Bupati dan Wabup Nyoblos di TPS Berbeda


Dua pejabat teras Bengkayang, yakni Bupati dan Wakil Bupati Bengkayang, Jacobus Luna dan Suryadman Gidot akan menggunakkan hak pilihnya pada Pemilukada Bengkayang 2010 hari ini, Rabu (19/5) pada Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang berbeda.
Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Bengkayang, Edison menyebutkan Bupati Bengkayang akan menyalurkan hak pilihnya di TPS 11 Rangkang Sekayok, dengan Nonon Ediyanto sebagai Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Sementara itu Wakil Bupati akan menyalurkan suaranya di TPS 06 Rangkang. Keduanya berada di Kelurahan Sebalo. Dikatakan Edison, meski keduanya merupakan pejabat didaerah ini, namun berdasarkan aturan, keduanya tidak diberi keistimewaan tertentu dalam tata cara pemungutan suara. “Tidak ada keistimewaan bagi keduanya, artinya mereka sama dengan pemilih yang lain. Apabila sudah waktu pemungutan suara dimulai, para pemilih yang lebih dahulu datang ke TPS, merekalah yang dulu memilih,” terang Edison.
Khusus Kecamatan Bengkayang, Edison menyebutkan diwilayah kerjanya tersebut memiliki 55 TPS dari 2 Kelurahan, Sebalo dan Bumi Emas dan 4 Desa, Tirta Kencana, Bhakti Mulya, Setia Budi serta Bani Amas dengan jumlah pemilih secara keseluruhan adalah 14.175 Pemilih.

Dinas Pendidikan Bengkayang Harus Bijak



Pemda Bengkayang dalam hal ini Dinas Pendidikan diharapkan mampu mengambil keputusan yang bijak terkait permasalahan pendidikan yang ada didaerah ini, terutamanya mengenai ketersediaan tenaga guru didaerah pedalaman. Dimana kondisi yang terjadi saat ini, masih banyak sekolah didaerah pedalaman maupun perbatasan yang kekurangan tenaga pengajar (guru), khususnya yang berstatus PNS. “Dinas Pendidikan harus bijak melihat kondisi ketersediaan guru pada sekolah-sekolah yang berada didaerah pedalaman maupun perbatasan, dimana guru-guru yang berstatus PNS sangat minim,” terang Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Tingkat SMP/MTs Bengkayang, Gustian Andiwinata kepada wartawan ini, Selasa (31/5) di Bengkayang. Perlunya penempatan guru didaerah yang disebutkannya tadi adalah guna meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada didaerah tersebut. Gustian mencontohkan seperti yang terjadi di SMPN 1 Siding, di Sekolah ini, Gustian menyebutkan hanya terdapat 1 guru yang berstatus PNS. Tak berbeda dengan sekolah yang menaunginya, SMPN 3 Seluas, dimana itu hanya terdapat 5 orang guru PNS dan 11 sisanya merupakan guru honor. Padahal, untuk tingkat SMP, ketersediaan guru harus disesuaikan dengan bidang studi yang tercantum dalam kurikulum sekolah. Dari 5 orang guru berstatus PNS ini, 3 diantaranya merupakan guru bidang studi Matematika, 1 guru Bahasa Inggris dan 1 guru IPS. Sementara bidang studi IPA dan Bahasa Indonesia yang turut di-UAN-kan tak dimiliki. “Kondisi ini ini tidak terlepas dari adanya penumpukkan guru (PNS) didaerah perkotaan,” sebutnya. Menutupi permasalahan guru pada sekolah yang dipimpinnya itu, Gustian mengatakan pihak sekolah mengambil kebijakan dengan memberdayakan 11 tenaga guru honor masing-masing bidang studi dan 2 orang tenaga Tata Usaha (TU) honorer. Dimana 13 tenaga honor tersebut pembiayaannya dibebankan pada dana BOS yang diperoleh sekolahnya.

