*Kontingen Pesparawi Bengkayang: Dari Juara Umum Melorot ke Peringkat Enam


Pelaksanaan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Tingkat Propinsi ke-VI pada 13-17 Juli telah usai. Dimana kali ini, Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya yang mendominasi, masing-masing peringkat 1 dan 2. Sementara Bengkayang yang menyandang predikat Juara Umum pada Pesparawi ke-V mendapatkan hasil yang kurang maksimal. Raihan Kontingen Pesparawi Bengkayang melorot, dari juara umum menjadi peringkat ke-6 dengan 2 emas dan 6 perak.

“Persiapan yang kurang maksimal merupakan kendala utama menurunnya prestasi tersebut,” ungkap Ketua I Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Bengkayang, Martinus Khiu, Senin (19/7) di Bengkayang.

Kurangnya persiapan yang dimaksud itu seperti terbatasnya waktu latihan, terutama bagi kelompok vokal anak yang masih baru karena para peraih emas pada ajang tiga tahun lalu usia mereka sudah tidak memenuhi persyaratan lagi. Selain itu, beberapa faktor lain dijadikan alasan ketidakberhasilan tersebut, seperti faktor kelelahan yang mempengaruhi olah vokal kontingen.

“Hasil ini akan menjadi bahan evaluasi kita guna mempersiapkan diri diajang yang sama tiga tahun mendatang (2013) di Kota Singkawang,” terang pria yang juga sebagai Anggota KPU Bengkayang ini berseloroh. Dari 130 peserta dengan 9 kategori yang diikuti, Kontingen Pesparawi Bengkayang berhasil meraih 2 emas dalam kategori Solo Remaja Putra dan Putri. Sedangkan enam Perak, masing-masing diraih pada kategori Paduan Suara Dewasa, Wanita, Vokal Grup Dewasa, Vokal Grup Anak, Solo Anak (Putra) dan Solo Anak (Putri).

Advertisements

Terkait Asrama Tak Terealisasi, Bupati Lama Tinggalkan Hutang


Menjelang Pemilihan Bupati dan wakil Bupati dalam Pilkada 2005 lalu, Bupati terpilih, yakni Jacobus Luna bersama pasangannya Suryadman Gidot pernah menjanjikan pembangunan asrama bagi mahasiswa di Pontianak, baik Putra maupun Putri. Namun hingga menjelang berakhirnya massa jabatan keduanya pada 10 Agustus 2010 ini, janji tersebut masih belum terealisasi. Janji pendirian asrama itu sendiri diumbarkan menjelang Pilkada 2005 di Mess Pemda Bengkayang, yakni pada tahun 2004. Pada saat itu, sebagian mahasiswa/I yang kuliah di Pontianak, diundang hadir oleh Bupati saat ini. Bupati mengumbar janji yang manis akan mendirikan asrama mahasiswa putra/I dalam satu kompleks. Hal ini diakui mantan Ketua Asrama Mahasiswa Bengkayang 2006, Hartono. Dimana pada saat diumbarnya janji tersebut, dirinya menghadiri langsung pertemuan dengan calon bupati di Mess Pemda Bengkayang, Jalan Perdana Pontianak.

“Puluhan mahasiswa hadir dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Pontianak, saat itu memang Bupati menjanjikan akan ada pembangunan asrama bagi mahasiswa, baik putra maupun putri yang hendak dibangun dalam satu komplek apabila terpilih pada Pilkada 2005,” terang Alumnus Fisipol Untan ini menerangkan, Senin (19/7) melalui telepon.

Dengan semakin dekatnya masa berakhir kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati 2005-2010 pada 10 Agustus mendatang, kemungkinan besar hal itu tak akan terealisasi. Kecuali asrama mahasiswa Putra yang saat ini berada di Sungai Raya, Samping Mapolda Kalbar. Menyikapi hal itu, salah seorang Mahasiswa asal Bengkayang, Alo sangat menyayangkan tindakan tersebut, padahal janji itu dinyatakan akan segera direalisasi apabila pasangan tersebut terpilih pada Pilkada 2005. Namun kenyataan, hal itu sepertinya akan menjadi janji belaka hingga berakhirnya masa jabatan.

