SMA Borneo Terima Siswa Baru Tanpa Seleksi


Berperan serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Bumi Sebalo dan bersamaan dengan akan dimulainya tahun ajaran baru 2010/2011, SMA Borneo akan memberikan kesempatan bagi tamatan SMP untuk mendaftarkan diri. SMA yang memulai tahun ajarannya pada tahun 2001 dan telah menamatkan 6 angkatan itu akan mengadakan penerimaan siswa baru dari 1 hingga 15 Juli 2010. “Tahun 2010/2011 ini, SMA Borneo akan menerima siswa untuk lima kelas. Setiap kelas akan diisi 35 siswa,” kata Kepala Sekolah SMA Borneo melalui Wakasek Kurikulum, Wardi, S.Si, Kamis (1/7) di Bengkayang.

Menurut Wardi, penerimaan siswa baru tersebut, untuk saat ini tidak diadakan seleksi, artinya selama quota lima ruang kelas belum terpenuhi, siswa yang mendaftar akan diterima. Seleksi baru diadakan ketika pada masa berakhirnya pendaftaran terdapat kelebihan target siswa yang mendaftar. Sebab katanya, SMA Borneo memiliki komitmen tinggi dalam mencerdaskan SDM. Apa kaitannya? “SMA Borneo menerima siswa yang benar-benar ingin belajar, bukan hanya memilih (seleksi) siswa yang dikategorikan pintar saja. Kalau hanya menerima siswa yang memiliki IQ tinggi, bagaimana nasib mereka (siswa) yang memiliki IQ dibawahnya?,” terang Wardi. Diterangkannya lagi, penerimaan yang dilakukan dengan menyeleksi siswa otomatis akan menciptakan perbedaan dalam dunia pendidikan dan hal itu lebih banyak mengekang hak warga Negara untuk mendapatkan pendidikan. Mengenai ketika terjadinya kelebihan daya tampung sekolah, Wardi mengaku pihaknya tidak serta merta melakukan seleksi berdasarkan nilai, namun proses pertamanya dapat melalui seleksi administrasi ataupun keseriusan siswa untuk bersekolah. Tahun ajaran ini, dengan rincian 35 siswa perkelas, berarti siswa yang akan diterima berjumlah 175 siswa dari lima kelas yang disediakan. Saat ini SMA Borneo memiliki siswa kelas XI dan XII sekitar 350 siswa, setelah dikurangi 119 siswa yang mengikuti UN tahun ini. Apabila pada masa penerimaan siswa yang mendaftar memenuhi quota, berarti tahun ini SMA Borneo akan memiliki lebih dari 600 siswa.

Perjalanan Dinas, Jangan Dijadikan Ajang Jalan-Jalan


Mengikuti Studi Banding, Kunjungan Kerja, Pelatihan, Seminar dan sejenisnya oleh PNS ke suatu tempat atau daerah lain diluar ruang lingkup wilayah kerjanya menjadi aktivitas yang lumrah dijalani organisasi pemerintahan. Tujuannya pokoknya selain meningkatkan kinerja, juga guna mendapatkan data pembangunan yang dibutuhkan organisasi pemerintahan. Hal ini merupakan sesuatu yang positif. Namun apa jadinya ketika, seorang PNS diminta melakukan kunjungan kerja atau perjalanan dinas ke suatu daerah tertentu tanpa dilandasi keseriusan dalam mendukung kinerja mereka?.

Mengingat hal itu, Ketua LSM Aliansi Masyarakat Akar Rumput (AMAR), Frans Asok meminta agar PNS yang diberikan kepercayaan melakukan perjalanan dinas atau kunjungan kerja maupun kegiatan semacamnya yang notabenenya menggunakan uang Negara harus benar-benar dijalankan dengan baik. “Jangan pula, tugas yang diberikan kepadanya (PNS) hanya semata dijadikan sebagai ajang untuk jalan-jalan ataupun sebagai sumber lain untuk mendongkrak pendapatan mereka. Kalau itu terjadi, sia-sia uang Negara diberikan kepada mereka,” ungkap Asok, Kamis (1/7) di Bengkayang.

