali. Guna menyemangati para atlet dalam setiap latihan, Ketua Umum FORKI Bengkayang, Siman Siahaan menyempatkan diri memantau langsung para atletnya, Kamis (8/7) di Lapangan Kompi 641 Bengkayang. Usai melihat situasi latihan atletnya, Pria yang juga legislator asal Golkar ini menyebutkan bila pada ajang dua tahunan tersebut pihaknya menargetkan setidaknya akan meraih 4 medali emas, 4 perak dan 4 perunggu. Jika dikalkulasikan dengan jumlah atlet yang dikirim, berarti 1 atlet ditargetkan meraih medali. Pada ajang kali ini, FORKI Bengkayang mengirim 12 karateka, didampingi 2 Pelatih, 1 Manejer dan 1 orang Ketua Kontingen.

Meski menargetkan setiap karateka dapat meraih medali, Siman tak ingin takabur. Menurutnya, untuk meraih medali, kontingen yang dibawanya itu tidak semudah yang dibayangkan, sebab karateka daerah lain juga memiliki kemampuan yang mumpuni.

“Lawan paling berat akan datang dari kontingen Kota Pontianak,” ungkap Sekretaris Komisi B DPRD Bengkayang ini. Kota Pontianak, menurutnya unggul karena beberapa faktor yang lebih mendukung peningkatan kemampuan para atlet mereka. Faktor sarana latihan, lawan tanding maupun dukungan berbagai pihak merupakan diantaranya. Namun demikian, pihaknya tetap optimis Karateka Bengkayang akan berbicara banyak pada ajang Porprop kali ini.

Tak Ada Lahan Usaha, Warga SP I Banyak Pindah


Kabupaten Bengkayang yang sangat luas dan jumlah penduduk masih sedikit, sehingga pemerintah pusat memasukan warga transmigrasi. Pada tahun 2006 telah masuk penduduk Transmigrasi dari Jawa. Dikarenakan tanah berpasir dan tidak ada lahan usaha membuat warga trans banyak yang pindah.

Kepala Bidang Transmigrasi Disosnakertrans (Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi) Bengkayang mengatakan, saat ini ada tiga lokasi binaan transmigrasi yang ditanganinya. “SP I sejak 2006, dan SP II 2007 di Kecamatan Capkala berasal dari Jawa, dan penduduk setempat. Sedangkan SP III3 2008 dari NTT (Nusa Tenggara Timur), Jawa, dan penduduk setempat di Monterado,” terang Alus, Selasa (6/7) di Bengkayang.

Menurutnya, dana pembinaan bersumber dari anggaran APBN dan APBD. SP I dan II, sarana dan prasarananya ialah perumahan tempat tinggal, rumah ibadah (Masjid dan gereja), Rumah petugas UPT, kantor UPT, SD Transmigrasi, Balai Pertemuan, dan Pustu (Puskesmas Pembantu).

“SP III hanya ada rumah pemukiman dan gudang saja. Jumlah penduduk di ketiga lokasi tersebut masing-masing 200 kepala keluarga. Dikarenakan tanah pada SP I tidak subur (Tanah berpasir) untuk pertanian sehingga banyak warga yang keluar dari trans dan yang dapat bertahan hanya 177 KK saja,” paparnya. Selain tanah berpasir, masih ada permasalahan yang dihadapi oleh penduduk SP I, seperti hak mereka yang satu KK (Kepala Keluarga) sebenarnya mendapatkan lahan perkarangan 0,25 hektar, LU (Lahan Usaha) I sebanyak ¾ hektar, LU II seluas 1 hektar.
Namun, kenyataan dilapangan mereka hanya mendapatkan lahan perkarangan saja. kasus ini sampai sekarang masih belum terjawab, banyak pertanyaan yang kita hadapi untuk menganalisa permasalahan tersebut.

“Sebenarnya SP I tidak lama lagi berakhir statusnya yang akan diserahkan kepada Pemda Bengkayang, dikarenakan masih banyak permasalahan terjadi disana maka diperpanjang. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga mencari nafkah di luar trans,” ungkap Alus. Macam mana mau memenuhi kebutuhan sehari-hari, apabila tidak ada lahan. Inilah problema yang dihadapi para transmigrasi. Apabila pemerintah pusat menyerahkan kepada Pemda Bumi Sebalo, maka masyarakat dan pemkab belum siap. Dikarenakan sarana dan prasarananya belum memadai.
Saat ini kami sedang mengajukan proposal kepada pemerintah pusat untuk membangun sarana dan prasarana yang sangat dibutuhkan oleh mereka. Mudah-mudahan 2011 dapat terealisasikan.

Polres Bengkayang Dapat Vicom dan HT dari Mabes Polri


Polres Bengkayang mendapatkan alat penunjang untuk kegiatan monitoring didaerah perbatasan pada HUT Bhayangkara ke 64 tahun dari Mabes Polri. Alat tersebut ialah Vicom dan HT. CCTV akan dipasang di tiga titik daerah perbatasan yakni Pos Polisi dan titik nol perbatasan yang ada di Kecamatan Jagoi Babang. Kapolres Bengkayang AKBP M. Nimitch SIK mengatakan, hari ini (Kemarin, Red) melaksanakan kegiatan Simtekpol (Sistem Informasi manajemen Teknologi Kepolisian) dalam rangka syukuran memperingati HUT Bhayangkara ke 64 tahun di halaman Mapolres.