“Kami sebagai generasi muda yang bertekad untuk menimbakan ilmu supaya kelaknya dapat membantu membangun Bumi Sebalo lebih maju dari sebelumnya tetapi tidak diperhatikan oeh pemda. Padahal kami merupakan salah satu warga Kabupaten Bengkayang,” kesal mahasiswa jurusan PPKN, STKIP Pontianak ini ditemui di Bengkayang, Jumat (16/7).

Alo melanjutkan, pemda baru menyediakan asrama untuk putra saja etapi putrid tidak ada. Asrama yng ada di Gang Ceria III Jalan Sungai Raya Dalam depan Mapolda sampai saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Pada tahun 2009 lalu pernah dilakukan perehaban terhadap asrama tersebut teapi hanya sebatas pengecatan dinding, penggantian atap seng, penggantian plafon atau dek, dan penambahan tinggi lantai ruang pertemuan. Tetapi masih banyak kerusakan lainnya tidak diperbaiki. WC banyak yang rusak, halaman asrama apabila hujan akan tenggelam digenangi air, sarana olahraga yang ada hanya tenis meja. Ini sangat memprihatinkan sekali bagi penghuninya. Belum lagi jalan menuju asrama yang becek dan tergenang apabila hujan turun.

“Mudah-mudahan Bupati dan Wakil Bupati terpilih dapat merealisasikan pembangunan asrama bagi mahasiswa dan mahasiswi asal Bumi Sebalo yang ada di ibu kota provinsi. Para teman-teman sangat mendambakan hal tersebut,” tandasnya.

Kuatir Biaya Berobat Tinggi, Kholiq Bawa Sariyem Pulang


Meski berada dekat dengan pusat pelayanan kesehatan, namun tak mudah bagi Kholiq Muhamad Amin menjangkau menikmatinya. Faktornya, Kholiq tak memiliki dana untuk mengobati kedua anaknya. Namun ternyata Tuhan masih berpihak padanya. Dimana dimasa seperti itu, Kholiq sempat bertemu dengan salah satu anggota DPRD Bengkayang, Herman. Atas anjuran Legislator asal Partai Damai Sejahtera (PDS) itu, Kholiq Muhammad Amin (64) akhirnya memberanikan diri membawa kedua anaknya, Sariyem (16) dan Endang Larasati (8) berobat ke RSUD Bengkayang, Rabu (14/7). Di RSUD, Kholiq diminta bertemu dengan dr. Bolly untuk melakukan pengobatan. Tetapi sesampai di RSUD, Kholiq tak menemui dokter yang dimaksud. Ia pun kemudian membawa kedua anaknya kepada dokter lain yang bertugas. Oleh pihak RSUD, Sariyem diperiksa darahnya dan diberi obat, sedangkan Endang hanya dicek darahnya tanpa diberi obat. Atas pemeriksaan itu, Kholiq harus membayar biaya sebesar Rp.110 ribu. Karena tak memiliki uang sejumlah itu, Kholiq terpaksa berhutang. Pada saat di RSUD, Kholiq ditanya oleh petugas apakah kedua anaknya yang sakit tetap dirawat atau dibawa pulang saja. Khwatir tak mampu membayar biaya pengobatan, Kholiq terpaksa membawa pulang kedua anaknya itu.