Sudah Saatnya Bengkayang Miliki Pabrik Karet



Bengkayang sebagai daerah hasil pemekaran kabupaten Sambas 11 tahun lalu memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, baik berupa SDA yang dapat diperbarui maupun tak dapat diperbarui (tambang). Salah satu SDA yang dapat diperbarui itu adalah hasil karet. Tanaman yang berasal dari Negara Brasil yang dibawa Kolonial Belanda ke
Ndonesia ini merupakan tanaman yang menjadi sumber pendapatan sebagian
besar petani didaerah ini. Ajon, salah seorang petani karet asal Kecamatan Lumar mengaku sejak kecil pendapatan orang tuanya sebagian ditopang dengan penghasilan menyadap karet selain dari berladang dan menambang emas secara manual (mendulang). Ajon lahir tahun 1968. Naik turun harga karet telah dirasakannya. Bahkan saat ini, dirinya masih menggantungkan diri dengan hasil menyadap karet untuk membiayai hidup keluarga, termasuk biaya sekolah anaknya yang saat ini sudah duduk dibangku SMA. Markus, petani karet asal Lembah Bawang, sejak tahun 1990-an telah menikmati hasil dari kebun karet yang berasal dari bantuan pemerintah. Karet Unggul. Naik turun harga karet sudah dirasakan. Pengalamannya, pernah berhenti menyadap karet akibat harga yang sangat rendah. Namun ketika harga karet naik, Ia kembali menoreh. Dengan hasil karet, Markus mampu menghidupi dan menyekolahkan 4 orang anaknya. Ketergantungan kedua orang tersebut memunculkan harapan terhadap pemerintah Bengkayang terhadap kondisi mereka sebagi petani karet. Harapan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf perekonomian mereka. “Sudah saatnya Bengkayang memiliki pabrik karet sendiri sehingga mampu mengelola hasil karet yang dihasilkan para petani secara maksimal,” harap Ajon. Dimilikinya pabrik karet daerah ini akan menimbulkan berbagai nilai positif yang akan diperoleh. Selain memudahkan pemasaran karet bagi para petani, keberadaan pabrik karet akan mampu meningkatkan PAD Bengkayang. Ketersediaan lapangan kerja, harga yang terjamin, dan banyak lagi. “Tantangan dari Pemda Bengkayang adalah bagaimana untuk mendatangkan investor yang bersedia menjadikan karet sebagai SDA yang mampu meningkatkan taraf hidup petani karet dengan mendirikan pabrik karet,” terang Markus. Berdasarkan pengakuan kedua petani tersebut, selama ini pengelolaan hasil karet didaerah ini masih didominasi beberapa pemilik modal lokal. Dimana akibat yang ditimbulkan, harga karet ditentukan sendiri oleh para pembeli lokal. Kesulitan lainnya adalah para pemilik modal lokal hanya bersedia membeli karet pada hari-hari tertentu. “Kondisi seperti itu sangat menyulitkan petani karet,” tandas Markus.

Target Produksi Karet Bengkayang Hanya 30 Persen

Setakat ini, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bengkayang memaparkan luas lahan perkebunan karet di Bumi Sebalo seluas 51.500 Hektar yang tersebar di 17 Kecamatan. Dari luas lahan tersebut, pada tahun 2009, sekitar 30 ribu hektar lahan perkebunan mampu memproduksi karet sebesar 21.790,4 ton. Dimana rata-rata perhektar menghasilkan 716 Kg.

