Profil KRISANTUS, S.Sos


KRISANTUS, S.Sos

KRISANTUS, S.Sos

Nama Lengkap : KRISANTUS, S.Sos Tempat & Tanggal Lahir : Sebol, 26 Juli 1984 Jenis Kelamin @ Laki-laki Pekerjaan @ Wartawan Jabatan Organisasi @ Ketua DPC Serikat Buruh HUKATAN SBSI Kabupaten Bengkayang (2012-2016) Continue reading

Advertisements

Selisih Perolehan Suara Jokowi vs Prabowo 2014


UTUSAN RAKYAT, Jakarta – Seperti diketahui, Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 kembali mempertemukan pertarungan wajah lama pada 2014 silam, yakni Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo.

Pada 2014, berdasarkan penghitungan suara yang dikumpulkan di 33 provinsi, Jokowi-Kalla unggul di 23 provinsi dengan mendapatkan 53,15% atau 70.633.576 suara. Sedangkan, Prabowo-Hatta Rajasa meraih 46,85 % atau 62.262.844 suara di 10 provinsi, yang membuat Jokowi unggul 8.370.732 suara atas Prabowo.

Berikut kantong suara Jokowi dan Prabowo pada Pilpres 2014:

Jokowi:

Sumatra Utara, Jambi, Bengkulu, Lampung, Babel, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Maluku, Papua, dan Papua Barat.

Daerah dengan suara terbanyak:

Sumatra Utara 55,23 persen, Sulawesi Selatan dengan 71,43 persen, Papua dengan 73,16 persen, Papua Barat dengan 67,51 persen, dan Jawa Tengah dengan 66,65 persen.

Prabowo:

Sumatra Barat, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sumatera Selatan, Banten, Maluku Utara, Kalimantan Selatan, Aceh, Riau

Daerah dengan suara terbanyak:

Sumatra Barat dengan suara 76,92 suara, Jawa Barat dengan 59,78%, dan NTB dengan 72,45%.

Sumber : Tempo
Editor : Nancy Junita

Tag : Pilpres 2019

Selamat Jalan (Bapak) Max Yusuf Alkadrie


Sepenggal kenangan dari kerabat yang pernah mengenal Almarhum.

MUHLIS SUHAERI

Selamat Jalan Bang Max Yusuf Alkadrie

Hari ini, ada banyak cerita duka. Ada salah satu pendiri AJI, Ging Ginanjar meninggal. Kabar terbaru, rekan, sahabat, abang: Max Yusuf Alkarie, meninggal dunia di Rumah Sakit Otak Nasional, Jakarta, pukul 11.25 WIB.

Saya biasa memanggilnya, Bang Max. Ia selalu menyebut saya, Adinde. Ia lahir 11 Januari 1949.

Bang Max dekat dengan banyak anak muda. Ia selalu mendukung kegiatan anak muda. Siapa pun itu. Tanpa memandang status sosial, etnis dan agama, anak muda itu.

Ia tipikal orang yang terbuka pada keberagaman.

Saya mengenal Bang Max, saat pindah ke Pontianak, 2005. Sebelumnya, saya tinggal, kuliah dan bekerja di Jakarta. Dia kebetulan satu organsasi dengan mertua saya, Basrin Nur Bustan di GMNI. Mertua saya, hingga akhir hayatnya, anggota PNI, dan selalu berapi-api saat bicara mengenai Sukarno. Marhaenis tulen.

Pertemuan dengan Bang Max, saat ia datang ke tempat kerja saya di sebuah media lokal di Pontianak, pada sebuah malam. Pembicaraan yang awalnya biasa, menjadi semakin seru dan akrab, saat dia bertanya tentang pandangan saya tentang beragam hal. Mulai dari profesi, media atau situasi terkini di Kalbar. Apalagi saat ia tahu, saya menantu Pak Basrin, seniornya di GMNI.

Dari Bang Max, saya jadi lebih banyak tahu, siapa itu Sultan Hamid II (1913-1978). Ia Sekretaris Pribadi Sultan Hamid II. Bang Max selalu bercerita tentang Sultan Hamid II, dan perannya dalam sejarah Kalbar dan Indonesia. Cara dia bercerita selalu bersemangat. Padahal, dalam keseharian, ia selalu kalem dan santun, saat berbicara.

Ia juga mengirim buku tentang Sultan Hamid II. Ada 4 judul buku tentang Sultan Hamid II, dikirim ke rumah.