“Itupun, biaya berobat kemarin belum saya bayar karena tak punya uang,” ungkap Kholiq yang ditemui dikediamannya, Kamis (15/7) di Dusun Lamat Semalat, Desa Cipta Karya, Sei Betung. Kesehariannya, untuk menopang hidup keluarganya, Kholiq hanya mengharapkan pendapat dari penjualan tempe yang dibuatnya bersama istri dari 5 kg kacang kedelai. Tempe baru bisa dijual dua hari sekali, artinya dalam satu minggu, tempe buatan Kholiq hanya bisa dijual sebanyak tiga kali. Dari 5 Kg kacang kedelai itu, mereka mampu membuat 150 bungkus tempe. Satu bungkus diberi harga Rp.1000. Bila terjual semua, pendapatan berkisar Rp.100 ribu per dua hari setelah dipotong Rp.30 ribu harga 5 Kg kedelai dan biaya produksi lainnya. Kholiq tak memiliki pekerjaan lain lagi selain membuat tempe. Sebab itu, dari hasil penjualan tempe digunakan untuk seluruh keperluan hidup rumah tangganya. Maka tak heran ketika kedua anaknya tersebut jatuh sakit, Kholiq tidak memiliki uang untuk berobat. Kholiq memiliki empat orang anak yang semuanya perempuan. Anak pertamanya sudah menikah.

Mengingat pentingnya kesehatan kedua anaknya itu, pria yang mengaku lahir pada tahun 1946 ini berupaya agar memperoleh pelayanan kesehatan. Diceritakannya, sebelum berobat ke RSUD Bengkayang, Kholiq membawa kedua anaknya itu ke Puskesmas Sungai Betung pada Jumat (9/7) karena mengalami demam panas, usai diperiksa, disebutkan keduanya terkena penyakit Tubercolosis (TBC). Oleh pihak Puskesmas, Kholiq diminta agar membawa kedua anaknya itu ke RSUD Bengkayang.

Karena tak memiliki uang, Kholiq terpaksa menunda membawa anaknya berobat. Khwatir sakit anaknya semakin parah, Kholiq akhirnya mendatangi Staf desa untuk meminta pengantar Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang sejatinya tidak bisa lagi digunakan untuk berobat gratis. Setelah itu, Ia mendatangi Kepala Desa untuk meminta tandatangan dan cap desa. Usai mendapatkan cap dan tandatangan, Kholiq kemudian mendatangi Camat Sungai Betung untuk mengesahkan surat tersebut.

Camat kemudian mengarahkan Kholiq agar kembali ke Puskesmas guna mendapatkan surat rujukan agar bisa berobat ke RSUD. Pihak Puskesmas tidak mengarahkannya ke Dinas Kesehatan, melainkan ke Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Bengkayang untuk meminta bantuan dana. Mendapat surat keterangan yang dibawa Kholiq, pihak Dinsosnakertrans kemudian membuat surat rekomendasi agar dirinya bisa memperoleh bantuan dana guna mengobati anaknya yang ditujukkan ke Dinas Kesehatan. Dari Dinas Kesehatan, Kholiq kemudian diminta mengajukan permohonan bantuan di Bagian Keuangan (Badan Pengelola Keuangan Daerah). Kholiq tak beruntung. Karena ketika dirinya mendatangi Bagian Keuangan, oleh Staf di kantor tersebut langsung menyatakan bahwa dana Rp.140 juta yang dimiliki telah habis.

“Kalau mau tunggu, empat bulan lagi baru dana tersebut ada,” kata Kholiq menirukan ucapan yang diberikan pegawai kantor tersebut.

“Menunggu empat bulan? Apakah anak saya yang sakit saat ini harus menunggu waktu empat bulan lagi baru bisa berobat?” pikir Kholiq. Usai mengurus Surat Permohonan Bantuan itulah, Kholiq menyebutkan dirinya bertemu dengan Herman dan diceritakannya kesulitan yang dialami kepada legislator yang berasal dari Sungai Betung tersebut hingga kedua anaknya bisa berobat meski masih berhutang.

Bupati Hadiri Wisuda 37 Mahasiswa Akbid


Mahasiswa Akademi Kebidanan (Akbid) angkatan ke-2 (2007), kembali diwisuda, Kamis (15/7). Acara wisuda tersebut, seperti tahun sebelumnya, dihadiri langsung Bupati Bengkayang, Jacobus Luna. “Mahasiswi yang diwisuda sebanyak 37 orang dari 40 Mahasiswi yang dikirim,” sebut Kabag Humas dan Protokol Bengkayang melalui Staf, Geralkus Free, Kamis (15/7) yang dihubungi via telepon seluler.