Pendapat yang disampaikan Asok ini berkaitan dengan Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) yang diberikan kepada PNS tertentu dalam instansi pemerintahan untuk menjalankan suatu tugas. Dimana tujuannya adalah agar mengingatkan pemerintah dalam setiap penggunaan uang Negara (dari SPPD) yang harus tepat sasaran, bukan sebagai upaya untuk menghabiskan anggaran semata tanpa memperoleh hasil. Artinya, perlu sebuah penegasan (syarat) tertentu bagi mereka yang berhak mendapatkan SPPD tersebut dengan maksud setiap menjalani tugas mereka dibebani dengan tanggungjawab besar.

Ketua BPD Bakti Mulya Ditangkap Polisi


Maksud hati ingin berbuat baik, namun kenyataannya malah terbalik yang berujung mendekam di Hotel Prodeo. Seperti yang dialami Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Bakti Mulya, Kecamatan Bengkayang, Fran Marto Asan. Maksud hatinya ingin membantu keluarga korban terjerat karena diduga melakukan aktivitas illegal loging, justru Dia yang dijebak dengan dalih pemerasan. Atas penangkapan itu, Fran Marto, merasa penangkapan terhadap dirinya oleh Anggota Polres Bengkayang sebagai sebuah tindakan yang ditelah diatur atau “Disetting” sedemikian rupa. Hal ini dikatakannya ketika ditemui di Sel Tahanan, Mapolres Bengkayang, Kamis (1/7).

Marto ditangkap, Rabu (30/6) di pasar Bengkayang, tepatnya di Rumah Makan Ade karena diduga melakukan tindak pidana pemerasan dan atau penipuan sesuai dengan Pasal 368 Ayat (1) KUHP. Penangkapan itu dilakukan oleh Bripka Asep Ramdani, Brigadir Iwan Suganda dan Briptu Ari Mustakim berdasarkan Surat Perintah Nomor : Sp.Kap/37/VI/2010/Reskrim.

Berdasarkan pengakuannya, Fran Marto mengatakan terjadinya penangkapan ketika Ia berniat membantu korban yang ditahan di Mapolres atas dugaan melakukan aktivitas illegal loging. Marto pun berkomunikasi dengan pihak keluarga salah satu dari lima orang yang mendekam di Sel Tahanan. Pihak yang mengaku keluarga itu adalah Muksin.

Dari jalinan komunikasi yang terjadi, Fran Marto bersedia membantu dengan cara mencari Pengacara bagi lima tahanan tersebut dengan maksud agar penahanan terhadap lima orang tadi dapat ditangguhkan. Terjadi tawar menawar dalam proses tersebut. Untuk mendapatkan pengacara, awalnya Marto menyebutkan agar Muksin menyediakan sejumlah uang senilai 10 juta yang dimaksud untuk membayar pengacara. Namun keduanya menyepakati agar disediakan uang sebesar Rp.5 juta. Namun sebagai uang muka, Muksin baru bisa menyediakan uang sebesar Rp.500 ribu karena tidak memiliki uang sejumlah yang disepakati.

Atas kesepakatan itu, Kamis (30/6) Marto dan Muksin bertemu di RM Ade guna menerima uang yang disediakan oleh Muksin. Dengan maksud, uang senilai 500 ribu itu sebagai uang muka mencari pengacara yang diharapkan dapat membantu para tahanan. Marto sendiri bermaksud akan menghubungi satu-satunya pengacara yang ada di Bengkayang, yakni Zakarias SH, agar bersedia menjadi pengacara bagi kelima orang tadi. Namun yang terjadi, usai Muksin menyerahkan uang Rp.500 ribu tersebut, Marto langsung ditangkap aparat kepolisian yang sejatinya telah berada di RM Ade.

“Setelah menerima uang itu, saya berniat untuk menghubungi bang Zek (sapaan Zakarias), agar bersedia menjadi pengacara bagi lima tahanan di Polres,” terang Marto.
Mengenai kasus itu, ketika hendak ditemui, Kapolres Bengkayang sudah tidak berada ditempat kerja lagi, sedangkan Wakapolres pada saat yang sama sedang mengadakan rapat dengan beberapa jajarannya. Begitu juga dengan atasan yang lainnya, seperti Kasat Reskrim, dikunjungi ruang kerjanya sudah kosong.