Melalui Yayasan Sultan Hamid II yang didirikannya, dia terus berupaya, agar sejarah ‘yang telah dibelokkan’ mengenai peran Sultan Hamid II, mulai terbuka. Seperti ditulis dalam sejarah, Sultan Hamid II, diangkat sebagai Menteri Negara Zonder Porto Folio. Ia diberi tugas merancang lambang negara, dasarnya, Kepres RIS/2/1949.

Namun, Sultan Hamid II dipenjara selama 10 tahun, karena dianggap mendukung pemberontakan APRA II, Raymond Westerling, Januari 1959. Pengadilan itu tidak pernah bisa membuktikan, keterlibatan Sultan Hamid II dalam peristiwa APRA.

Tapi, sejarah terlanjur lancung. Nama Sultan Hamid II, terlanjur gelap dalam sejarah bangsa. Dan, Bang Max melalui yayasannya, sedikit demi sedikit membuka takbir itu. Sisi gelap sejarah mulai terbuka, dengan pembahasan akademik melalui seminar.

Dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk pengakuan Sultan Hamid II, sebagai perancang Lambang Negara Pancasila sudah dikirim ke pemerintah.

“Pemerintah semestinya mengangkat Sultan Hamid II sebagai Pahlawan Nasional. Sama seperti yang sudah dilakukan kepada Wage Rudolf Supratman, sang pencipta Lagu Kebangsaan Indonesia,” kata Bang Max, suatu saat, ketika bertemu dengan saya.

Saya mengamini perkataannya.

Pada 26 Agustus 2016, Mendikbud Muhajir Effendi dengan Surat Keputusan (SK) Nomor 204 Tahun 2016, menyetujui rancangan sketsa asli atau rancangan final, Elang Rajawali Garuda Pancasila, lambang negara yang sudah disposisi Presiden Sukarno, ditetapkan sebagai Cagar Budaya Tingkat Nasional.

Artinya, pengakuan untuk Sultan Hamid II sebagai Pahlawan Nasional, tinggal selangkah lagi. Namun, engkau tidak bisa menyaksikan jalan panjang dan rintisan yang sudah kau mulai tersebut.

Kini, beristirahatlah dengan tenang, Bang. Semoga, apa yang sudah engkau rintis tersebut, menemukan jalan pengakuan…

Cc Max Jusuf Alkadrie, Ratu Rizki Alkadrie, Anshari Dimyati.

2. BAMBANG BIDER

Sungguh terkejut saya membaca status beberapa teman hari ini.

Betapa tidak salah seorang tua dan tokoh kita di Kalbar telah menghadap haribaan Tuhan Yang Maha Esa. Beliau Max Yusuf Alkadrie. Salah seorang pelaku sejarah penting dan teman diskusi yang berpandangan terbuka.

Saya memanggilnya Om Max Jusuf Alkadrie dan almarhum memanggil saya Ananda. Tanggal, 16 Januari 2019 lalu almarhum sendiri masih memberi informasi terkait kondisinya melalui inbox akun FB saya.

Almarhum Om Max Jusuf Alkadrie ketika itu tahun 2004 adalah seorang Demokrat.

Bahkan beliau yang mendampingi Pak SBY ketika menerima gelar Dato Widya Negara dari kerabat Istana Kadriyah Pontianak Kalimantan Barat tahun 2004.

Pesan almarhum, jika AHY berkunjung ke Kalbar, almarhum berharap AHY dapat pula mengunjungi Istana Kadriyah.

Hanya doa tulus yang dapat saya dan keluarga panjatkan, kiranya Tuhan memberikan tempat terbaik untuk almarhum.

Selamat jalan Om Max Jusuf Alkadrie..

IRFAN RAMLI

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun,
Satu lagi senior, guru dan sahabat kita berpulang ke Rahmatullah. Selamat Jalan Pak Max Jusuf Alkadrie.

MUHAMMAD MERZA BERLIANDY

innalillahi wa innalillahi rojiun,

Selamat jalan om Max Jusuf Alkadrie, Max Jusuf ( Dewan Pembina DPP PFKPM )

semoga amal ibadah almarhum di terima Allah Swt, dan di tempatkan sebaik baik di sisi Nya,
dan keluarga yg di tinggalkan di beri ketabahan.
amin

Allahummagfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa ‘fu’anhu wakrim nuzulahu wa wasi’ madkholahu wagsilhu bilma’i watsalju wal bardi wa naqqihi minadzunubi walkhotoyaya kama yunaqqi atssaubulabyadhu binaddanasi wa abdilhu daaron khoiron min daarihi, wahlan khoyron min ahliho, wa zaujan khoyron min zaujihi waqihi fitnatalqobri wa ‘adzabi nnar.