“Ini berarti, target produksi yang diharapkan dalam tiap Hektar kebun karet baru mencapai 30 persen pertahunnya,” Demikian papar Kepala Bidang Perkebunan, Marhaban, Selasa (31/5) diruang kerjanya. Marhaban menjelaskan, target yang diharapkan mampu dihasilkan dari para petani karet dalam tiap hektar kebun mereka adalah 2 ton/tahun. Dimana dengan demikian hasil karet tersebut selain dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, juga dapat menjamin ketersediaan bahan baku karet. Apalagi bila nantinya dibangun pabrik karet. Dengan produksi yang dicapai itupula, Marhaban mengatakan, paling mampu daerah ini mendirikan Crumb rubber mini. Ini berarti untuk membangun pabrik skala besar tentunya produksi karet yang demikian tidak mampu untuk memenuhi ketersediaan bahan baku. Ditanya mengenai kendala yang dihadapi petani sehingga produksi karet yang dimiliki belum mencapai target, Marhaban menyebutkan sedikitnya ada empat hal pokok yang paling mendasar. Diantaranya masih minimnya pengetahuan petani dalam melakukan pengelolaan terhadap tanaman karet, Sistem Penyadapan yang tidak sesuai dengan prosedur, sebagian besar tanaman karet saat ini bukan berasal dari penggunaan bibit unggul (okulasi) dan pemupukan. Produksi karet di Bengkayang menurut Marhaban mampu menjadikan daerah ini sebagai penyumbang keempat terbesar di Kalbar dibawah Sanggau, Sintang, Landak yakni sebesar 9,07 persen.

Kades Tiga Berkat Berkantor Dirumah Pribadi


Semenjak dilantik, Oktober 2007 hingga kini, Kepala Desa Tiga Berkat, Alan mengaku tidak pernah mengenyam enaknya berkantor Kantor Desa yang seharusnya menjadi tempat kerjanya. Sejak dilantik itupula, Alan menyebutkan rumah pribadinya merupakan kantor desa. Hal ini disebabkan karena pada pertengahan 2005 lalu, Kantor Desa yang sudah ada dibakar oleh oknum tak bertanggungjawab yang hingga saat ini tak mampu diungkapkan oleh pihak Kepolisian setempat. “Semenjak dilantik sebagai Kepala Desa saya memang menggunakan rumah pribadi sebagai tempat mengurus hal-hal yang berkaitan dengan administrasi desa karena ketiadaan kantor desa,” tegas Alan, Jumat (28/5) dikediamannya. Alan menyebutkan, semenjak dirinya diangkat sebagai Kepala Desa, pihaknya telah mengajukan kepada pemerintah (kabupaten) untuk mengalokasikan pembangunan kantor desa melalui Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang). Ajuan tersebut dimulai tahun 2008 dan 2009 lalu, kendati demikian sampai saat ini pihaknya belum menemukan titik terang dari pemerintah setempat akan pembangunan fasilitas desa itu. “Kita berharap dengan pergantian pemimpin (Bupati dan Wakil Bupati) kali ini, pembangunan kantor desa dapat direalisasikan. Dengan adanya kantor desa itupula kita berharap agar kinerja seluruh unsur pengurus desa dapat semakin meningkat dalam melayani masyarakat,” tandasnya. Apabila terwujud, Kantor Desa tersebut akan memfasilitasi 21 unsur pengurus Desa Tiga Berkat yang terdiri dari Kades, Sekretaris Desa, Bendahara Desa, 3 Kaur (Pemerintahan, Pembangunan dan Umum), 4 Kepala Dusun (Lumar, Madi, Sebol, Mabak), Ketua Adat dan 11 Ketua RT. Dari data Desa yang disampaikan, saat ini penduduk yang mendiami Desa Tiga Berkat sebanyak 2.162 jiwa.