“Mapolres Bengkayang mendapatkan masing-masing tiga unit CCTV dan HT dari Mabes Polri. CCTV akan dipasang di tiga titik di Kecamatan Jagoi Babang yakni dua unit di Pos Polisi, satunya di titik nol perbatasan,” beber orang nomor satu di Mapolres Bumi Sebalo di ruang kerjanya, Selasa (6/7).

Lebih lanjut, Nimitch mengatakan, alat vicom dipasang di wilayah Kalbar khususnya pada daerah perbatasan, termasuk Aruk Kabupaten Sambas dan Entikong Kabupaten Sanggau. Keunggulan CCTV dapat di zoom bahkan plat kendaraan roda dua maupun roda empat jelas terliha. sedangkan HT buatan Motorola XTS 2500 dapat menjangkau wilayah seluruh Indonesia.

“Tujuan alat ini ialah untuk memonitoring atau memantau segala kegiatan yang ada di daerah perbatasan. Jadi tidak lagi turun kelapangan yang membutuhkan waktu relatif lama untuk mengetahui perkembangan di daerah perbatasan.,” terangnya. Saat acara berlangsung, telah diserahkan oleh Divisi Telekomatika Mabes Polri melalui rekanan pihak ketiga. Untuk Vicom oleh saudara Mario dan Ronald, sedangkan HT oleh Edwin dan Jandry. Keempat orang tersebut merupakan tehnisi dari rekanan pihak ketiga. Keunggulan Vicom dan HT ini ialah biaya yang dikeluarkan relatif murah.

Kecamatan Lumar Segera Miliki BP3K


Upaya meningkatkan berbagai produk pertanian di Kecamatan Lumar perlu didukung beragam faktor penting, termasuk faktor pengetahuan yang harus dimiliki petani, sarana dan prasarana lain sangat dibutuhkan. Oleh karena itu tak salah bila di daerah hasil pemekaran kecamatan Ledo ini dibangun Balai Penyuluhan Pertanian, Peternakan dan Kehutanan (BP3K). Dimana dengan keberadaannya, BPP memegang peranan penting dalam meningkatkan mutu dan kualitas para petani maupun peningkatan produksi pertanian. Berdasarkan pengumuman pelelangan umum Dinas Pertanian Nomor : 03/PPBJ/DISTAN/2010 yang diumumkan di Harian Borneo Tribune, tahun ini di kecamatan Lumar akan dibangun BPP. Dari pengumuman itu juga menyebutkan anggaran pembangunan gedung tersebut mencapai Rp.350 juta yang terlebih dahulu diadakan pelelangan kepada para Kontraktor.

“Pembangunan itu perlu kita dukung karena penting bagi petani setempat dalam meningkatkan produksi pertanian mereka yang akhirnya berguna dalam meningkatkan taraf ekonomi masyarakat,” kata salah seorang masyarakat, Subarjo, Sabtu (3/7) melalui telefon. Namun, penyandang Sarjana Sosial Fisip Untan ini mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan pengawasan terhadap pembangunan fasilitas itu nantinya sehingga pembangunannya dapat dikerjakan dengan maksimal, bukan asal jadi.

Selain pembangunan BPP, pada tahun ini melalui Dinas Pertanian, dikecamatan Lumar juga akan diadakan perluasan sawah baru di Dusun Jelatok, Desa Seren Selimbau dengan luas 16 Hektar serta dengan pagu dana Rp.120 juta.

Berkaitan dengan pembangunan BP3K tersebut, Kasi Sarana, Prasarana Tanaman dan Hortikultural Dinas Pertanian Bengkayang, F. Kumas, Senin (5/7) dikediamannya mengatakan pembangunan tersebut akan mengambil tempat di Jalan Jelatok, Dusun Lumar, Samping SMA Negeri 1 Lumar. “Pembangunan BP3K itu merupakan program pemerintah. Dimana dengan program tersebut, setiap kecamatan akan memilikinya (dibangun),” kata Kumas. Dikatakannya, diadakannya BP3K dimaksud untuk meningkatkan kualitas para petani disetiap kecamatan serta memudahkan koordinasi antar petani ataupun kelompok tani dikecamatan.

Infrastruktur Yang Sudah Dibangun, Jangan Ditelantarkan


Anggaran yang dikeluarkan bagi setiap pembangunan, termasuk pembangunan infrastruktur hendaknya dapat dimanfaatkan sebaik mungkin demi kepentingan masyarakat umum. Jangan hanya dibangun kemudian tidak digunakan dengan semestinya. Misalnya seperti yang terjadi pada salah satu bangunan di wilayah Kecamatan Teriak. Bangunan yang diketahui dari beberapa narasumber sebagai gedung Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Teriak hingga saat ini masih belum digunakan.

“Sudahlah tidak digunakan, gedung tersebut juga tidak dirawat. Buktinya gedung hampir tertutup rumput yang tumbuh subur disekitarnya,” kata A. Runse, (3/7) dikediamannya. Runse menilai, dengan kondisi saat ini, pembangunan gedung tersebut terkesan menghabiskan anggaran saja. Semestinya sebelum dibangun, instansi terkait dapat memastikan terlebih dahulu fungsi dan manfaat kedepannya. Paling tidak pegawai yang bersedia menempatinya sudah disiapkan. “Bila dibiarkan lama-lama seperti itu, tidak menutup kemungkinan keadaan gedung cepat rusak,” tandasnya.