SANGGAR KIJANG BERANTAI

Innaillah Wa Innailaihi Raji’un.
Telah berpulang ke rahmatullah Kakek sekaligus Guru/Penasehat kami tercinta atok “Max Yusuf Alkadrie” Max Jusuf —

hari ini, Senin-21 Januari 2019 sekitar jam 11.00wib siang di Jakarta.

Mohon doa, keikhlasan, dan ampunan untuk Atok kamib🙏🏼😢

cc: Yeti Alkadrie

MAROTE ISMAIL

Nama Om Max tidak begitu asing bagiku. Bahkan sebelum bergabung dengan Pontianak Post di awal 2003 dulu. Namun aku baru benar-benar bertemu muka dengan Beliau sekitar pertengahan 2006. Saat itu, sedang berlangsung Musyawarah Wilayah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Hotel Kapuas Palace Pontianak. Aku yang kala itu sedang melakukan kegiatan peliputan, tidak menyadari kehadiran Beliau di arena musyawarah tersebut. Hingga akhirnya salah seorang redakturku yang juga pengurus PPP Kalbar, Oka Holdi Bulhasan, mendatangi seorang lelaki parohbaya berkepala pelontos dan berkaca mata di sekitar lobi hotel. Dia begitu menghormati lelaki berpenampilan sederhana tersebut. Tak hanya menyapanya, dia juga menyalami serta mencium tangan lelaki yang didatanginya itu. Kudekati redakturku tersebut, kemudian bertanya kepadanya dengan nada berbisik.
“Siape Beliau Pakji?” tanyaku.
“Om Max, tak kenalkeh kau?” tanya dia kembali.
“Alamak, tak tau saye, mane saye pernah ketemu dengan Beliau Pakji,” belaku.
Sejurus kemudian, aku pun mendatangi lelaki dimaksud. Kusalami dan kucium tangannya, sebagaimana yang dilakukan redakturku.
“Siape ni Di?” tanya dia kepada redakturku.
“Ote Om, wartawan kite, kebetolan die ni wartawan politik,” jelas dia kepada lelaki tua tersebut. Sementara aku hanya tersenyum sambil sedikit menundukkan kepala kepada lelaki yang kemudian kukenal sebagai Om Max tersebut.
“Minta nomor kau te,” ucap Om Max kepadaku.
“Siap Om,” ujarku sambil menyebutkan nomor narahubungku ketika itu. Dia kemudian melakukan panggilan terputus ke nomorku.
“Itu nomor saye ye, kau simpan,” ucap dia kemudian.
“Siap Om,” kataku lagi.
Selepas pertemuan tersebut, aku menjadi lebih sering berkomunikasi dengan Beliau. Beliau kerap memberikan informasi yang bisa kugarap untuk dijadikan berita. Atau mengkritisi beberapa penulisanku, terutama menyangkut hal-hal mengenai cerita dalam lingkup Kesultanan Kadriah Pontianak. Maklum, Beliau juga merupakan bagian dari Keluarga Besar Kesultanan Pontianak, bergelar Pangeran Jaya. Bahkan, Beliau merupakan sekretaris pribadi Sultan Hamid II.
Satu cita-cita Beliau yang sampai hari ini belum berhasil terwujud. Yakni menjadikan Sultan Hamid II diakui sebagai pahlawan nasional oleh negara. Cita-cita yang dibawa Beliau hingga akhir hayatnya. Hingga Allah SWT memanggilnya siang ini, menghadap-Nya. Lelaki enerjik tersebut pergi memenuhi panggilan-Nya.
Semoga cita-cita itu tak ikut terkubur bersama Beliau. Selamat jalan Om Max Jusuf Alkadrie. Selamat jalan…

Untuk Om Max Jusuf Alkadrie yang wafat di Jakarta siang ini, 21 Januari 2019, Alfatehah…

Kriteria Kelulusan CPNS Ditentukan Melalui Perangkingan


UTUSAN RAKYAT, Bogor – Kabar gembira bagi peserta seleksi CPNS yang tidak memenuhi kriteria kelulusan pada Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) beberapa waktu lalu. Pemerintah secara resmi mengeluarkan aturan terkait kelulusan SKD CPNS 2018. Aturan tersebut tertuang dalam Permen PANRB No 61 Tahun 2018 yang mana dalam aturan itu pemerintah memutuskan menggunakan sistem perangkingan untuk bisa mengikuti tahapan selanjutnya, yakni Seleksi Kompetensi Bidang (SKB).

“Namun teknis pengumumannya akan ditentukan oleh Badan Kepegawaian Negara,” tegas Men PANRB, Syafruddin, Rabu (21/11) di Istana Bogor.