DAD Bengkayang Harus Minta Maaf Kepada Publik


Atas pernyataan yang kurang pantas seperti yang dimuat disalah satu media cetak, edisi Senin (24/5),Dewan Adat Dayak (DAD) Bengkayang diharapkan untuk meminta maaf kepada publik, baik masyarakat Dayak Binua Palayo maupun masyarakat Bengkayang secara umum. Demikian ungkap salah seorang anggota LSM Pemuda Peduli Kabupaten Bengkayang (PPKB), Irawan, Rabu (26/5) kepada media ini di Bengkayang. “Sebagai bagian dari masyarakat Bengkayang, kami keberatan atas pernyataan Ketua I DAD Bengkayang, YN yang menyatakan pembuatan adat tersebut sebagai upaya untuk mengutuk oknum masyarakat bukanlah tindakan seorang pemangku adat,” terang Irawan.
Pria yang juga Ketua Nusantara Indonesia Corruption Watch (NCW) Bengkayang ini sangat menyayangkan pernyataan tersebut. Oleh karena itu, YN harus meminta maaf kepada masyarakat baik secara langsung ataupun melalui media. Dalam pemberitaan di media cetak tersebut, YN memberi pernyataan bahwa dibuatnya adat di kantor DPRD Bengkayang, Minggu (23/5) lalu dimaksud untuk mengutuk masyarakat yang berbuat anarkis hingga tujuh turunan, khususnya yang berbuat anarkis di Kantor KPU dua hari sebelumnya. Pernyataan itu dianggap menyinggung masyarakat Dayak Palayo khususnya serta masyarakat Dayak yang ada di Bengkayang umumnya. Ditemui terpisah, Ketua I DAD Bengkayang, YN dikediamannya, mengatakan apa yang dituduhkan kepadanya sangat tidak benar. YN mengatakan tak pernah membuat pernyataan bahwa pembuatan adat di Kantor DPRD itu untuk mengutuk masyarakat.
“Ritual adat yang dibuat di DPRD itu adalah ritual adat “Tolak Bala”. Adat tolak bala ini bukan sebagai adat untuk mengutuk seseorang atau oknum tertentu, melainkan untuk menolak malapetaka,” jelas YN. Karena, keesokannya, Senin (24/5) akan dilaksanakan rekapitulasi suara oleh KPU. Ditambahkannya, adat tolak bala itu juga digelar sebagai upaya meminta kepada Jubata atau Tuhan agar pelaksanaan Rekapitulasi berjalan aman dan lancar dan terhindar dari segala hal-hal yang tidak diinginkan. “Tidak benar itu. Kalau adapun itu termuat disalah satu media, mungkin itu salah ketik dari media terkait,” tegasnya. Meski demikian, YN tetap bersikap sportif, YN mengatakan meminta maaf apabila dalam penulisan di Media tersebut terdapat kata-kata yang kurang berkenan bagi masyarakat. Namun Ia tetap berteguh bila dirinya tak pernah membuat pernyataan yang mengutuk oknum masyarakat tertentu dalam pembuatan adat tersebut.

KPU Alami Kerugian Kurang Lebih 200 Juta



Pasca pengrusakan fasilitas Negara di Kantor KPU Bengkayang dalam aksi massa, Jumat (21/5) kemarin, Ketua KPU Bengkayang, Eddy A, menyebutkan kerugian materi yang dialami mencapai ratusan juta. “Akibat pengrusakan tersebut, kerugian kurang lebih 200 juta,” sebut Eddy, Minggu (23/5) di Bengkayang. Usai kejadian, Sabtu (22/5), anggota KPU, Tarmizi melakukan pendataan terhadap material yang rusak dikantor tersebut yang kemudian dijadikan sebagai bahan BAP kepada pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti. Komputer, kaca jendela, televisi, printer, lemari, meja, kursi, teralis pintu dan jendela, pendingin ruangan (AC), plang KPU, kotak suara, pipa air, merupakan beberapa materi yang dirusak pada saat aksi massa tersebut. Akibat kerusakan itu, untuk sementara kantor KPU Bengkayang masih belum bisa digunakan dalam menjalani aktivitas seperti biasanya. Dari pantauan langsung, kantor yang berdampingan dengan Kantor Pengadilan Negeri ini masih dijaga ketat oleh aparat keamanan.

Kajot : “Anarkis, Tembak Ditempat,”



Aparat keamanan diminta segera mengambil tindakan tegas apabila ditemui oknum yang bertindak anarkis dan mengancam keamanan pada saat pelaksanaan rapat Pleno penghitungan suara oleh KPU di Kantor DPRD, Senin (24/5).