Pemberian beasiswa ini merupakan kerjasama antara Pemda Bengkayang dengan Politeknik Kesehatan Yogyakarta yang dikelola Departemen Kesehatan. Dengan diwisudanya mahasiswi tersebut, berarti selama dua tahun berturut-turut, Pemda Bengkayang telah menamatkan 76 tenaga akademis dibidang kesehatan, dimana pada tahun 2009 lalu tercatat 39 orang yang diwisuda dari 40 mahasiswi yang dikirim. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Bengkayang, dr. I Made Putra Negara ketika diwawancarai menjelang wisuda mahasiswa angkatan pertama, para lulusan Akbid ini nantinya terlebih dahulu dimagangkan di tiap Poskedes diseluruh kecamatan yang ada di Bengkayang guna memberikan pengalaman kerja bagi mereka.

KONI Bengkayang Tak Ambil Atlet Pulau Jawa


Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bengkayang memiliki komitmen untuk meningkatkan prestasi atlet daerah, sebab itu pada ajang Pekan Olahraga Propinsi (Porprop) ke-X 2010 ini, lembaga tertinggi olahraga di Bumi Sebalo tersebut menyebutkan, dari keseluruhan atlet yang mewakili Bengkayang tidak ada yang diambil dari luar, khususnya atlet dari pulau Jawa. “Atlet yang ikut serta dalam kontingen Bengkayang tidak ada yang diambil (dibeli) dari luar, khususnya atlet dari pulau Jawa,” terang Sekretaris KONI Bengkayang, Happy Langi, Kamis (15/7) diruang kerjanya.

Perihal tak direkrutnya atlet dari pulau Jawa itu, Happy menegaskan bahwa pihaknya beralasan lebih mementingkan prestasi yang diperoleh atlet daerah sendiri, bukan karena pembelian atlet luar. Selain itu, Happy menyebutkan, lebih dari separuh atlet daerah ini yang disertakan pada Cabor prestasi merupakan atlet yang telah memiliki prestasi diberbagai even maupun ajang olahraga resmi.

“Dari 120 atlet Cabor prestasi, 67 diantaranya merupakan atlet yang telah memiliki prestasi diberbagai event maupun ajang resmi. Jadi tidak ada alasan untuk merekrut atlet dari luar,” tegasnya. Dengan potensi yang dimiliki itu, wajar jika 120 atlet yang disertakan untuk membela Bengkayang pada Porprop semuanya direkrut dari atlet daerah ini. Ini berarti menunjukkan organisasi olahraga daerah ini lebih mempercayakan kemampuan atlet produk daerah sendiri.

Bupati Resmi Lepas Kontingen Porprop Bengkayang


Sebanyak 257 Atlet, Official dan Panitia yang tergabung dalam Kontingen Bengkayang secara resmi dilepas Bupati Bengkayang, Jacobus Luna, guna menghadapi penyelenggaraan Pekan Olahraga Propinsi (Porprop) ke-X 2010 di Pontianak. Pelepasan dilaksanakan di Aula Kantor Bupati Bengkayang, Senin (19/7) yang dihadiri seluruh Pengurus Kabupaten (Pengkab) masing-masing Cabang Olahraga yang disertakan dalam olahraga terakbar tingkat propinsi tersebut.

Dalam sambutannya yang disampaikan secara lisan dihadapan para atlet, Bupati berharap dengan keikutsertaan para atlet pada Porprop kali ini dapat membuahkan prestasi yang dapat menunjukkan bahwa daerah ini memiliki atlet berpotensi yang patut diperhitungkan daerah lain. Meski terbentur anggaran yang minim, Luna meminta agar para atlet tetap memiliki jiwa juang yang tinggi dalam membela daerah.