Dalam PermenPANRB ini di pasal 2 disebutkan peserta SKB terdiri atas peserta SKD yang memenuhi passing grade dan peserta SKD yang tidak memenuhi passing grade namun memiiliki peringkat terbaik dari angka kumulatif SKD sesuai yang diatur dalam peraturan menteri.

Penjelasannya, peserta SKD yang tidak lolos passing grade tapi bisa ikut SKB yakni dengan ketentuan:

– Nilai kumulatif SKD formasi umum paling rendah 255.

– Nilai kumulatif SKD formasi umum untuk jabatan dokter spesialis dan instruktur penerbang paling rendah 255.

– Nilai kumulatif SKD formasi umum untuk petugas ukur, rescuer, anak buah kapal, pengamat gunung api, penjaga mercu suar, pelatih/pawang hewan dan penjaga tahanan paling rendah 255.

– Nilai kumulatif SKD formasi putra putri lulusan terbaik (cumlaude) dan diaspora paling rendah 255.

– Nilai kumulatif SKD formasi penyandang disabilitas paling rendah 220.

– Nilai kumulatif SKD formasi putra/putri Papua dan Papua Barat paling rendah 220.

– Nilai kumulatif SKD formasi tenaga guru dan tegana medis/paramedis dari eks tenaga honoer K-II paling rendah 220.

Namun, ketentuan itu diberlakukan dengan dua ketentuan. Pertama, jika tidak ada peserta yang lolos passing grade pada formasi yang dibutuhkan. Kedua, belum terpenuhinya jumlah peserta SKD yang lolos passing grade sesuai Permenpan RB No 37 Tahun 2018.

Aturan baru ini dikelurkan untuk merespons minimnya peserta SKD yang lolos passing grade CPNS 2018.

Minimnya peserta lolos passing grade CPNS 2018 membuat banyak formasi CPNS 2018 terancam kosong. Selain itu, minimnya tingkat kelulusan SKD juga membuat ketentuan Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) yang mensyaratkan peserta SKB sebanyak 3 kali jumlah formasi tak terpenuhi.

Sumber :

  • tribunnews.com
  • Internet

Porprov XII : Lima Cabor, Tempatkan Bengkayang di Peringkat Enam


UTUSAN RAKYAT, Pontianak – Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalbar ke-XII 2018 hingga hari ini, Rabu (21/11) masih berlangsung. Kota Pontianak masih memimpin peraih medali.

Sementara, Kontingen Bengkayang hingga pukul 11.30 WIB berhasil melampaui pencapaian medali pada Porprov XI, empat tahun silam dengan 15 Medali emas.

“Total sudah 15 Medali emas yang berhasil diraih para Atlet,” ungkap Koordinator Tim, Sutrisno, M.Pd dikonfirmasi melalui media, Rabu (21/11) di Pontianak.

Perolehan 15 Medali emas tersebut berasal dari lima Cabang Olahraga (Cabor), yakni Atletik (7), Aeromodeling (4), Billiar (2), Selam (1) dan Wushu (1). Raihan ini sementara telah melampaui perolehan 13 Medali emas pada ajang yang sama 2014 silam. Cabor Atletik, Aeromodeling, Selam masih jadi penyumbang tetap. (Krisantus).

Porprov 2018 : Tim Futsal Putri Bengkayang, Lolos Semifinal


UTUSAN RAKYAT, Pontianak – Tim Futsal Putri yang mewakili Kabupaten Bengkayang diajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2018 berhasil memasuki babak semifinal. Hasil ini tak lepas dari hasil pertandingan terakhir antara Tim Futsal Ketapang vs Melawi yang berakhir dengan skor sama kuat, 2-2.

Tim Futsal Bengkayang yang berada di grup B bersama Ketapang dan Melawi lolos sebagai runner up setelah pada pertandingan perdana, Sabtu (10/11) meraih kemenangan dengan skor 4-2 versus Melawi. Sedangkan pada pertandingan kedua, kalah dengan skor 2-0 versus Ketapang. Dengan demikian, Ketapang berhasil memuncaki grup B dengan poin 4, Bengkayang 3 dan Melawi 1.

“Selanjutnya pada babak Semifinal, Tim Bengkayang akan menghadapi Kota Pontianak,” ungkap Pelatih Tehnik, Decolas, Senin (12/11).

Sementara itu, Pelatih Tim Futsal Putri Bengkayang, Benediktus Iwan, S.Pd menyebutkan tim yang dipimpinnya siap menghadapi Tim manapun untuk meraih hasil yang maksimal, termasuk Kota Pontianak.