“Apabila ada yang bertindak anarkis dan mengancam keamanan, diharapkan agar aparat keamanan dapat mengambil tindakan tegas, bila perlu tembak ditempat,” tegas Plt. Ketua DPRD Bengkayang, Martinus Kajot, Sabtu (22/5) dikediamannya.

Anggota DPD-RI asal Kalbar, Erma Suryani Ranik dihubungi via telepon seluler, Jumat (21/5) mengharapkan agar aparat keamanan memperketat keamanan dalam proses rekapitulasi penghitungan suara pemilukada Bengkayang. Erma juga meminta agar aparat kepolisian segera mengambil tindakan terhadap massa yang telah melakukan pengrusakan terhadap kantor KPU.

“Saya sangat kecewa dengan kejadian tersebut. Ini membuktikan bahwa para calon pemimpin daerah harus lebih bisa bersikap sebagai negarawan yang iklas menerima apapun hasil pilihan rakyat,” ungkapnya.

Menurut Erma, apabila memang ditemui adanya sebuah pelanggaran Pemilukada, seharusnya diselesaikan dengan jalur hukum, bukan dengan tindakan kekerasan. Secara pribadi, Erma mendukung tindakan yang diambil aparat keamanan pada saat pengamanan aksi di KPU kemarin. Sementara itu, Erma juga memberikan dukungan kepada anggota KPU agar jangan takut pada tekanan massa sepanjang KPU tidak melakukan pelanggaran hukum dan bersikap netral.

Ketua Pajanang Dewan Adat Dayak Banyadu, Fabianus Oel yang ditemui dikediamannya, Sabtu (22/5) mengutuk keras tindakan anarkis yang dilakukan oknum pengunjuk rasa atas pengrusakan kantor KPU. Hal itu menurutnya sebagai sebuah tindakan yang tidak menunjukkan sebuah kedewasaan dalam berpolitik. Berkaitan dengan aksi kemarin, Fabianus mengharapkan agar masing-masing kandidat Bupati dan Wakil Bupati yang baru saja selesai bertarung dapat meredam apabila upaya tindakan kekerasan yang hendak dilakukan simpatisan masing-masing.

Gustian, salah seorang Tokoh Masyarakat Kecamatan Seluas dihubungi, Sabtu (22/5) meminta agar Kapolda Kalbar agar tetap konsisten dengan komitmen awal Beliau yang menyatakan akan mengambil tindakan tegas terhadap pelaku yang bertindak anarkis dan berusaha menggagalkan pemilukada.

“Selain itu, kami sebagai masyarakat meminta agar Kapolda Kalbar dapat mencari dan mengambil tindakan terhadap aktor intelektual dibalik aksi tersebut,” pinta Gustian. Sebab menurutnya, tindakan pengrusakan kantor KPU telah mencoreng pesta demokrasi di Bumi Sebalo.

Sementara Sekretaris Daerah Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) dan juga pengurus Ormas Nasional Demokrat Bengkayang, Yulius David mengharapkan kepada pihak-pihak yang bertikai dapat menghargai proses demokrasi yang baru saja dilalui.

“Hasil Pemungutan Suara 19 Mei, kemarin merupakan awal barometer pembangunan daerah lima tahun kedepanga, sebab hal itu menunjukkan berjalannya proses demokrasi di Bengkayang,” jelas David.

Lagipula, apa yang telah terjadi, itu merupakan sebuah pilihan rakyat yang menyatakan berjalannya proses demokrasi. Dikatakan juga, seharusnya pihak yang bertikai mampu mengkedepankan supremasi hukum sebagai landasan dalam mengambil tindakan.

“Bagaimanapun, kita adalah saudara. Mari kita membangun Bengkayang tercinta ini bersama-sama dengan penuh semangat nasionalisme, terbuka dan menyeluruh demi kemajuan daerah kita,” tandas Yulius.