Sudah Saatnya Bengkayang Miliki Pabrik Karet



Bengkayang sebagai daerah hasil pemekaran kabupaten Sambas 11 tahun lalu memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, baik berupa SDA yang dapat diperbarui maupun tak dapat diperbarui (tambang). Salah satu SDA yang dapat diperbarui itu adalah hasil karet. Tanaman yang berasal dari Negara Brasil yang dibawa Kolonial Belanda ke
Ndonesia ini merupakan tanaman yang menjadi sumber pendapatan sebagian
besar petani didaerah ini. Ajon, salah seorang petani karet asal Kecamatan Lumar mengaku sejak kecil pendapatan orang tuanya sebagian ditopang dengan penghasilan menyadap karet selain dari berladang dan menambang emas secara manual (mendulang). Ajon lahir tahun 1968. Naik turun harga karet telah dirasakannya. Bahkan saat ini, dirinya masih menggantungkan diri dengan hasil menyadap karet untuk membiayai hidup keluarga, termasuk biaya sekolah anaknya yang saat ini sudah duduk dibangku SMA. Markus, petani karet asal Lembah Bawang, sejak tahun 1990-an telah menikmati hasil dari kebun karet yang berasal dari bantuan pemerintah. Karet Unggul. Naik turun harga karet sudah dirasakan. Pengalamannya, pernah berhenti menyadap karet akibat harga yang sangat rendah. Namun ketika harga karet naik, Ia kembali menoreh. Dengan hasil karet, Markus mampu menghidupi dan menyekolahkan 4 orang anaknya. Ketergantungan kedua orang tersebut memunculkan harapan terhadap pemerintah Bengkayang terhadap kondisi mereka sebagi petani karet. Harapan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf perekonomian mereka. “Sudah saatnya Bengkayang memiliki pabrik karet sendiri sehingga mampu mengelola hasil karet yang dihasilkan para petani secara maksimal,” harap Ajon. Dimilikinya pabrik karet daerah ini akan menimbulkan berbagai nilai positif yang akan diperoleh. Selain memudahkan pemasaran karet bagi para petani, keberadaan pabrik karet akan mampu meningkatkan PAD Bengkayang. Ketersediaan lapangan kerja, harga yang terjamin, dan banyak lagi. “Tantangan dari Pemda Bengkayang adalah bagaimana untuk mendatangkan investor yang bersedia menjadikan karet sebagai SDA yang mampu meningkatkan taraf hidup petani karet dengan mendirikan pabrik karet,” terang Markus. Berdasarkan pengakuan kedua petani tersebut, selama ini pengelolaan hasil karet didaerah ini masih didominasi beberapa pemilik modal lokal. Dimana akibat yang ditimbulkan, harga karet ditentukan sendiri oleh para pembeli lokal. Kesulitan lainnya adalah para pemilik modal lokal hanya bersedia membeli karet pada hari-hari tertentu. “Kondisi seperti itu sangat menyulitkan petani karet,” tandas Markus.

Target Produksi Karet Bengkayang Hanya 30 Persen

Setakat ini, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bengkayang memaparkan luas lahan perkebunan karet di Bumi Sebalo seluas 51.500 Hektar yang tersebar di 17 Kecamatan. Dari luas lahan tersebut, pada tahun 2009, sekitar 30 ribu hektar lahan perkebunan mampu memproduksi karet sebesar 21.790,4 ton. Dimana rata-rata perhektar menghasilkan 716 Kg.

“Ini berarti, target produksi yang diharapkan dalam tiap Hektar kebun karet baru mencapai 30 persen pertahunnya,” Demikian papar Kepala Bidang Perkebunan, Marhaban, Selasa (31/5) diruang kerjanya. Marhaban menjelaskan, target yang diharapkan mampu dihasilkan dari para petani karet dalam tiap hektar kebun mereka adalah 2 ton/tahun. Dimana dengan demikian hasil karet tersebut selain dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, juga dapat menjamin ketersediaan bahan baku karet. Apalagi bila nantinya dibangun pabrik karet. Dengan produksi yang dicapai itupula, Marhaban mengatakan, paling mampu daerah ini mendirikan Crumb rubber mini. Ini berarti untuk membangun pabrik skala besar tentunya produksi karet yang demikian tidak mampu untuk memenuhi ketersediaan bahan baku. Ditanya mengenai kendala yang dihadapi petani sehingga produksi karet yang dimiliki belum mencapai target, Marhaban menyebutkan sedikitnya ada empat hal pokok yang paling mendasar. Diantaranya masih minimnya pengetahuan petani dalam melakukan pengelolaan terhadap tanaman karet, Sistem Penyadapan yang tidak sesuai dengan prosedur, sebagian besar tanaman karet saat ini bukan berasal dari penggunaan bibit unggul (okulasi) dan pemupukan. Produksi karet di Bengkayang menurut Marhaban mampu menjadikan daerah ini sebagai penyumbang keempat terbesar di Kalbar dibawah Sanggau, Sintang, Landak yakni sebesar 9,07 persen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s