“Target awal kita adalah perunggu. Sekarang ada peluang untuk dapatkan hasil yang lebih maksimal (perak atau emas),” jelasnya.

Pertandingan babak semifinal sendiri akan dilangsungkan pada hari Kamis, 14/11) di GOR Pangsuma Pontianak. Doa dan dukungan dari masyarakat Bengkayang akan membantu Tim ini mengukir prestasi.

“Nanti, untuk menghadapi Tim Kota Pontianak, kita akan berbenah dan tentunya strategi kita akan berbeda dari dua pertandingan sebelumnya,” tambah Manejer Tim, Jonedhi. Perlu strategi berbeda, menurut pria yang akrab disapa itu karena pihaknya menilai Kota Pontianak adalah tim yang kuat dan terlebih dahulu mengenal olahraga futsal.

“Pokoknya tim ini akan all out untuk mencapai target yang lebih tinggi guna mengharumkan nama daerah,” tutup pria yang juga terdaftar sebagai Caleg Nomor urut 9 Partai Demokrat Dapil Bengkayang 2.

Bekas Pembalut Direbus, Lalu Diminum : Fly


UTUSAN RAKYAT, Bengkayang- Fenomena baru dikalangan anak-anak muda baru-baru ini diungkapkan oleh BNN Jawa Tengah terkait penggunaan air rebusan bekas pembalut wanita sebagai alternatif untuk mendapatkan efek seperti mengkonsumsi Narkoba.

“Minum air pembalut menjadi salah satu alternatif remaja untuk mendapatkan efek seperti konsumsi Narkoba,” ungkap Kabid Pemberantasan BNN Jawa Tengah, AKBP Suprinarto.

Selain ditemukan di Jawa Tengah, fenomena ini juga, Deputi Bidang Pemberantasan BNN, Irjen Arman Depari menyebutkan mabuk dengan cara ini juga ditemukan dibeberapa daerah termasuk Jakarta dan Jawa Barat.

“Tidak hanya di Jawa Tengah, tapi di Jawa Barat dan sekitar Jakarta juga,” kata Arman di Kantor BNN, Cawang, Kamis (8/11).

Lebih lanjut, Arman memaparkan apabila pada saat ini BNN tengah mendalami berbagai aspek, termasuk kandungan zat didalamnya dan hukum penggunaannya. BNN juga masih meneliti dampak penggunaan air rebusan pembalut untuk teler.

Sumber :

CNN Indonesia

Tribun Kaltim

Jawapos

Kades se-Kecamatan Teriak, Siap Jadi Tuan Rumah


Utusan Rakyat, Teriak – Menyambut pelaksanaan HUT Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK serta Pameran Pembangunan HUT Pemda Bengkayang tahun 2019, para Kades dari 18 Desa yang ada, menyatakan kesiapannya sebagai tuan rumah.

“Harus siap,” demikian pernyataan para Kades yang hadir dalam rapat persiapan HUT HKG dan Pameran Pembangunan Pemda Bengkayang di Aula Kantor Camat Teriak, Selasa (16/10).

Kades Sekaruh, Sidik; Kades Tubajur, M. Ahin; Kades Puteng, Yohanes Ahin; pada kesempatan tersebut berpendapat, dengan adanya kegiatan akbar yang digelar di Kecamatan Teriak, diharapkan dapat memberikan dampak positif kepada hal-hal lain bagi pembangunan didaerah ini. Menurut mereka, melalui kegiatan besar itu, secara langsung pemerintah akan melihat kondisi daerah sehingga dapat menjadi perhatian.

“Untuk mensukseskan penyelenggaraan ini, dimohon kesiapan seluruh stakeholder yang ada di Teriak,” tegas Plt. Camat Teriak, Bapak Busmet, SP., M.Si.

Mengenai kondisi dilapangan saat ini, sedikitnya ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian terkait sarana dan prasarana, diantaranya jalan, jembatan, sarana air bersih maupun fasilitas penunjang lainnya. Disamping itu, kesiapan warga Teriak turut menjadi hal yang perlu diperhatikan.

“Jika mereka mau, Sumber Karya siap menyediakan homestay bagi peserta, juga tempat perlombaan,” tawar Kades Sumber Karya, Matius, SH.

Sementara itu, Kepala SDN 04 Sekaruh, Ibu Debora, mengingatkan agar persiapan harus dilakukan secara matang agar nantinya tidak memberikan kesan negatif yang dibawa pulang para peserta dari Teriak.

“Semua pihak harus bekerjasama agar pelaksanaan nanti berjalan sukses,” pintanya.