Luna melanjutkan, perlu diketahui bahwa Kabupaten Bengkayang baru tiga kali mengikuti Porprov yang ke-X. Walaupun dengan keterbatasan fasilitas yang ada, pemda akan berusaha memprogramkan secara bertahap. Dari data yang diperoleh dari KONI Bengkayang, pada Porprop kali ini, daerah dengan sebutan Bumi Sebalo ini akan mengirim 19 Cabang Olahraga yang terdiri dari 14 Cabor Prestasi dan 5 Cabor Favorit.

“Hal ini dikarenakan keterbatasan biaya. Walau pun hanya mengikuti 19 cabor(Cabang Olahraga), modal utama untuk berhasil meraih medali ialah semangat untuk menang, rasa memiliki daerah, mengetahui kelemahan dan kelebihan baik diri sendiri ataupun lawan, serta menjaga kekompakkan,” saran Luna yang telah menjabat selama dua periode ini. Memasuki tahap akhir persiapan menghadapi Pekan Olahraga Propinsi (Porprop) ke-X tahun 2010 ini, KONI Bengkayang memastikan akan mengirim 257 personil yang terdiri dari atlet, Official dan Panitia. Demikian data yang disampaikan Ketua KONI Bengkayang, melalui Sekretaris KONI, Happy Langi, Kamis (15/7) di Sekretariat KONI.

“Jumlah tersebut diantaranya, 120 atlet Cabang Olahraga (Cabor) Prestasi dengan 42 Official, kemudian 50 Atlit Cabor Favorit dengan 15 Official serta ditambah 30 orang panitia,” sebut mantan Anggota DPRD Bengkayang periode 1999-2004 itu. Kontingen Bengkayang ini, secara resmi akan dilepas pada 19 Juli di Aula Kantor Bupati dan setelahnya akan diberangkatkan. Di Pontianak, Kontingen Bumi Sebalo dipusatkan pada dua tempat, yakni di Mess Koperasi dan Mess Pemda Bengkayang.

Dari jumlah keseluruhan atlet yang dikirim itu, Happy Langi mengatakan pihaknya siap memberikan prestasi terbaik bagi daerah ini, terutama dari Cabor Prestasi yang lebih dari sebagian diisi para atlet yang sudah terasah kemampuannya diberbagai Kejuaraan maupun event.

Dua Triwulan Terlewati, ADD Belum Cair


“Kejadian ini sudah berlangsung sejak tahun 2008,” kata Kepala Desa Suka Bangun, Kecamatan Sungai Betung, Juli ketika ditemui, Rabu (14/7) di Bengkayang.

Hal itu diungkapkannya terkait hingga dua kali Triwulan pencairan dana Anggaran Dana Desa (ADD) yang masih belum dicairkan. Bengkayang memiliki 122 desa, 2 kelurahan dari 17 Kecamatan. Dana ADD seharusnya diperoleh setiap tiga bulan sekali selama satu tahun. Satu tahun berarti empat kali dicairkan.

“Sejak tahun 2008 dana ADD tak pernah cair pada triwulan pertama dan kedua,” sebut Kepala Desa yang memimpin 1358 jiwa dari 339 Kepala Keluarga (data tahun 2009) yang tersebar di dua dusun, Sebawak dan Sepoteng itu. Dana ADD yang diberikan kepada desanya senilai Rp.102.114.000 selama satu tahun.

Ditempat berbeda, Kepala Desa Lamolda, Gregorius Muksin mengakui hal yang sama, dimana sampai saat ini dana ADD untuk desa yang dipimpinnya masih belum dicairkan. Dengan demikian, selama tahun 2010 ini, para perangkat desa belum sekalipun menerima honor yang diperoleh dari dana ADD. Perangkat desa tersebut mulai dari Kepala Adat, Ketua RT, Dusun, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD), Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Ketua Tim PKK, termasuk Kepala Desa sendiri. Muksin, yang memimpin 864 jiwa dari 175 KK yang tersebar di Dusun Barelamat dan Baremada itu menyebutkan tahun ini, desanya akan menerima dana ADD sebesar Rp.100.792.700.

“Saat ini kami masih menunggu proses pencairan dana ADD sambil melengkapi berkas administrasi yang dibutuhkan,” tandas Alumnus Fisipol Untan ini.